26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nasib Sikundo di Aceh Barat

...

  • Rino
  • 15 February 2019 15:00 WIB

Jembatan tali baja di Sikundo. Foto direkam Selasa, 12 Februari 2019. Foto: Rino
Jembatan tali baja di Sikundo. Foto direkam Selasa, 12 Februari 2019. Foto: Rino

ACEH BARAT - Belakangan, potret buram sebuah desa terisolir di Kabupaten Aceh Barat bernama Sikundo viral. Berikut sejumlah fakta mengenai desa yang namanya ditabalkan oleh Cut Nyak Dhien ini.

Desa Sikundo sejatinya berada dalam wilayah hutan Ulu Masen. Jarak desa yang berada di tengah belantara hutan ini sekitar 80 kilometer dari pusat kabupaten.

Mayoritas mata pencarian warga setempat adalah bertani. Di desa ini, sangat mudah menemukan ikan kerling atau jurung yang menjadi makanan raja-raja pada masa silam.

Luas desa dihuni 138 kepala keluarga ini sekitar 12 ribu hektare, di mana sebelumnya, sekitar dua pertiga luas wilayahnya dilaporkan dikuasai perusahaan Hak Penguasaan Hutan (HPH). Awalnya dikuasai PT Woyla, hingga pada 1998 penguasaan berpindah tangan ke PT Raja Garuda Mas.

Izin PT Raja Garuda Mas seharusnya berakhir 2014. Namun, akibat eskalasi konflik bersenjata yang kian meningkat di Aceh, perusahaan tersebut berhenti beroperasi pada 2001.

Akses menuju Desa Sikundo cukup sulit dilalui. Medan mulai ekstrem di titik tempuh antara Desa Jambak--yang merupakan desa terakhir kedua di Kecamatan Pante Ceureumen--ke Desa Sikundo.

"Jalan sekitar jam 8 dan sampai di kecamatan sekitar satu jam. Lanjut lagi, dan tiba di Desa Sikundo hampir jam 11," tutur Koordinator Badan Pekerja Gerakan Anti-Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy S. Putra, kepada portalsatu.com, Jumat, 15 Februari 2019.

Medan dilalui berupa tanah berkerikil, berlubang, terjal serta terdapat longsor di bahu jalan. Akses akan lebih sulit dilalui jika hujan turun, kebanyakan pengendara terperosok ke dalam lubang berair atau tersangkut dalam lumpur yang mencengkeram roda kendaraan.

"Tercatat hampir 4-5 titik jalan menuju Sikundo begitu bahaya untuk dilewati atau dilalui oleh warga desa, apalagi dilalui dengan kendaraan roda dua atau empat yang begitu sulit medannya. Ada beberapa bahu jalan yang sudah longsor. Fasilitas kesehatan atau Faskes juga tidak ada di situ," sebut Edy.

Warga setempat memang sudah lama menantikan jalan beraspal. Jika akses mudah dilalui, warga tidak akan kesulitan menuju Puskesmas yang berada di pusat kecamatan ketika tiba-tiba ada di antara mereka yang sakit.

"Jadi, pada hari ini, masyarakat Sikundo mengeluh cuma transportasi jalan," ucap Kepala Desa Sikundo, Jauhari, kepada portalsatu.com, belum lama ini.

Selain itu, jembatan gantung penghubung Desa Jambak-Sikundo yang disebut-sebut dibangun tahun 2018 lalu dengan anggaran mencapai Rp1,9 miliar lebih, masih dalam proses pengerjaan hingga Februari 2019. Seminggu lalu, pengerjaan jembatan gantung masih dilakukan dengan "sistem kebut".

Terdapat satu jembatan tali baja atau sling yang menghubungkan antara Dusun Durian dengan Sarah Saree. Jarak jembatan ala Indiana Jones ini dengan jembatan gantung tadi sekitar 500 meter.

Dusun Sarah Saree dihuni 12 KK, dan terdapat sebuah sekolah terbengkalai di dalamnya, karena tidak ada orangtua yang berani menyekolahkan anaknya di SDN Sikundo. Warga Desa Sikundo menggunakan jembatan tali baja atau sling sejak tahun 1975.

Keberadaan jembatan sling penghubung antardusun itu viral setelah seorang fotografer media asing memotret aktivitas warga yang sedang bertaruh dengan maut melewati dua tali baja sepanjang 140 meter yang di bawahnya terdapat sungai berarus deras.

Beberapa hari kemudian, sejumlah wartawan meliput ke sana. Belakangan, berita mengenai jembatan tali baja atau sling di Desa Sikundo menjadi komsumsi nasional.

Kabar tersebut sampai ke telinga Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Melalui akun twitter-nya, Nova menyanggah berita jembatan kabel di Desa Sikundo tidak update. Belakangan, Nova menghapus cuitan setelah mendapat sentilan dari netizen.

Jembatan sling menuju SDN Sikundo kabarnya akan dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada 2020. Itu kata Plt. Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat, Bukhari.

Edy berharap, eksekutif-legislatif di Aceh Barat mau mengalokasikan dana untuk pembangunan di kabupaten ini secara serius. Ini merujuk qanun terkait bahwa dana yang dialokasikan ditujukan untuk membiayai program dan kegiatan pembangunan, terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.

"Rancangan Qanun APBK Aceh Barat 2019 masih terdapat kegiatan yang belum sepenuhnya mencerminkan anggaran berbasis kinerja. Tidak jelas sasaran dan cenderung terjadi pemborosan. Seperti, penyediaan belanja perjalanan dinas keluar daerah untuk kegiatan yang tidak relevan," tegas Edy.[]

Baca juga: Jembatan Gantung Sikundo Selesai Dibangun Tahun 2018

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.