22 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pasutri Miskin Kurung Anaknya Karena Gangguan Jiwa

...

  • portalsatu.com
  • 07 November 2019 12:30 WIB

Mak Jasa dan Farida orang tua Rajumat [foto: Egar Shabara]
Mak Jasa dan Farida orang tua Rajumat [foto: Egar Shabara]

Pasangan suami istri (Pasutri) lanjut usia (Lansia), Mak Jasa (85) dan Farida (75) warga Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, hidup serumah dengan anaknya Rajumat (35), yang mengalami gangguan jiwa.

SINABANG -- Rajumat anak bungsu dari delapan bersaudara itu sudah enam tahun menderita gangguan jiwa dan dilarikan sekitar 10 kali untuk dirawat ke Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Kabupaten Simeulue, serta Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, namun hingga kini kondisinya tidak kunjung membaik.

Pengakuan pasutri miskin yang berjualan keliling sapu lidi dengan penghasilan tidak pasti, terkadang hanya laku terjual, dalam satu hari sekitar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 persatu hari untuk biaya hidup dan merawat anak bungsunya dari 8 bersaudara.

"Anak bungsu saya ini, entah apa awal penyebabnya anak saya jadi sakit seperti ini, padahal sebelumnya kondisi anak saya sehat, anak saya juga bisa mencari rezeki. Dia mulai sakit sejak pulang merantau dari Medan Sumatra Utara, entah apa yang terkena dia dari sana, dan anak saya ada 8 orang, kakak dan abangnya sudah menikah semua, tinggal kami bertiga dalam rumah ini," kata Mak Jasa. 

Masih menurut orang tua Rajumat, meskipun telah berulang kali dirawat di rumah sakit, termasuk upaya pengobatan secara tradisional, namun tidak kunjung sembuh bahkan semakin tidak terkendali dan prilakunya semakin buruk, sehingga kerap mengganggu dan pemukul orang termasuk kepada kedua orang tuanya.

Agar tidak mengganggu dan melakukan kekerasan terhadap orang lain, anak bungsunya itu dikurung dalam kamar rumahnya dengan ukuran sekitar 3x3 meter berdinding beton, pada pintu dan jendela dipasang jeruji dari kayu ukuran 5x5 cm dan ditutupi dengan seng bekas.

"Supaya tidak mengganggu dan memukul orang lain, terpaksa anak saya ini, kami tempatkan di kamar dan pintu maupun jendelanya kami pasang kayu dan seng, padahal rumah yang kami tempati saat ini, merupakan hasil dari kerja keras dia pada masa masih sehat dan belum sakit. Kami berharap ada perhatian dari siapapun untuk kesembuhan anak saya, sebab kami memang miskin dan biaya hidup kami dari jualan sapu lidi keliling," ungakap Farida ibu kandung Rajumat.

Sementara itu dr Farhan, Dirut RSUD Simeulue yang dihubungi portalsatu.com Rabu 6 Novenber 2019 mengatakan setiap pasien gangguan jiwa yang dirawat secara medis, hanya dilakukan perawatan sebatas rawatan hingga kembali ke prilaku normal atau prilaku yang tidak melakukan kekerasan terhadap sekitarnya, dan apabila penyakitnya kembali kambuh setelah dikembalikan ke keluarganya, maka pengawasannya menjadi tanggung jawab wewenang Dinas kesehatan dan Pukesmas setempat.

"Secara medis, RSUD Simeulue hanya merawat hingga prilakunya kembali normal atau tidak melakukan kekerasan fisik di lingkungannya, dan apabila setelah dirawa dan dikembalikan kelingkungannya itu, penyakit gangguan jiwanya kambuh lagi, itu wewenangnya petugas kesehatan dan petugas pukesmas setempat, sebab rumah sakit kita hanya menerima rujukan," tegas Farhan.[Egar Shabara]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.