20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengharukan, Ini Cerita Tetangga Tentang Atlet Judo Miftahul Jannah

...

  • portalsatu.com
  • 11 October 2018 16:30 WIB

 Hj. Heni Helfira, tetangga Miftahul Jannah. @portalsatu.com/Suprian
Hj. Heni Helfira, tetangga Miftahul Jannah. @portalsatu.com/Suprian

BLANGPIDIE -  Atlet blind judo, Miftahul Jannah, yang menolak membuka hijab sehingga didiskualifikasi dari pertandingan Asian Para Games 2018, ternyata sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, gigih, gesit dan memiliki cita-cita mulia terhadap kedua orangtuanya.

“Dari kecil Miftahul Jannah bercita-cita ingin membawa kedua orangtuanya ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji,” kata Hj. Heni Helfira, warga Desa Padang Baru, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya, Kamis, 11 Oktober 2018.

Heni Helfira yang merupakan guru sekolah dasar (SD) di Abdya mengaku sejak tahun 1990 sampai saat ini bertetangga dengan orangtua Miftahul Jannah di kompleks basecamp, Desa Padang Baru, Susoh.

“Saya lama sekali bertetangga dengan orangtua Miftahul Jannah. Rumah kami berdekatan. Kami sama-sama tinggal di rumah dinas di komplek basecamp itu. Ayah Miftahul guru SDLB, ibunya guru ngaji, saya guru biasa,” ujar Heni

Heni menceritakan, Miftahul Jannah sejak masih kecil dikenal oleh warga desa sebagai anak yang salihah, taat kepada kedua orangtuanya, suka bergaul dengan anak-anak sebayannya, cerdas, gesit dan memiliki hobi olahraraga.

“Sejak dia masih duduk di bangku SDLBN, Miftah memang sudah sering mendapatkan mendali. Dia sudah sering dibawa ke pulau Jawa untuk mengikuti pertandingan olahraga,” jelasnya.

Setelah atlet kecil tersebut tamat pada SDLB Negeri Desa Pawoh, Kecamatan Susoh, lanjut Heni, Miftah meneruskan SMPLB ke Janto Aceh Besar, kemudian melanjutkan SMA hingga jenjang perguruan tinggi di pulau Jawa.

“Kalau kita pikir-pikir, Miftah tidak mungkin bisa sekolah ke pulau Jawa, sebab orangtuanya kita tahu tidak mampu, tinggal saja masih di rumah dinas, coba lihat rumahnya sekarang,” ujar Heni.

Sebagai tetangga dekat yang dianggap sudah menjadi famili, Heni mengaku dahulu pernah melarang Miftah sekolah ke pulau Jawa. "Selain tantangan yang berat, keadaan orangtuanya memang tidak mampu,” katanya.

“Dulu saya pernah bilang pada dia, itu Jakarta Miftah, jangan Miftah pergi , tantangan berat di sana, tetapi pendiriannya kuat sekali, dia tetap nekat pergi juga untuk sekolah,” cerita Heni.

Kepada sejumlah wartawan, Heni mengaku sempat mendengarkan kata-kata Miftah ketika ia pamit pada kedua orangtuanya saat hendak berangkat sekolah ke pulau Jawa.

“Miftah pamit, bu, ya. Miftah pergi karena ingin membahagiakan ibu dan ayah. Insya Allah, nanti jika Miftah sudah berhasil di sana, Miftah ingin membawa ayah dan ibu naik haji ke Tanah Suci Mekkah,” tutur Heni meniru kata-kata Miftah kala itu.

Heni mengaku sangat terkejut, dan langsung menyebut kebesaran Allah SWT., ketika dirinya mendengar nama Miftahul Jannah disebut-sebut dalam berbagai surat kabar dan televisi sejak beberapa hari terakhir ini.

Subhanallah, merinding saya ketika mendengar nama Miftahul Jannah harum di dunia. Ini kan di luar dugaan kita, tapi itulah kenyataan. Jika Allah SWT., berkehendak, secara tak disangka-sangka rezeki itu pasti datang,” tutur Herni.[](Suprian)

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.