12 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

Bersama Polisi, TNI dan Mahasiswa
Meuseuraya di Dua Kompleks Makam Peninggalan Sejarah, Ini Kata Cisah

...

  • PORTALSATU
  • 14 April 2018 14:10 WIB

@Dok. Cisah
@Dok. Cisah
@Dok. Cisah
@Dok. Cisah
@Dok. Cisah
@Dok. Cisah

LHOKSUKON – Central Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) meuseuraya di dua kompleks makam peninggalan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai, di Gampong Ujong Baroh dan Gampong Teungoh, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Jumat, 13 April 2018, sore. Salah satu nisan dalam kompleks makam kuno di Gampong Teungoh memuat identitas pemilik makam yang diperkirakan putri seorang raja asal Pulau Borneo dari suku Kayan.

Ketua Cisah, Abdul Hamid, mengatakan kali ini pihaknya meuseuraya (gotong royong) bersama personel Polsek dan Koramil Tanah Luas, Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa), mahasiswa KKN dari Unimal, geuchik, ketua pemuda, penjaga makam, dan masyarakat Gampong Ujong Baroh.

“Alhamdulillah semangat berbagai kalangan untuk pelestarian sejarah masih cukup besar,” ujar Abdul Hamid alias Abel Pasai dalam keterangannya diterima portalsatu.com, Sabtu, 14 April 2018.

Abel menjelaskan, peserta meuseuraya membersihkan dan menata seluruh nisan yang sebelumnya sebagian besar di antaranya terbenam di dalam tanah di dua kompleks makam berjarak sekitar 50 meter itu. “Hasil pendataan setelah meuseuraya, tim mencatat tidak kurang dari 74 nisan tipologi Pasai di dua kompleks pemakaman kuno ini,” katanya.

Abel merincikan, 34 nisan memiliki pasangan lengkap (34 x 2 = 68 nisan), dan enam nisan tidak ditemui pasangannya (68 + 6 = 74 nisan). Dari jumlah itu, kata Abel, tiga pasang nisan memuat tulisan Arab (inskripsi). Semua nisan di kompleks makam di Gampong Teungoh (10 nisan) dan Gampong Ujong Baroh (64 nisan), terbuat dari batuan beku jenis andesit.

“Salah satu nisan di kompleks makam di Gampong Teungoh yang memuat epitaf (identitas pemilik makam), telah dikaji oleh ahli epigrafi Cisah. Di situ tertulis nama seorang wanita yang merupakan anak dari seorang Raja (tokoh penting) di Pulau Borneo (Brunei) dari suku Kayan. Ini tentunya menambah catatan baru tentang nisan-nisan bertulis (berinskripsi) di kawasan heritage Samudra Pasai,” ujar Abel.

Menurut Abel, meuseuraya kali ini menjadi hari yang istimewa bagi tim Cisah karena bertepatan dengan milad ke-8 Cisah. “Kegiatan yang berakhir pada pukul 18.15 WIB itu bersamaan pula dengan masuknya pergantian hari dalam kalender Hijriyah berdasarkan hitungan Qamariyah, yaitu 27 Rajab yang oleh umat Muslim menjadi  hari perayaan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam,” katanya.

Abel menambahkan, Cisah mengemban tiga misi utama, yakni ekspedisi (melacak tinggalan sejarah), menginformasikan kepada masyarakat luas (publikasi), dan mengupayakan situs tersebut terawat, yang dalam hal ini diharapkan adanya peran pemerintah melalui dinas terkait.

Sementara itu, Ketua Pemuda Gampong Ujong Baroh, Razi, mengapresiasi meuseuraya di kompleks makam kuno tersebut. Dia juga akan membentuk tim kepemudaan untuk melacak berbagai potensi sejarah yang tersebar di kawasannya. Razi berharap pemerintah ikut mengambil peran dalam melakukan penyelamatan bukti sejarah.

“Karena ini semua (inskripsi terpahat pada nisan peninggalan sejarah Samudra Pasai) merupakan pesan penting pendahulu yang sengaja ditulis untuk anak cucunya. Kami sebagai penerus, sudah semestinya menyelamatkan berbagai peninggalan penting ini,” ujar Razi.[](rel)

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.