20 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pembunuhan Sadis Tiga Warga Tionghoa di Gampong Mulia

...

  • MHD SAIFULLAH
  • 09 January 2018 20:49 WIB

BANDA ACEH – Lingkungan Pocut Meurah Inseun, Gampong Mulia, Banda Aceh, sudah sejak semalam ramai didatangi warga. Mereka terlihat berdiri berkerumun di depan dua ruko. Pintu ruko yang satu berwarna biru dan lainnya hijau itu telah dikelilingi dengan police line, Selasa, 9 Januari 2018.

Semalam, Senin, 8 Januari 2018, polisi menemukan tiga mayat di dalam rumah toko ini. Ketiga identitas mayat tersebut belakangan diketahui adalah Minarni (40), Callietos NG (8 tahun), dan Tjisun (45). Ketiganya merupakan satu keluarga yang sehari-hari bertindak sebagai distributor. 

Tjisun dan keluarga merupakan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari Sumatera Utara. Warga sekitar tidak begitu mengenal keluarga ini karena kepribadian mereka yang tertutup. Meskipun demikian, baik Minarni maupun Asun--sapaan akrab Tjisun--dikenal sebagai sosok yang ramah.

Temuan tiga jenazah ini mengagetkan banyak pihak. Apalagi kondisi tubuh mereka saat ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Polisi menemukan jasad Minarni, yang adalah istri Asun, di ruang tengah dengan kondisi telanjang bulat dan luka bekas cekikan. Kemudian polisi juga menemukan jasad Callietos NG di ruang tengah. Kepala bocah ini terpisah dengan badan yang diduga bekas bacokan.

Polisi selanjutnya menemukan jenazah Asun tertelungkup di kamar mandi. Tak kalah sadis, kepala pria ini juga ditemukan nyaris terpisah dari badan. "Semua ditemukan di lantai satu," ungkap Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin, saat ditemui di lokasi, Selasa, 9 Januari 2018.

Polisi kemudian mengevakuasi ketiga jenazah warga keturunan Tionghoa ini ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) untuk otopsi, Selasa dinihari tadi. 

Kasus ini tentu menarik perhatian publik di tengah terjaminnya keamanan di ibukota Aceh. Hal ini pula yang membuat polisi harus bekerja ekstra dengan mengerahkan tim penyidik dari forensik Polda Aceh untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Hingga Selasa siang, beberapa anggota polisi dan tim penyidik masih mencari  barang bukti di seputaran dua ruko di Lingkungan Pocut Meurah Inseun itu.

Polisi menduga mayat Asun diseret pelaku ke kamar mandi. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya percikan darah, di ruko yang bersebelahan dengan ruko tempat penemuan ketiga mayat warga keturunan itu.

“Begitu kita lihat ada percikan darah di mana-mana, dan ada bukti kalau dia (mayat Asun) diseret ke dalam (ke lokasi penemuannya)," ungkap T Saladin.

Saladin menyebutkan butuh waktu kurang lebih dua jam untuk menemukan ketiga lokasi pembunuhan korban. Apalagi tempat kejadian perkara berada di dua ruko bersebelahan yang tidak memiliki akses keluar masuk dari dalam bangunan.

"Tidak ada pintu (di dalam) yang dapat mengakses keduanya. Cuma ada pintu yang di depan (di garasi) yang dapat untuk mengakses ke ruko sebelahnya,” ungkap T. Saladin.

Pihak keluarga keberatan jika jenazah Asun, Minarni, dan Callietos NG diotopsi secara mendalam. Pihak keluarga hanya mengizinkan polisi melakukan visum tubuh korban dari luar. Polisi kemudian meminta keluarga korban untuk menandatangani surat peryataan tidak berkenan diotopsi.

Keberatan keluarga ini tidak menjadi kendala bagi penyidikan kasus pembunuhan ini. Saladin mengaku kasus ini bisa dilihat secara logika.

"Namun demikian untuk menguatkan lagi isi berita acara dalam pemeriksaan, dokter yang sudah mengeluarkan hasil visum kita minta untuk memberikan keterangan lebih dalam dan kita tuang dalam BAP,” kata Saladin lagi.

Selain menyelidiki lokasi tempat penemuan tiga jenazah ini, Kapolresta Banda Aceh juga menginstruksikan jajarannya untuk melacak wilayah kerja Asun. Sebagai distributor makanan, Asun diduga kuat memiliki relasi yang sehari-hari pasti berkomunikasi dan berjumpa dengan korban.

“Semalam tim lapangan saya arahkan, karena dia seorang distributor makanan, cari informasi dia kirim barang ke mana saja untuk mengetahui siapa saja karyawannya,” ungkapnya.

