17 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pembongkaran Barak Pekerja PT EMM dan Perlawanan yang Belum Selesai

...

  • Rino
  • 14 April 2019 22:45 WIB

Proses pembongkaran barak pekerja PT EMM. Foto Rino
Proses pembongkaran barak pekerja PT EMM. Foto Rino

NAGAN RAYA - Pembongkaran kamp pekerja PT Emas Mineral Murni (EMM) selesai, Minggu, 14 April 2019. Proses pembongkaran berlangsung 3 hari sejak humas perusahaan itu menandatangi pernyataan hengkang dari Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang pada Kamis lalu.

Kamp pekerja dan seluruh aset PT EMM dibongkar dan diangkut dari lokasi sejak Jumat, 12 April lalu. Warga bersama personel TNI turut membantu dam mengawal jalannya pembongkaran.

"Jam 5 tadi selesai. Bongkahan kayu diangkut ke Ulee Jalan, sebagian masih ada di lokasi. Tinggal 1 lagi baraknya," jelas warga setempat, Zakaria (29), kepada portalsatu.com, Minggu, 14 April 2019, malam.

Barak yang tersisa dipergunakan sebagai tempat tidur oleh personel TNI untuk sementara waktu. Tujuannya menjaga beberapa aset perusahaan seperti mesin bor, dan genset yang belum diangkut dari lokasi.

"Tempat tidur orang Koramil. Jaga alat. Ada mesin bor besar 1, genset 2 buah. Besok warga tidak akan ke situ lagi. Tanggung jawab Danpol katanya," ucap Zakaria.

Dramatis dan Menegangkan

Pembongkaran kamp pekerja PT EMM berlangsung dramatis dan menegangkan. Warga bahkan meliburkan seluruh aktivitasnya untuk mengawal proses pembongkaran.

"Dari Kamis malam, seluruh kedai tutup semua, tidak jualan. Kedai, warung nasi tutup semua. Siang, juga tidak ada aktivitas. Seluruh warga, sampai anak-anak berkumpul di dua titik, jembatan, dan lokasi barak pekerja," tutur Zakaria.

Sejumlah warga sepakat tidur di lokasi barak pekerja pada malam sebelum pembongkaran. Tindakan ini diambil untuk memastikan pembongkaran benar-benar dilakukan.

Pembongkaran mulai dilakukan keesokan harinya dengan kawalan personel TNI dan Polri yang telah siaga sejak malam harinya. Personel TNI dan Polri telah berada di lokasi, tepatnya, ketika warga menyeruduk barak perusahaan pada sore harinya, Kamis, 11 April.

Humas PT EMM, Dwi Yanto, menandatangani pernyataan di atas materai Rp 6000 usai warga menggelar unjuk rasa di barak perusahaan sore itu. Isinya seluruh karyawan beserta aset perusahaan akan hengkang dari tempat itu dalam 24 jam

Pada Jumat pagi, warga berbondong-bondong menuju ke lokasi pembongkaran. Massa saat itu terbagi dua, sebagian yang terdiri dari ibu-ibu berkumpul di jembatan, tujuannya mengadang truk brigade mobil yang hendak menuju lokasi pembongkaran.

Sebagai catatan, barak pekerja PT EMM berlokasi di Desa Alue Baro, tepatnya, sekitar 10 kilometer dari pusat kecamatan. Lokasi barak pekerja berada di pinggiran jalan lintas Kabupaten Nagan Raya-Aceh Tengah.

"Yang di kepala jembatan, agar mobil polisi tidak lewat. Tidak dikasih lewat. Mobil reo (truk brigade mobil, red) cuma di Desa Blang Meurandeh saja, tidak lewat ke Kuta Teungoh," ungkap Zakaria.

Para ibu-ibu memblokade jalan dengan batang kayu, membakar ban bekas serta membawa spanduk. Aksi ini sempat membuat arus lalu lintas antarkabupaten tersendat sesaat.

Pembongkaran dilakukan oleh 4 orang pekerja perusahaan. Personel TNI dan warga turut membantu proses pembongkaran.

"Dari Jumat, lanjut bongkar barak, Sabtu, Minggu. Di lokasi tidak hanya ada barak pekerja, tetapi juga terdapat gudang, kantor," kata Zakaria.

Sebagai informasi, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang berupa lembah berada di kaki Gunung Singgah Mata diapit Gunung Abong-Abong dan Gunung Tangga, yang masih segugusan dengan Bukit Barisan.

Luas Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang sekitar 585,88 kilometer persegi dengan desa, Blang Puuk, Blang Meurandeh, Kuta Teungoh, dan Babah Suak ditambah satu desa persiapan. Kecamatan ini berjarak sekitar 74 Km dari pusat kabupaten.

Harus melewati tanjakan serta kelokan tajam di kawasan puncak Gunung Singgah Mata yang curam dan berkabut untuk mencapainya. Gunung ini berada di ketinggian sekitar 2.800 meter dari permukaan laut.

Wilayah yang berbatasan dengan Tanah Gayo ini punya cuaca yang cukup ekstrem, bagi yang baru mencecapnya. Di antara penduduknya–khususnya pria--mengenakan beanie atau kupluk, sejenis topi yang dipakai untuk menghangatkan kepala.

Melawan

Pergerakan menolak tambang sejatinya telah dilakukan pada 2013 silam, tepatnya, ketika warga menyurati Bupati Nagan Raya dan Gubernur Aceh untuk menolak keberadaan perusahaan tersebut. Isu ini kian melejit pascapengumuman rencana tanda batas wilayah IUP operasi produksi PT EMM oleh Kementerian ESDM RI melalui Direktorat Jenderal Minerba pada Juli 2018.

Reaksi menolak proyek pertambangan di tanah yang menjadi saksi pembantaian Tengku Bantaqiah dan puluhan santrinya menggelinding sejak saat itu. Aksi mahasiswa dilakukan di mana-mana, di lingkup Provinsi Aceh, bahkan meluas ke Pulau Jawa.

Warga bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh melempar gugatan agar izin operasional PT EMM dibatalkan ke PTUN di Jakarta pada Oktober lalu. Sayangnya, PTUN menggagalkan gugatan tersebut dalam sidang putusan Kamis, 11 April lalu.

Di hari yang sama, Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengamini permintaan mahasiswa yang sebelumnya menggelar aksi dan menginap di kantor keresidenan sejak Selasa, 9 April 2019. Dia saat itu meneken surat pernyataan menolak PT EMM yang disodorkan mahasiswa kepadanya.

Di tempat lain, warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang menyeruduk barak pekerja PT EMM. Aksi warga berhasil membuat humas perusahaan, meneken surat pernyataan hengkang dari kawasan itu dalam 24 jam.

Namun, apakah dengan adanya surat pernyataan tersebut PT EMM angkat kaki dari Aceh? Sebagian pihak ragu, karena perusahaan dinilai hanya pindah wilayah eksploitasinya saja, bukan angkat kaki dari Aceh, apalagi secara prosedur, izin perusahaan diakui kementerian terkait.

"Perjuangan masih panjang. Lucu jika menganggap PT EMM angkat kaki dari Beutong Ateuh Banggalang berarti angkat kaki dari Aceh. Bagi saya, ke depan, akan sangat susah. Siapa pun itu yang merasa menjadi pejuang dalam hal ini larut dalam euforia sesaat, jangan terkecoh! Di depan, jalan terjal mengadang. Yang susahnya ya yang akan terjadi ke depan ini," ucap Ketua Komunitas Dissidentium, Dewi Tantrum, di Meulaboh, belum lama ini.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.