19 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemilu Australia: Mengapa politik ibarat racun bagi para perempuan di negeri kanguru

...

  • portalsatu.com
  • 20 May 2019 16:00 WIB

Sarah Hanson-Young menyebut diserang dengan perkataan seksis di parlemen tahun 2018. @EPA
Sarah Hanson-Young menyebut diserang dengan perkataan seksis di parlemen tahun 2018. @EPA

Perempuan Australia tidak ingin lagi berkecimpung dalam bidang politik.

Sejumlah dugaan persekusi seksis dan misoginis muncul belakangan ini, seiring jatuhnya Australia dalam peringkat global terkait representasi perempuan di bidang politik.

Australia terlihat cenderung mendukung anggota parlemen laki-laki yang banyak omong dan agresif, yang tumbuh dalam atmosfer kebebasan politik Canberra.

Namun beberapa anggota parlemen perempuan mulai mengungkap bahwa budaya politik yang saat ini berkembang harus diubah.

Ketika akhir pekan ini Australia menghadapi pemilihan umum, BBC menilik perihal yang dianggap sebagai 'permasalahan perempuan' dalam perpolitikan Australia.

Sarah Hanson-Young berusia 25 tahun ketika ia memenangkan satu kursi Senat Australia tahun 2007. Ia adalah perempuan termuda yang mampu melakukan itu.

Anggota Partai Hijau itu selalu blak-blakan dalam persoalan yang dianggap progresif dan hak-hak perempuan.

Namun ia juga panjang lebar berbicara tentang sikapnya yang berlawanan dengan lawan politiknya, terutama yang menyangkut "pakaian, tubuh, dan kehidupan seksualnya".

Hanson-Young terbiasa mengabaikan cibiran itu. Namun perubahan di parlemen tahun lalu memperlihatkan persoalan yang sebenarnya tengah terjadi.

Peristiwa itu terjadi dalam perdebatan tentang keamanan perempuan, menyusul sebuah kasus pembunuhan yang mengguncang Australia.

Kala itu, seorang komedian perempuan muda bernama Eurydice Dixon diperkosa dan dibunuh orang tak dikenal saat tengah berjalan kaki menuju rumahnya di suatu malam.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Hanson-Young menyebut sebenarnya tidak perlu perlindungan ekstra jika laki-laki tidak memperkosa perempuan.

Merespons pendapat itu, seorang senator laki-laki bernama David Leyonhjelm berkata, "Anda semestinya berhenti bercinta dengan laki-laki, Sarah."

David, senator dari Partai Liberal Demokrat yang dikenal karena komentar kontroversialnya itu, menolak meminta maaf kepada Hanson-Young, janda beranak satu.

David justru mengulangi komentarnya bahkan mengutarakan hal-hal serupa lainnya dalam sesi wawancara di televisi dan radio.

David menuduh Hanson-Young hanya mengumbar hipokrisi. Sebaliknya, Hanson-Young menuduh David mempermalukan perempuan dari segi seksual. Menurutnya, cercaan semacam itu digunakan untuk membungkam perempuan.

Hanson-Young menyebut putrinya yang berusia 11 tahun pernah ditanyai orang-orang di sekolah, apakah sang ibu memiliki banyak kekasih.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

"Saat itu saya memutuskan tidak dapat menoleransi laki-laki di lembaga itu, yang menggunakan seksisme dan cercaan serta sindiran seksis, sebagai siasat mengintimidasi," kata Hanson-Young.

Belakangan ia menggugat Leyonhjelm dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hanson-Young menganggap lawan politiknya itu menyerang karakternya dengan istilah munafik dan pembenci laki-laki.

Dia juga melaporkan tuduhan sepihak bahwa dirinya menuduh setiap laki-laki merupakan pelaku pemerkosaan.

Dalam berbagai kesempatan, Leyonhjelm selalu membantah telah mencemarkan nama baik Hanson-Young.

Hanson-Young merasa dapat menggugat Leyonhjelm karena memiliki posisinya sebagai senator cukup kuat di masyarakat. Sebaliknya, perempuan Australia lain tak berdaya menghadapi perundungan semacam itu.

"Jika kita tidak melawan persoalan ini di parlemen negara kita, di mana lagi kita dapat melakukannya?" kata Hanson-Young.

'Terlalu lama menderita dalam kesunyian'

Perpolitikan Australia dikenal riuh rendah dan gaduh, terutama karena berbicara apa adanya dianggap sebagai identitas penduduknya.

Namun para anggota parlemen perempuan menyebut komentar dan perlakuan yang mereka terima kerap kali bias gender. Mereka menilai perlakuan itu berada di batas perlakuan kejam dan intimidasi.

Hal tersebut, klaim para anggota parlemen perempuan itu, tidak dihadapi kolega laki-laki mereka.

Saat politikus perempuan, Julia Banks, secara sensasional keluar dari Partai Liberal yang tengah berkuasa tahun 2018, ia mencetuskan perlawanan.

Kala itu Australia, titik panas kudeta politik, baru saja menyaksikan bagaimana Perdana Menteri Malcolm Turnbull dijatuhkan partai oposisi. Di satu sisi Julia Banks merasa perlu bereaksi setelah mengalami pertikaian hebat.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Banks menunjuk jarinya kepada hal yang dianggapnya bencana kultural, bias gender, perundungan, dan intimidasi. Ia berkata, "perempuan telah begitu lama menderita dalam diam."

Banks mendapat sokongan dari sejumlah perempuan yang duduk di pemerintahan, termasuk Julie Bishop, pimpinan partai yang menyebut beragam perilaku kejam.

