19 January 2021

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemerhati Budaya Aceh Apresiasi Pembangunan Underpass Po Meurah pada Tol Sibanceh

...

  • Fakhrurrazi
  • 04 September 2020 12:20 WIB

Tarmizi Abdul Hamid (Cek Midi). Foto: Istimewa
Tarmizi Abdul Hamid (Cek Midi). Foto: Istimewa

BANDA ACEH - Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengapresiasi rencana pembangunan terowongan (underpass) sebagai lalu lintas gajah (po meurah, sebutan orang Aceh untuk gajah) pada Jalan Tol Sigli- Banda Aceh (Sibanceh) sepanjang 74 km.

Hal tersebut ia sampaikan usai menelusuri rute tol Indrapuri sampai Lamtamot, Aceh Besar, beberapa hari lalu. Kolektor manuskrip Aceh ini juga menemui masyarakat desa di sekitar Lamtamot untuk menanyakan beberapa hal menyangkut adat dan kebudayaan yang berdampak langsung dengan pembangunan proyek strategis nasional tersebut.

Mantan Pengurus Majelis Adat Aceh ini memaparkan bahwa dalam pembangunan jalan tol ini pemilik proyek PT Hutama Karya (Haka) dan pelaksana proyek PT Adhi Karya telah menunjukkan keberhasilan dalam memahami sosial budaya dan kepentingan masyarakat yang sesuai dengan kaedah dan kearifan Aceh. Menurutnya, ini perlu dicontohkan kepada investor lainnya yang akan membangun Aceh ke depan. 

"Hampir semua masyarakat yang saya ajak berdiskusi di lapangan tentang dampak pengerjaan jalan tol pertama di Aceh ini menunjukkan tanggapan atau hasil yang positif untuk pembangunan underpass," kata Tarmizi akrab disapa Cek Midi kepada portalsatu.com, Jumat, 4 September 2020.

Cek Midi menjelaskan keberadaan underpass bagi jalur gajah bukan hanya ada di Aceh, tetapi ada juga di bagian Sumatera lain yakni Pekanbaru-Dumai. Sementara itu lokasi jalur gajah tersebut dibangun pada kawasan lintasannya selama ini, yaitu di seksi 1 Padang Tiji - Lembah Seulawah.

Menurut Cek Midi, urgensi yang dapat dilihat dari pembangunan underpass itu, gajah merupakan hewan langka yang dilindungi undang-undang. Bahkan, masa Kesultanan Aceh, gajah menjadi simbol kebesaran Aceh, penduduk pribumi Aceh, gajah sangat dihormati sehingga dalam berbagai seremonial upacara kenegaraan gajah sering diabadikan, terutama upacara adat, dan upacara militer. 

“Hingga penghormatan militer terhadap gajah sampai sekarang masih terus diabadikan pada instansi militer Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda yang logonya digunakan gajah putih. Ini adalah suatu perjalanan panjang keterlibatan gajah atas segala jasa sebagai kendaraan transportasi perang di Aceh pada era lampau. Maka banyak orang Aceh memanggil gajah dengan nama, di antaranya, po meurah, teungku di Malem, dan sebagainya," ungkapnya.

Menurut Cek Midi, pembangunan underpass Jalan Tol Sibanceh untuk melindungi habitat gajah. Artinya, pembangunan jalan tol tersebut bukan hanya memiliki kepentingan bagi manusia, tetapi juga bagi alam agar tidak terganggu ekosistem mamalia tersebut. Jika ini tidak dilakukan maka jalan tol tersebut akan rusak, bisa jadi akan diganggu gajah dengan berbagai macam cara.

Cek Midi menambahkan, selama ini sering terjadi konflik gajah dengan manusia disebabkan gajah sudah menganggap manusia sebagai musuh, bukan lagi kawan. Karena habitatnya diganggu, gadingnya diburu bahkan banyak yang dibunuh.

"Dengan dibangunnya underpass itu, kita memberikan apresiasi kepada mereka, berarti mereka menghargai sistem kearifan lokal di Aceh yang sangat diuntungkan," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata Cek Midi, perusahaan yang sudah berempati untuk melakukan pembangunan underpass itu memberikan penghormatan kepada adat dan budaya serta khazanah di Aceh. Apalagi Aceh merupakan daerah khusus dengan adanya syariat Islam dan kewenangan khusus lainnya.

"Para kontraktor pengerjaan proyek ini sangat mengerti dan memahami dengan cepat menyesuaikan kehidupan adat dan budaya serta sosial masyarakat dalam waktu sesingkatnya," tuturnya.

Seperti diketahui, megaproyek insfrastruktur highway (Tol) Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) sepanjang 74 km terus dipacu, sehingga target penyelesaian tol pertama di Bumi Serambi Mekkah ini dapat selesai pada tahun 2021. Tol dinamakan Sibanceh, dari total jarak 74 km ini memilik 6 rute seksi. 

Salah satunya rute seksi Indrapuri-Blang Bintang 14,7 km,  yang sudah selesai dan telah diresmikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 22 Agustus lalu dan mulai digunakan masyarakat.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2021 All Rights Reserved.