Diduga Tewas Antara Dua Hingga Tiga Hari Lalu

Berdasarkan penyelidikan awal, ketiga jenazah warga keturunan Tionghoa ini diperkirakan meninggal dua hingga tiga hari lalu. Sementara mayat baru ditemukan setelah adanya laporan dari warga sekitar yang curiga dengan kondisi rumah korban. Apalagi warga tidak melihat ada aktivitas di rumah toko itu sejak beberapa hari belakangan.

“Kecurigaan dari tetangga, ini kok tidak buka-buka di luar kebiasaan. Sejak hari Sabtu dikatakan, itu sudah tidak ada aktivitas,” ujarnya.

Perkiraan waktu tewas untuk ketiga jenazah ini juga diperkuat dengan pemeriksaan medis. Dokter memperkirakan korban dibunuh antara dua hingga tiga hari dari waktu penemuan jenazah.

Polisi juga telah mengamankan beberapa barang bukti, seperti gunting dan pakaian korban. Petugas juga sedang mencari benda tajam yang diduga menjadi alat untuk mengeksekusi korban Asun dan anaknya yang berusia delapan tahun itu.

Meskipun demikian, polisi menduga pelaku tidak bertindak sendiri saat membunuh korban. Hal ini disebabkan lokasi dugaan pembunuhan yang terpisah. 

"Kita tidak boleh menduga-duga. Sambil mencari informasi, kalau semalam kita mau ngomong dengan tetangga juga susah karena ramai sekali. Namun ini nanti akan kita lacak dan kita arahkan apa-apa yang dilakukan,” katanya lagi.

Warga Tidak Begitu Kenal Kepribadian Korban

Warga sekitar tidak banyak mengetahui tentang latar belakang Asun dan keluarganya dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga Asun bahkan tidak begitu bergaul dengan warga di lingkungannya meskipun ramah jika berpas-pasan dengan mereka.

“Kan dia karena kerja pergi pagi pulang sore. Setelah itu kami tidak ada komunikasi lebih daripada itu,” kata Nena Ahmadi, salah seorang warga yang tinggal tidak begitu jauh dari rumah Asun.

Nena menilai Asun sebagai orang yang bertipikal pekerja keras dalam menjalankan usahanya. Apalagi Asun hanya dalam waktu-waktu tertentu dapat berkomunikasi dengan para tetangga.

“Terhadap tetangga dia baik, karenakan mereka pekerja dengan anak satu. Jadi kegiatannya setiap pagi kegiatan dia ya antar anak kemudian kampas. Pulang kampas sore dan selesai tidak ada kegiatan apapun, kecuali kalau udah mau maghrib dia keluar. Kalau kita tanya untuk pergi makan malam,” ujar Nena.

Nena mengatakan Asun tinggal di ruko itu hanya bersama anak dan istrinya. Sementara karyawan yang bekerja di tempat Asun pergi pagi pulang sore. "Nggak ada yang nginap," kata Nena.

Nena menyebutkan Asun dan keluarganya sudah menetap di kawasan Gampong Mulia selama lima tahun. Sebagai tetangga, Nena terakhir kali melihat aktivitas keluarga Asun pada Jumat lalu. Nena menyebutkan tidak ada yang mencurigakan di hari terakhir dia melihat keluarga Asun, meski ada beberapa klien kerja menanyakan keberadaan korban yang dikenal sebagai pengusaha distibusi makanan tersebut.

“Pengangkutan selalu tanya, ke mana orangnya. Kami yang sering duduk di bawah pohon ini (tidak jauh dari rumah korban) selalu bilang, panggil aja mungkin orangnya di dalam,” kata Nena.

Kebiasaan seperti ini berubah pada Sabtu, 6 Januari 2018. “Waktu itu barang sudah diturunkan, tetapi orangnya sudah tidak ada,” ujarnya lagi.

Kematian warga keturunan Tionghoa asal Sumatera Utara ini, dikatakan Nena, baru diketahui setelah pihak keluarga menanyakan kabar para korban. 

“Berarti hari Jumat lah terakhir. Mereka ditemukan sama polisi waktu semalam (Senin malam) jam 9. Tetangga sebelah yang bilang, bahwasanya dari keluarga tidak ada yang kontak lagi (hilang kontak dengan korban), lalu pihak keluarga panggil tetangga sebelah. Istilahnya panggil untuk konfirmasi karena tidak ada terdengar lagi berita (kabar) apa-apa. Selama ini tidak ada tercium bau karena kan ini Ruko, jadi nggak ada tercium apapun,” ungkap Nena mengakhiri.[]

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.