10 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Cisah, Pelisa, Aparatur Gampong, Babinsa dan Anggota Dewan
Meuseuraya di Kompleks Makam Tokoh Samudra Pasai Keturunan Rasulullah: Pembersihan Hingga Perbaikan Cungkup

...

  • PORTALSATU
  • 28 June 2020 17:35 WIB

Foto-foto: tim Cisah
Foto-foto: tim Cisah

SAMUDERA - Tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah) melakukan meuseuraya (gotong royong) di kompleks makam tokoh besar zaman Samudra Pasai keturunan Rasulullah SAW, dikenal sebagai Kompleks Makam Sayyid Syarif, di Gampong Mancang, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Ahad, 28 Juni 2020. Pasalnya, kondisi situs sejarah tersebut selama ini tampak tidak terawat. Selain banyak rerumputan, pagar kompleks makam sudah berkarat, dan cungkupnya bocor.  

Dalam meuseuraya itu, Cisah dibantu Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa), aparatur Gampong Mancang, Babinsa dari Koramil Samudera, dan didukung Terpiadi A. Majid, anggota DPRK Aceh Utara, yang menyediakan berbagai kebutuhan untuk kegiatan tersebut.

Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, menjelaskan di Kompleks Makam Sayyid Syarif itu dimakamkan tiga orang ahlulbait Rasulullah SAW sesuai keterangan pada epitaf di pusara mereka. Pertama, seorang yang alim, sempurna, mulia dan zuhud, bertakwa serta suci hatinya bernama Sayyid 'Imaduddin 'Ali Al Husainiy Al Hasaniy (wafat 19 Muharram 827 Hijrah). Kedua, seorang ulama bernama Sayyid Syarif  Mir Hasan bin Mir 'Ali Syir Al Abadiy (Syir Al Abadiy bermakna Kota Singa, sebuah wilayah terkenal di Afganistan), wafat pada 12 Rabiul Awal 833 Hijrah.

“Ketiga, seorang wanita mulia yang diyakini juga seorang ahlulbait, berlandaskan gelar Syarifah di pangkal namanya,” ujar Sukarna Putra.

Menurut Sukarna Putra, sejauh ini berdasarkan data sejarah yang dapat dipercaya, tokoh-tokoh dalam kompleks pemakaman tersebut merupakan keturunan Rasulullah SAW yang paling awal mendiami kepulauan ini (Samudra Pasai). “Dengan mengingat data historis yang begitu besar berada di tengah-tengah kita, sudah sepatutnya itu menjadi perhatian kita bersama. Karena sekarang kondisi kompleks makam tersebut dalam keadaan memprihatinkan, baik segi kebersihan area pemakaman, dan keamanan artefak itu sendiri,” tuturnya. 

Dia menyebutkan, meuseuraya itu diawali dengan samadiyah dan doa bersama dipimpin Tgk. Usman, Ketua Majelis Taklim di Kecamatan Samudera. Lalu, Cisah bersama Pelisa, aparatur Gampong Mancang, Babinsa, dan anggota DPRK Aceh Utara Terpiadi A. Majid, membersihkan area pemakaman. “Banyak semak belukar yang menutupi area pemakaman ini, baik rerumputan maupun pohon-pohon besar, semuanya kita bersihkan,” kata Sukarna Putra.

Selain itu, dua batu nisan yang terbenam beberapa centimeter ke dalam tanah, diangkat kembali ke permukaan. “Dua batu nisan itu adalah batu nisan tipologi Pasai. Itu merupakan batu nisan seorang tokoh perempuan, nama lengkapnya belum kita ketahui, tapi di awal atau pangkal namanya disebutkan bahwa beliau seorang yang afifah yang berarti wanita yang suci. Di bagian epitafnya juga disebut bahwa beliau seorang Syarifah, keturunan atau alulbait dari Rasululllah. Nisan bagian kepala dan kakinya yang terbenam kita angkat ke permukaan, kita lakukan penataan kembali,” ujar Sukarna Putra.

