26 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nasib Songket Aceh, Diminati Turis Tapi Minim Pengrajin

...

  • DETIK
  • 11 September 2018 12:00 WIB

Pengrajin songket @agus/detik.com
Pengrajin songket @agus/detik.com

BANDA ACEH - Jemari perempuan itu menari-nari di atas untaian benang-benang pada seperangkat alat tenun tradisional. Sesekali, tangannya cekatan memasukkan benang ke dalam celah-celah benang lain. Sesekali, kakinya menginjak papan untuk melonggarkan letak benang. 

Perempuan itu adalah Jasmany Daud (55), pemilik usaha tenun songket di Desa Mireuk Taman, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Dia sudah menekuni profesi menenun sejak 1990 tahun. Awalnya, ketertarikan di dunia tenun berawal dari adanya pelatihan yang digelar di rumah sesepuh tenun di Aceh Besar, Nyakmu. 

Lambat laun, Jasmany mulai jatuh hati pada profesi barunya. Setelah tiga bulan belajar membuat motif, dia mulai berani mencoba membikin sendiri. Sepuluh tahun berselang, usaha Jasmany berkembang dan dia merekrut tetangga di kampungnya. 

"Tahun 2000 buka usaha sendiri di rumah. Awalnya saya belajar coba-coba pada Nyakmu. Namun lama kelamaan jadi suka dan saya cocok dengan pekerjaan ini. Saat ini, ada lima orang di kampung yang bekerja bikin tenun pada saya," kata Jasmany saat ditemui di rumahnya, Senin (10/9/2018). 

Bagi Jasmany, proses pembuatan tenun tidak lah sulit. Hanya saja, bahan baku kadang sulit didapatkan karena benang dipasok dari Medan, Sumatera Utara dan dia membeli di Banda Aceh. Untuk satu kain sepanjang sepuluh meter, proses pembuatannya memakan waktu hingga satu bulan. Dalam sehari, cuma selesai dikerjakan sepanjang 15 sentimeter. 

"Proses pertama sampai menenun itu dalam sebulan itu bisa menghasilkan tiga lembar kain atau 2 set. Untuk setiap setnya kita jual mulai seharga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Tapi itu tergantung bahan," ungkapnya. 

Meski proses pembuatan tergolong mudah, tapi Jasmany dan suaminya Barliansyah (41) kewalahan memenuhi permintaan. Soalnya, jumlah perajin minim sementara permintaan pasar semakin meningkat. Padahal, pembeli tenun di tempatnya tak hanya dari Indonesia, tapi juga wisatawan asing. 

"Wisatawan dari Belanda, Denmark, Malaysia dan beberapa negara lain pernah datang ke sini. Mereka beli untuk oleh-oleh. Tapi ya itu, kita kadang tidak bisa memenuhi permintaan mereka," jelas Jasmanyi. 

Pasangan suami istri ini berharap ada generasi muda yang ingin melestarikan profesi menenun. Untuk pendapatan, profesi ini tergolong menjanjikan. Dalam sebulan, memperoleh penghasilan jutaan rupiah setelah dipotong modal. 

"Dalam sebulan minimal Rp 6 juta ada penghasilan kita. Tapi orang di sini tidak mau kerja begini. Mereka memilih kerja lain, padahal songket ini harus kita lestarikan," kata Barliansyah. []

Sumber: Detik.com

Editor: Arman


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.