01 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Panglima Laot Seumanyam Laporkan Pencemaran Sungai oleh Tiga Perusahaan Sawit

...

  • portalsatu.com
  • 10 August 2020 20:05 WIB

Surat Panglima Laot Lhok Seumanyam dan empat kepala desa terkait pencemaran sungai oleh tiga perusahaan sawit [Foto: IST]
Surat Panglima Laot Lhok Seumanyam dan empat kepala desa terkait pencemaran sungai oleh tiga perusahaan sawit [Foto: IST]

WALHI Aceh pernah melakukan investigasi di pengelolaan limbah PT RM, selain persoalan limbah cair masyarakat juga mengeluhkan pencemaran udara akibat asap hasil pembakaran karena lokasi pabrik hanya berjarak 100 meter dari pemukiman penduduk.

SUKA MAKMUE – Panglima Laot Lhok Kuala Seumanyam bersama empat kepala desa melaporkan dugaan pencemaran sungai oleh tiga perusahaan sawit kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagan Raya.

Surat laporan bertanggal 24 Juli 2020 itu ditandatangani oleh Panglima Laot Lhok Kuala Seumanyam Ali Bacah, Keuchik Kuala Seumanyam Guntur, Keuchik Blang Luah Muhammad Jafar, Keuchik Alue Bateung Brok Muslem, dan Keuchik Ujong Tanjong Adun Rijal.

Ketiga perusahaan sawit yang dilaporkan itu adalah PT KA, PT Sc dan PT RM. Ketiga perusahaan itu diduga melakukan pencemaran sungai dengan membuang limbah olahan sawit. Tercemarnya sungai menyebabkan masyarakat sekitar yang menggunakan air sungai di kawasan itu mengalami gatal-gatal. Ekonomi warga yang bergantung hidup dari hasil sungai juga terganggu.

Surat itu juga ditembuskan kepada Bupati dan Ketua DPRK Nagan Raya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Nagan Raya, Camat Darul Makmue, serta lembaga pemerhati lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Menanggapi surat yang ditembuskan ke lembaganya, Direktur Eksekutif WALHI Aceh Muhammad Nur mengungkapkan, kasus pencemaran sungai telah berulang kali terjadi, pihak perusahaan tidak memiliki itikat baik untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbah mereka.

“Pada Juli 2018, WALHI Aceh melakukan investigasi di pengelolaan limbah PT RM, selain persoalan limbah cair masyarakat juga mengeluhkan pencemaran udara akibat asap hasil pembakaran karena lokasi pabrik hanya berjarak 100 meter dari pemukiman penduduk,” ungkapnya.

Selain itu lanjut Muhammad Nur, kondisi kolam pengelolaan limbah tidak memenuhi standar, ditemukan beberapa kerusakan di pematang kolam sehingga limbah dengan mudah tercampur antara kolam satu kekolam lainnya, serta menjadi ancaman terhadap ternak masyarakat. “Kerbau warga mati pernah mati di kolam limbah perusahaan itu,” jelas Muhammad Nur.

Karena itu, WALHI Aceh mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh untuk melakukan audit lingkungan di tiga perusahaan tersebut. Pemerintah Aceh melalui DLHK harus mengambil sikap tegas dan harus berani memberikan sanksi terhadap perusahaan yang tidak patuh terhadap pengelolaan lingkungan, jika perlu lakukan evaluasi terhadap izin lingkungan yang telah diberikan.

“Jika hasil audit lingkungan nantinya ditemukan kerusakaan lingkungan dan pelanggaran hukum, maka pihak perusahaan harus mengganti kerugian lingkungan yang ditimbulkan akibat pencemaran limbah,” pungkasnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.