26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mualem Klarifikasi Soal Referendum, Begini Tanggapan Ekskombatan dan Pengamat

...

  • Rino
  • 13 June 2019 17:00 WIB

Adi Laweung. Foto istimewa/dokumen
Adi Laweung. Foto istimewa/dokumen

BANDA ACEH - Muzakir Manaf mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan pada Senin, 27 Mei 2019 malam lalu. Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menyatakan Aceh lebih baik minta referendum. Hal itu dilontarkan saat peringatan Haul Hasan di Tiro yang digelar di ruangan Amel Convention Hall, Banda Aceh.

Saat itu, pria yang pernah menduduki jabatan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 mengklaim bahwa keadilan dan demokrasi di Indonesia tidak jelas arahnya. Baginya, Indonesia berada diambang kehancuran.

Belakangan, Mualem--sapaan akrab Muzakir Manaf--menarik kembali ucapannya. Mengatakan bahwa rakyat Aceh saat ini 'cinta damai' dan 'pro NKRI'.

Klarifikasinya direkam secara khusus dan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Mualem berbicara selaku Ketua Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA). Organisasi yang terakhir disebut merupakan wadah tempat bernaung mantan kombatan GAM. Sementara PA adalah partai lokal yang rata-rata juga diisi orang-orang yang pernah diberi cap separatis itu.

Mualem mengaku khilaf. Pernyataan soal referendum diakuinya tidak lebih dari ucapan spontan karena terbawa suasana saat mengikuti Haul Hasan di Tiro, sang deklarator Aceh Merdeka.

Di dalam video klarifikasinya itu, Mualem berharap Aceh lebih maju dalam bingkai NKRI. Dia turut menyinggung perihal butir-butir Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang belum tuntas.

Seorang ekskombatan GAM mengaku terkejut dengan sikap Mualem yang berubah 90 derajat. Dengan kata lain, ia kecewa. "Kenapa harus ditarik? Referendum, kan bukan perang. Itu cara damai. Cuma jajak pendapat. Serahkan ke rakyat. Kita kehilangan taring di mata pusat," ujar ekskombatan GAM yang tidak mau ditulis identitasnya kepada portalsatu.com, Kamis, 13 Juni 2019.

Sementara itu, mantan Juru Bicara Partai Aceh (PA), Suadi alias Adi Laweung mengaku sama sekali tidak kecewa dengan sikap sang ekspanglima. Adi awalnya adalah salah satu orang yang sangat mendukung referendum digelar di Aceh.

Apa pun keputusan Mualem, bagi Adi adalah titah yang mesti dilaksanakan. Termasuk jika pimpinannya itu menarik kembali ucapannya. "Saya tidak kecewa dengan statement Ketua KPA dan PA Muzakir Manaf, saya selaku salah satu anggota GAM dan kader dalam PA sama sekali tidak kecewa," tegasnya, kepada portalsatu.com, Kamis, 13 Juni 2019.

Pengamat Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), Taufik Abdullah, menilai selama butir-butir MoU Helsinki belum terealisasi, hubungan antara Aceh-pemerintah pusat tetap tidak harmonis. Hal ini tidak terpengaruh dengan ditarik atau pun tidaknya ucapan Mualem.

"Sejak awal, saya melihat substansi pernyataan Mualem tidak seharusnya dilihat sebagai bentuk perlawanan yang akan mengganggu hubungan antara Aceh dan pusat. Malahan, pernyataan Mualem dapat mencairkan harmonisasi hubungan Aceh Jakarta. Artinya, rezim sekarang perlu mendalami di balik pernyataan Panglima GAM itu," ujar Taufik kepada portalsatu.com, Rabu malam.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.