11 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pameran PFI: Potret Aceh Kekinian dan 15 Tahun Lalu 

...

  • Juli Amin
  • 26 December 2019 15:20 WIB

Foto-foto: Juli Amin/portalsatu.com
Foto-foto: Juli Amin/portalsatu.com

Tiga puluhan frame (bingkai) foto berukuran A2 terpampang rapi di area depan pintu masuk Taman Putroe Phang, Kota Banda Aceh, Kamis, 26 Desember 2019. Foto-foto tersebut menggambarkan beberapa fase, kondisi Aceh kekinian dan kisah 15 tahun lalu. 

Tepat pada 26 Desember 2004, Aceh dilanda gempa bumi dahsyat yang kemudian memunculkan gelombang besar dari arah laut dan meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh. Warga Jepang menyebut gelombang ini dengan tsunami. Sedangkan orang Aceh kerap menamakan gelombang dahsyat tersebut dengan kata smong

Pada momen 15 tahun musibah itu terjadi, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh kembali memamerkan bagaimana dahsyatnya jejak gelombang itu lewat foto. Baik kondisi di Kota Banda Aceh maupun di sebagian wilayah Aceh lainnya, termasuk evakuasi, kondisi warga ketika di pengungsian, rekonstruksi hingga kondisi Aceh kekinian. 

Foto-foto tersebut hasil karya para fotografer Aceh. Salah satunya karya Bedu Saini, fotografer senior yang juga Ketua PFI Aceh periode 2019-2023.

Foto tersebut menggambarkan seorang warga yang terjebak gelombang smong dibopong dua orang lainnya naik ke trotoar di tepi jalan. "Foto ini saya jepret di Simpang Lima, Kota Banda Aceh saat gelombang smong itu merambah ke kota," kenang Bedu, sapaan akrab Bedu Saini kepada portalsatu.com di arena pameran. Simpang Lima lebih kurang berjarak 4-5 kilometer dari pinggir laut Lampulo. 

Menurut Bedu, ada banyak kejadian di Simpang Lima yang sempat dijepret. Namun, file-nya hilang.

Bedu mengisahkan, ombak itu sangat ganas. Kecepatan ombak dapat menjajal kota dalam sekejap. “Saat ambil foto dalam diri saya bertanya apa yang terjadi. Sambil berlari saya terus motret, sehingga apa yang bisa terekam, terekamlah. Salah satu yang terekam foto yang turut dipamerkan di sini," katanya.

Namun, Bedu tidak bisa melanjutkan cerita tentang kondisi yang ia rasakan ketika musibah itu datang. Apalagi ada anggota keluarganya yang turut hilang dalam pristiwa Minggu pagi itu.

Sejarah

Bagi Bedu, pameran yang digelar PFI Aceh setiap peringatan tsunami, bukan bararti mengulang-ulangi kisah sedih dan duka masyarakat Aceh ketika itu. Akan tetapi, menceritakan sejarah kepada anak-cucu atau generasi penerus Aceh bahwa Aceh pernah dilanda musibah maha dahsyat, gempa dan tsunami (smong). 

"Belajar dari sejarah itu, memaknai bencana itu bisa terjadi kapan dan di mana saja. Karena itu, perlu mitigasi dan edukasi menghadapi bencana kepada anak-cucu kita," ujar Bedu.

Amatan portalsatu.com, para pengunjung sejak pagi hingga sore hilir mudik di lokasi pameran. Ada pengunjung dari dan luar Aceh. Bahkan, ada dari luar negeri, terutama negeri Jiran Malaysia, yang mengunjungi pameran sehari itu.Pameran tersebut akan ditutup pada malam harinya yang diakhiri do'a bersama mengenang arwah para jurnalis yang menjadi korban pada musibah itu. []

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.