13 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


MPU Aceh Besar adakan Muzakarah Tauhid Tasauf dan Wakaf

...

  • portalsatu.com
  • 05 December 2017 22:00 WIB

Muzakarah Tauhid Tasauf dan Wakaf di Aula Gedung UPTD BPKB Dinas Pendidikan Aceh, Lubok, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, 4 Desember 2017. @Ist/Tgk Mustafa Husen
Muzakarah Tauhid Tasauf dan Wakaf di Aula Gedung UPTD BPKB Dinas Pendidikan Aceh, Lubok, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, 4 Desember 2017. @Ist/Tgk Mustafa Husen

BANDA ACEH - Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk H Muhammad Daud Zamzami, mengatakan, tidak ada kitab yang tidak benar yang maksud oleh fatwa MPU Aceh, namun masyarakat belum membaca utuh fatwa MPU sudah berasumsi, sehingga terjadi sedikit polemik.

"Perlu diketahui, pemahaman masyarakat kita terbatas, maka diajarkan kitab menurut kemampuan pengajar dan para jamaah. Jika mengkaji kitab dengan kemampuan terbatas maka terjadilah ibarat "ta sipat bajee gob, bak bajee droe". (artinya, salah memahami)," kata Tgk Zamzami dalam Muzakarah Tauhid Tasauf dan Wakaf, di Aula Gedung UPTD BPKB Dinas Pendidikan Aceh, Lubok, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, 4 Desember 2017.

Tgk Zamzami mengatakan, kitab-kitab pelik itu hanya mampu oleh kalangan khusus, tidak semua orang mampu mencernanya. Seperti, kata dia, ucapan yang mengandung makna hulul dan ittihad (menyatu dengan Tuhan).

“Oleh karena demikian, Ibnu Araby sendiri yang melarang mengkaji kitabnya bagi yang tidak punya kemampuan. Seperti kitab Futuhat Al-Makkiyah  karya  Ibnu Arabi, Insan Kamil karya Abdul Karim Al Jilli dan kitab-kitab lainnya sebagaimana dilansir Serambi Indonesia beberapa pekan yang lalu. Fatwa MPU Aceh juga telah ada pada zaman para imam besar dalam mazhab Syafi'i, ada enam ulama besar yang melarang mengkaji kitab yang tidak mampu dicerna orang awam, salah satunya adalah syaikh Ibnu Hajar as-Qalani,” tegas Abu Daud Zamzami yang juga murid langsung dari ulama kharismatik Aceh, Abu Hasan Krueng Kalee dan Abuya Muda Waly Al Khalidi.

Ia mengatakan, hakikatnya tidak ada istilah Tauhid Tasauf, yang ada hanya tinjuan, Tauhid dan Tasauf berada pada hati, sementara Fikih berada pada lahiriah amalan. Karena, kata dia, kalau jiwa sudah bersih dari sifat muhlikah/mazmumah (tercela) maka akan diisi oleh sifat yang mahmudah (terpuji) yang kemudian nampak dalam prilaku. Jadi, perbedaan hanya pada tingkat pemahaman, penalaran keyakinan dan penghayatan berpijak.

“Lalu kenapa juga MPU Aceh mengeluarkan fatwa, tentunya ada banyak kemaslahatan yang mesti dijaga. Sama seperti dihukumnya Syekh Siti Jenar, Al-Hallaj, Ibnu Araby, dan Hamzah Al Fansury. Tak ubahnya juga sopir bus yang terpaksa mengelak dan memilih menabrak satu orang demi menyelamatkan puluhan orang dalam bus,” tamsilnya.

Sementara, Ketua MPU Aceh Besar, Tgk H Muksalmina AW, dalam sambutannya mengapresiasi semua peserta muzkarah yang bertema “Muzakarah Tauhid Tasauf dan Wakaf” tersebut.

"Alhamdulillah muzakarah sukses sebagaimana yang direncanakan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Dr Tgk Ghani Gisa Wakaf mewakili  pimpinan MPU Aceh yang telah memberikan materi yang begitu mencerahkan bagi pengurus MPU Aceh Besar,” tutupnya.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.