10 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pasang Spanduk ‘Rapor Merah Pemkot Lhokseumawe’, Ini Penjelasan SMUR

...

  • PORTALSATU
  • 18 March 2020 11:00 WIB

Foto-foto: SMUR Lhokseumawe
Foto-foto: SMUR Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) memasang spanduk ‘rapor merah Pemkot Lhokseumawe’ di sejumlah titik dalam kawasan kota Lhokseumawe, Rabu, 18 Maret 2020, dinihari.

Ketua SMUR Lhokseumawe, Rizqi Rahmatullah, mengatakan pihaknya memasang spanduk di empat titik, yakni Simpang Jam depan Bank Aceh (Tugu Bank Aceh), Simpang Taman Mini, Simpang Kutablang/Tugu Rencong, dan Jembatan Cunda jalur masuk kota.

“(Pemasangan spanduk itu) kami mengambil momentum 18 Maret, hari Milad SMUR yang ke-22,” kata Rizqi Rahmatullah kepada portalsatu.com melalui pesan WhatsApp, Rabu pagi.

Berdasarkan foto-foto dikirim Rizqi Rahmatullah, sejumlah spanduk itu bertuliskan “Raport Merah Pemkot Lhokseumawe”, “Rapor Merah! Apa kabar bangunan terbengkalai?”, “Rapor Merah. Apa kabar parkir liar? Peu Lhokseumawe hana qanun?”, “Rapor merah Lhokseumawe. Kasus korupsi uang retribusi P. Impres; pendataan ulang pedagang P. Impres (Pasar Inpres, red); dan Lhokseumawe rindu KPK. Tuntaskan. Korupsi sama bahaya dengan corona”.

Rizqi Rahmatullah menyebut pemasangan spanduk tersebut sebagai aksi agitasi SMUR Lhokseumawe.

Menurut ‘KBBI’, agitasi merupakan hasutan kepada orang banyak (untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya). Masih dalam 'KBBI', agitasi biasanya dilakukan oleh tokoh atau aktivis partai politik.

Bagaimana menurut SMUR? “Agitasi yang kami lakukan ialah untuk mencoba memberikan kesadaran terhadap masyarakat atas segala bentuk persoalan di Kota Lhokseumawe yang sudah epidemic. Dalam perjuangan aksi massa selain demonstarsi, membagikan selebaran dan memasang spanduk adalah salah satu bentuk dari aksi. Hana (tidak ada) muatan politis,” tegas Rizqi Rahmatullah.

Rizqi Rahmatullah menjelaskan, SMUR memberikan rapor merah terhadap Pemkot  Lhokseumawe berdasarkan kinerja birokrasi yang dinilai kurang sehat, di mana banyak bangunan terbengkalai, terindikasi pembangunan hanya berbasis fee, polarisasi pertumbuhan ekonomi lamban sehingga menyebabkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga selalu bergantung pada dana perimbangan. “Artinya ketergantungan keuangan Pemkot terhadap pusat dan provinsi masih cukup tinggi 91,25 persen,” ungkap Rizqi.

Soal bunyi salah satu spanduk menyebut ‘kasus korupsi uang retribusi Pasar Inpres’, Rizqi menyatakan, “Dan kami juga mempertanyakan integritas pihak kepolisian dalam pengungkapan kasus penggelapan dana retribusi, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat”.

Disinggung alasan SMUR memasang spanduk-spanduk tersebut pada dinihari, Rizqi mengatakan, “Untuk menarik perhatian pengguna jalan dan masyarakat Lhokseumawe, karena pagi hari waktu beraktivitas. Kalau siang, tidak menutup kemungkinan baru dipasang langsung dicopot”.[](red)

Lihat pula:

Menakar Kemampuan Keuangan Lhokseumawe

APBK Lhokseumawe: Belanja Pegawai Lebih Besar dari Belanja Modal

Dibangun Dengan APBN Rp6,6 M, 'Pasar Rakyat Pusong' Lhokseumawe Terbengkalai

Retribusi Pelayanan Pasar Rendah, Ini Sejumlah Pasar 'Disia-siakan' di Lhokseumawe

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.