15 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mualem: Rakyat Hana Jitulak Moto Hana Bhan

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 11 January 2017 19:40 WIB

Puluhan ribu massa hadiri kampanye rapat umum Cabup/wabup Aceh Utara, Rabu, 11 Januari 2017. @PORTALSATU.COM/CUT ISLAMANDA
Puluhan ribu massa hadiri kampanye rapat umum Cabup/wabup Aceh Utara, Rabu, 11 Januari 2017. @PORTALSATU.COM/CUT ISLAMANDA

LHOKSUKON –  "Rakyat hana jitulak moto hana bhan," ucap calon Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem di hadapan pendukungnya. Mualem kemudian menyebut pimpinan yang diusung Partai Aceh (PA) adalah tangga untuk menyelesaikan MoU Helsinki.

Bandum ulama ka geuduek sajan geutanyoe. Jinoe tameupakat ngen ulama dan umara, tapeugot Aceh lagee masa Iskandar Muda,” kata Mualem dalam orasi politiknya di Kampanye Rapat Umum Cabup/Wabup Aceh Utara Cek Mad-Sidom Peng, di Lapangan Landeng, Gampong Alue Drien, Lhoksukon, Rabu, 11 Januari 2017, sore.

Saat menyampaikan orasi politiknya, Mualem didampingi calon wakilnya, T.A. Khalid. Selain itu, ikut berdiri Cek Mad – Sidom Peng dan calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya – Yusuf Muhammad.

Sementara itu, TA Khalid mengatakan, “Rakyat Aceh bek jeut keu keleude (Rakyat Aceh jangan jadi keledai). Semua orang bisa berkata-kata, tapi tidak semua orang bisa melaksanakan kata-katanya.”

Dalam orasi politiknya, TA. Khalid meminta masyarakat Aceh cerdas dalam perjuangan politik. “Bangsa tanyoe bek meuron-ron, pu nyang tapubuet berdasarkan ilme. Hal itu penting untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan kisah lama, katanya, "Senjata sudah kita potong, karena Aceh diberikan kemerdekaan dalam lingkar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)".

Peugot nanggroe lage peuget tape. Brang kaso jeut, tapi galom teunte mandum jeut keu tape, tergantung ragoe. Perkara Aceh perkara ragoe nyang galom seuleuso, perkara MoU nyang galom seuleuso (Membuat negeri seperti membuat tape. Siapa saja bisa, tapi belum tentu semua bisa menjadi tape, tergantung raginya. Persoalan Aceh persoalan ragi yang belum selesai, artinya, persoalan MoU yang belum selesai),” beber TA. Khalid.

Dalam pilkada kali ini, TA. Khalid meyakini masyarakat yang hadir pada kampanye itu adalah masyarakat yang cerdas. Namun ia meminta agar massa yang hadir dapat mengabarkan kepada masyarakat lainnya yang tidak hadir, untuk sama-sama memilih Partai Aceh dan memenangkan calon yang diusung Partai Aceh.

Ulon yakin that ureung droneuh ureung cerdas, tapi neubi thei bak syedara geutanyoe nyang hana troh uroe nyoe. Bek salah pileh cuma karena peng grik. Neupeusampo bak ureung nyang galom muphom,” ucapnya.

Menurutnya, "kwitansi" rakyat menagih "utang" ke Jakarta adalah Partai Aceh. Anco nanggroe kon kareuna deuek. Tapi meunyoe hana maruah bangsa, meunyoe gadoh maruah bangsa, maka nanggroe akan anco (Hancurnya negeri bukan karena lapar. Tapi jika tidak ada martabat/harga diri bangsa, jika hilang martabat/harga diri bangsa, maka negara akan hancur)”.

TA. Khalid menegaskan, sehebat apapun pemimpin Aceh, jika tidak memiliki suara di parlemen, maka tidak ada artinya karena tidak akan mampu menyejahterakan rakyatnya.

“Jangan terkecoh dengan embel-embel Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Dana JKA ada karena dana otonomi khusus (Otsus) yang diberikan pemerintah pusat setelah perdamaian terjadi. Perlu diingat, dana JKA ada karena Partai Aceh, bukan karena dana pribadi seseorang,” pungkas TA. Khalid yang diiringi riuh suara massa.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.