Sukarna Putra melanjutkan, pihaknya juga mengembalikan letak bagian puncak satu nisan marmer ke posisi asalnya. “Beberapa tahun lalu, puncak nisan ini salah dipasang, kita tidak tahu siapa yang memasang pada saat itu. Posisi aslinya sebenarnya puncak batu nisan itu milik Sayyid 'Imaduddin 'Ali Al Husainiy Al Hasaniy, tapi dipasang pada nisan Sayyid Syarif Mir Hasan bin Mir 'Ali Syir Al Abadiy. Jadi, puncak batu nisan itu sudah kita kembalikan pada posisi yang benar, karena hari ini kita sudah mendapatkan izin dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara dengan tembusannya kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh,” ungkapnya.

Kegiatan lainnya dalam meuseuraya itu, pengecatan kembali pagar kompleks makam yang tiang-tiangnya sudah sangat kusam dan berkarat. “Kita juga memperbaiki cungkup (bangunan beratap sebagai pelindung makam) yang sudah bocor dengan memasang 10 lembar seng baru,” ujar Sukarna Putra.

Ketua Cisah, Abdul Hamid, menambahkan meuseuraya ini inisiatif Terpiadi A. Majid, anggota DPRK Aceh Utara. “Berawal dari keprihatinan beliau setelah melihat kondisi beberapa situs sejarah Samudra Pasai yang kurang terpelihara atau tidak terawat sebagaimana mestinya. Kondisi itu beliau saksikan saat berziarah bersama tamu dari luar Aceh yang merupakan temannya ke sejumlah kompleks makam tinggalan Samudra Pasai di Kecamatan Samudera beberapa waktu lalu”.

“Sehingga, Cek Ter (Terpiadi) menghubungi Cisah dan mengajak untuk bergotong royong melakukan pembersihan kompleks pemakaman tersebut. Selain membantu dana untuk 10 lembar seng, cat pagar dan sejumlah kebutuhan lainnya, beliau juga ikut langsung meuseuraya bersama kita di kompleks makam tokoh besar Samudra Pasai keturunan Rasulullah itu,” kata Abdul Hamid akrab disapa Abel Pasai.

Menurut Abel Pasai, Terpiadi mengajak Cisah untuk melanjutkan meuseuraya di kompleks makam tinggalan Samudra Pasai lainnya yang saat ini kondisinya butuh perhatian serius. “Beliau siap membantu kebutuhan yang diperlukan di lapangan, meskipun kegiatan ini bukan bidang tugas beliau sebagai Anggota Komisi IV (pembangunan/infrastruktur) DPRK Aceh Utara. Ini bentuk kepedulian beliau terhadap pelestarian tinggalan Samudra Pasai, sehingga patut kita berikan apresiasi,” tuturnya.

Juru pelihara

Informasi diperoleh Cisah, juru pelihara (jupel) Kompleks Makam Sayyid Syarif, di Gampong Mancang, itu sudah tidak lagi bertugas sejak beberapa bulan lalu. “Mulai hari ini akan diangkat jupel baru, warga setempat, oleh Bidang Kebudayaan Disdikbud Aceh Utara. Menurut informasi, Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Utara akan mengusulkan ke provinsi agar pelestarian kompleks makam ini, termasuk penempatan jupelnya menjadi tanggung jawab Disbudpar Aceh, karena tokoh yang bersemayam di sini tokoh-tokoh dunia,” ujar Sukarna Putra.

Sementara itu, Keuchik Gampong Mancang, Abdul Gani Akai, berharap Pemkab Aceh Utara dan Pemerintah Aceh memugar Kompleks Makam Sayyid Syarif itu lebih maksimal lagi. “Harapan kami kepada dinas terkait di Pemkab Aceh Utara dan Pemerintah Aceh, memberikan perhatian serius agar kompleks makam ini harus bersih, dan dibangun lebih bagus lagi. Karena ini makam tokoh besar masa silam, dengan adanya tokoh penting ini, sehingga kita punya ilmu pengetahuan agama Islam,” tuturnya. 

“Kami juga berharap di kompleks ini dibangun balai yang layak dan dilengkapi sumur, karena banyak orang berziarah ke makam ini. Selain itu, jupelnya diberi honor agar bertahan. Jupel yang ditempatkan harus mampu menjelaskan tentang tokoh yang dimakamkan dalam kompleks ini,” ujar Abdul Gani Akai.[](red)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.