26 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Museum Islam Samudra Pasai Gelar Workshop Penguatan Karakter

...

  • PORTALSATU
  • 28 August 2020 06:00 WIB

Foto: istimewa
Foto: istimewa

LHOKSUKON - Museum Islam Samudra Pasai di Aceh Utara menggelar Workshop Penguatan Karakter, Kamis, 27 Agustus 2020.

Kegiatan digelar secara virtual itu menampilkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Utara, Saifullah, M.Pd., dan para kepala bidang Disdikbud sebagai pembicara. Sebagian besar peserta merupakan tenaga kependidikan, termasuk dari satuan kerja perangkat kabupaten/kota (SKPK) di luar Aceh Utara. Ada pula peserta dari BPCB Banda Aceh dan mahasiswa.

Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Nurliana NA., mengatakan kegiatan itu sebagai upaya pihaknya memberikan pemahaman kepada pendidik dan masyarakat luas tentang pentingnya pendidikan penguatan karakter. Pihaknya melibatkan semua bidang di Disdikbud Aceh Utara dalam workshop ini karena semua bidang tersebut sebenarnya menyasar penguatan karakter.

“Sebenarnya penguatan pendidikan karakter itu memang sudah seperti kewajiban. Kalau anak PAUD (pendidikan anak usia dini) malahan 70 persen pendidikannya pendidikan penguatan karakter. Anak SD-SMP 60 persen, SMA dan mahasiswa 40 persen. Jadi, pendidikan terbesar di golden age itu adalah penguatan karakter. Kenapa saya mengambil itu (penguatan karakter), karena ketika kita bicara kebudayaan kita terhubung dengan museum-museum juga, itu sangat berat untuk membentuk karakter positif,” ujar Nurliana kepada wartawan usai acara itu.

Nurliana yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Aceh Utara, dalam paparan saat workshop itu menjelaskan bahwa ada empat unsur yang membentuk karakter. Yaitu olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. “Dalam olah rasa, ada yang namanya sisi integritas moral dan rasa kebudayaan. Di situ duduk pembentukan karakter yang positif,” tuturnya.

Menurut Nurliana, saat ini banyak anak karakternya hampir negatif semua. Misalnya, suka berbohong, malas, dan mau menang sendiri. "Hari ini mungkin kenapa banyak anak tidak sopan lagi kepada orang tua, karena karakter positif tidak kuat lagi pada dirinya,” ungkapnya. 

“Nah, kita mau mengembalikan bahwa anak-anak kita punya sifat religius, bagaimana dia taat, untuk orang tuanya bagaimana dia berbuat yang seharusnya. Ada sifat nasionalisme juga di dalamnya, ada rasa ingin tolong menolong dan sebagainya. Itu sebenarnya yang mau kita bina,” ujar Nurliana.

Oleh karena itu, dalam workshop itu Nurliana mengajak semua pihak terkait termasuk masyarakat memahami pentingnya pendidikan penguatan karakter. "Karena pendidikan karakter tidak hanya ditutut sama tenaga pendidik di sekolah. Kalau di rumah, masyarakat, lingkungan (tempat tinggalnya), tidak memedulikan, toh enggak beda," katanya.

Nurliana juga menjelaskan, sebenarya setiap anak sejak dalam kandungan sudah dididik karakter. "Kenapa misalnya, orang yang sedang mengandung itu  tidak boleh macam-macam, takut direkam oleh anaknya. Kita hubungkan dengan budaya kita, kenapa orang hamil tujuh bulan itu di-peusijuek, ada apa sebenarnya? Anak itu tahu bahwa orangtuanya membuat sesuatu yang positif buat dia".

"Kenapa waktu didodaidi tidak bisa kita sembarangan, walaupun anak itu baru dilahirkan. Jika setiap hari kita baca selawat, maka nanti dia pintar berselawat. Tapi jika tiap hari kita nyanyi yang enggak betul, dia juga nanti nyanyi enggak betul waktu  sudah dewasa".

"Jadi, lebih kita menyasar kepada keluarnya sifat-sifat baik dari anak-anak itu. Karena sekarang orang yang pintar pun kalau karakternya misalnya jauh dari religius, tidak suka membantu, mungkin di dalam masyarakat, dia juga tidak begtu baik. Yang kita mau anak kita smart dan juga taat. Kamu pintar dan kamu religius, itulah yang kita mau," tuturnya. 

Berangkat dari berbagai latar belakang kondisi itulah yang mendorong pengelola Museum Islam Samudra Pasai menggelar workshop secara virtual untuk melihat apa yang selama ini orang-orang ketahui tentang karakter, dan bagaimana upaya memberi penguatan karakter-karakter yang positif. Sehingga lahirlah penguatan pendidikan karakter.

Sedangkan kepala bidang lainnya di Disdikbud dalam paparannya merelevansikan penguatan karakter sesuai bidang masing-masing. Misalnya, Bidang PAUD, di mana pendidikan anak usia dini menyasar pendidikan karakter lebih 70 persen. Itulah sebabnya, PAUD dan TK lebih banyak membuat kondisi untuk membina karakter anak.

"Semua bidang di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ke sana menyasarnya. Bidang Sarana dan Prasarana, di mana dia menyasar tentang pendidikan karakter. Coba kalau sekolah tanpa gedung sekolah, itu kita bayangkan ke sana. Bagaimana seorang tenaga pendidik ingin mencerdaskan anak-anaknya, sementara gedung sekolah tidak ada, sekolah di hamparan luar. Itukan tidak bisa bagi anak-anak menjadi olah pikir, yang menjadi elemen dari karakter. Terus kalau tidak ada tenaga pendidik yang bisa membangkitkan karakter positif, ya sama juga". 

"Maka semua bidang di dalam Disdikbud itu saya ajak melalui virtual Museum Islam Samudra Pasai untuk memberikan penguatan karakter kepada anak hingga karakter yang ditimbulkan itu karakter yang bersifat positif," tutur Nurliana.

Nurliana menambahkan, pentingnya karakter bukan hanya saat ini, tapi sejak jauh sebelumya. "Namun, hari ini kita melihat semakin luntur karakter positif yang dimiliki oleh leluhur kita, seperti sifat gotong royong. ,Ada apa? Ternyata karakter kita tidak ber-inner yang positif lagi," ucapnya.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.