17 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pedang Kuno dan Permata, Saksi Pergantian Kekaisaran Jepang

...

  • portalsatu.com
  • 30 April 2019 17:30 WIB

Sebilah pedang kuno dan kilau perhiasan akan jadi saksi sejarah ketika untuk pertama kalinya dalam dua abad, seorang kaisar Jepang turun takhta, Selasa, 30 April 2019. @AFP
Sebilah pedang kuno dan kilau perhiasan akan jadi saksi sejarah ketika untuk pertama kalinya dalam dua abad, seorang kaisar Jepang turun takhta, Selasa, 30 April 2019. @AFP

Sebilah pedang kuno dan kilau permata rahasia akan menjadi saksi sejarah ketika untuk pertama kalinya setelah dua abad, seorang kaisar Jepang turun takhta pada Selasa (30/4).

Dua benda keramat dalam kekaisaran Jepang itu akan dibawa masuk ke dalam Aula Pinus di Istana pada awal prosesi abdikasi Kaisar Akihito yang akan dimulai tepat ketika jam berdentang pukul 17.00 waktu setempat.

Pedang dan permata itu akan ditaruh di dalam sebuah kotak yang diletakkan di depan ruangan paling mewah di dalam Istana Kekaisaran tersebut.

Aula Pinus alias "Matsu-no-Ma" merupakan satu-satunya ruangan di dalam Istana yang berlantaikan kayu dari pohon zelkova. Dinding ruangan itu juga dibalut kain berukir motif daun pinus.

Di dalam ruangan itu, berdiri pula satu cermin keramat, salah satu peninggalan sejarah yang juga harus selalu ada untuk menjadi saksi pergantian kekaisaran Jepang.

Lebih dari 300 orang akan menjadi saksi abdikasi bersejarah ini, termasuk tamu kehormatan dari belasan kerajaan, pemerintah, pemimpin parlemen, hakim, hingga pejabat lokal beserta pasangannya.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pun akan mewakili rakyat dalam pidato yang bakal ia lontarkan tepat sebelum Akihito menyampaikan pesan terakhirnya sebagai kaisar.

Upacara ini memang akan menjadi kesempatan terakhir bagi Akihito untuk bertemu dengan para perwakilan rakyat sebelum ia turun takhta. 

Namun secara teknis, Akihito masih akan memegang Takhta Krisantemum sampai jarum jam berdentang menandakan pergantian hari.

Saat hari berganti, era kekaisaran Akihito yang diberi nama Heisei pun akan berakhir. Takhta Krisantemum akan berpindah tangan dari Akihito ke anaknya, Pangeran Naruhito.

Tepat tanggal 1 Mei, Naruhito akan memimpin kekaisaran era baru bernama Reiwa yang berarti harmoni indah. Pergantian kekaisaran ini akan diresmikan melalui upacara singkat yang dimulai pukul 10.30.

Pedang kuno, permata, serta cermin keramat kembali akan menjadi saksi perguliran takhta kekaisaran ini.

Namun dalam upacara pentahbisan Naruhito ini, seorang petarung kekaisaran akan mempersembahkan pedang dan permata itu.

Ia kemudian akan berdiri di depan cermin keramat dan merapalkan doa. Ritual ini disebut sebagai "pewarisan" cermin.

Naruhito tak diperkenankan mengucapkan satu patah kata pun dalam upacara yang tidak boleh dihadiri anggota perempuan kekaisaran ini.

Tepat pada pukul 11.10, Naruhito baru akan menyampaikan pidato pertamanya setelah menyandang titel kaisar.

Pidato pertama Naruhito itu akan disambut pernyataan Abe yang lagi-lagi berperan sebagai perwakilan rakyat.

Usai upacara tersebut, Naruhito belum dapat muncul di hadapan publik hingga 4 Mei, ketika ia akan menyapa rakyat dari dalam balkon lapis kaca.

Puncak penerimaan kaisar baru Jepang ini akan digelar pada 22 Oktober. Saat itu, Naruhito akan diarak keliling Tokyo dengan iring-iringan mobil.[]Sumber:cnnindonesia

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.