Seorang senator perempuan diancam untuk menyebut nama orang-orang yang menganggunya. Adapun, Menteri Urusan Perempuan, Kelly O'Dwyer, mengkonfirmasi tuduhan perundungan dan intimidasi.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Politikus perempuan di Partai Liberal telah menggalang berbagai anjuran bahwa mereka tidak bisa mengikuti arus liar politik yang diciptakan politikus laki-laki.

"Penanda karakter perempuan Australia adalah daya tahan dan semangat independen otentik yang kuat," kata Banks.

Bagi Banks, itu adalah bukti bahwa momen parlemen untuk berubah telah datang. Satu-satunya cara melakukan perubahan itu adalah representasi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan di parlemen.

Pertarungan jumlah perwakilan

Bicara tentang keberagaman gender, parlemen Australia terlihat lesu.

Perempuan Australia, tidak termasuk yang berasal dari suku asli dan kulit berwarna, pertama kali mendapatkan hak masuk ke parlemen tahun 1902. Namun butuh empat dekade sebelum perempuan pertama Australia akhirnya benar-benar menjadi anggota parlemen.

Selama waktu itu, capaian Australia lebih dulu dilewati setidaknya 29 negara.

Menurut pengamat, perempuan lebih sering mendapatkan kursi di senat karena pemilihannya menggunakan sistem proporsional. DPR Australia memiliki sistem yang berbeda.

Parlemen periode ini tercatat memiliki jumlah anggota perempuan terbanyak sepanjang sejarah. Tapi dibandingkan negara lain, Australia sebenarnya jauh tertinggal.

Dalam 20 tahun terakhir, Australia merosot dari peringkat 15 ke 50 dalam daftar negara dengan keberagaman parlemen tertinggi.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Secara umum, situasi ini terjadi karena dua partai yang ada tidak memberikan cukup perhatian. Penilaian tersebut dikatakan Jill Sheppard, pakar politik di Australian National University.

Jajak pendapat terkini yang digelar Australian Broadcasting Corporation menemukan dukungan signifikan di kalangan perempuan agar representasi mereka di parlemen meningkat.

Partai Buruh memiliki mekanisme tersendiri terkait persoalan ini. Mereka menerapkan kebijakan afirmatif tahun 1994. Kini representasi perempuan mereka hampir mencapai 50% atau dua kali lipat jumlah perempuan di pemerintahan.

Pada pemilu yang terjadi saat ini, perempuan akan bertarung memperebutkan setidaknya 31% persen kursi parlemen yang menjadi jatah rutin mereka, merujuk akademisi, Ben Raue.

Jumlah perempuan di Koalisi Liberal-Nasional diperkirakan bakal menurun. Raue berkata, koalisi ini hanya memberi sekitar 16 kursi aman bagi calon anggota parlemen perempuan.

"Partai Liberal adalah faktornya," kata Sheppard saat ditanyai perihal capaian Australia dalam rangking keberagaman global.

Menurut Sheppard, Partai Liberal cenderung memandang politikus perempuan sukses mereka sebagai 'unicorn' alias perempuan hebat yang tak mungkin tergantikan.

Partai Liberal menargetkan keseimbangan representasi gender pada 2025, tapi secara ideologis berlawanan dengan kuota wajib. Mereka ingin perubahan itu terjadi secara alami.

"Kami tidak ingin melihat perempuan muncul hanya di bidang yang tak dapat dikerjakan laki-laki," kata pimpinan Partai Liberal sekaligus Perdana Menteri Australia, Scott Morrison pada pidato peringatan Hari Perempuan Internasional.

Morrison mendapat banyak kritik atas komentarnya yang dianggap menyiratkan bahwa laki-laki semestinya tidak kalah dan diungguli perempuan.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Diincar di posisi atas

Ini bukan persoalan baru bagi perempuan di Canberra.

Natasha Stott Despoja masuk parlemen tahun 1995 pada usia 26 tahun, ketika jumlah perempuan di badan legislatif itu hanya 14%.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Pada tahun ke-13 sebagai senator, saat ia menjadi pimpinan Partai Demokrat Australia, Despoja menyebut seksisme menjadi epidemi dalam budaya politik.

"Dari senator laki-laki yang berkata 'Anda sebaiknya mengenakan rok' sampai senator lain yang menyebut saya hanya bisa menjadi 'ibu' jika mempunyai anak," ujar Despoja kepada BBC.

Setelah tak aktif di parlemen, Despoja menjadi perwakilan Australia dalam gerakan penyokong hak perempuan di seluruh dunia. Ia mengamati perkembangan negara lain, sembari menyaksikan kekerasan gender terus terjadi di negaranya.

"Satu penyesalan terbesar bagi saya adalah lambatnya angin perubahan," kata Despoja.

Banyak yang mengira Australia telah berubah drastis saat Julia Gillard menjadi perdana menteri pertama negara itu.

Gillard membuat sejumlah perubahan dalam tiga tahun pemerintahannya, meski tak didukung suara mayoritas. Namun serangannya yang menjatuhkan Kevin Rudd menghantui reputasi dan legitimasi publiknya.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Lawan politik dan sejumlah media massa kerap memotretnya sebagai fifur Lady Macbeth, karakter yang mengharapkan ketakutan abadi pada ambisi perempuan.

Perdebatan seputar kebijakannya, seperti pajak karbon, kerap berakhir dengan serangan berbasis gender dan kehidupan personal.

Gillard kerap digunjingkan karena tidak menikah dan tidak memiliki anak, kata Profesor Cheryl Collier dari Universitas Windsor dan Profesor Tracey Raney dari Universitas Ryerson, Kanada.

Isu serperti itu, menurut mereka, jarang digunakan untuk menyerang pimpinan negara laki-laki. Selama kepemimpinannya, Gillard mendapat sejumlah sebutan dari lawan politik:

  • monster menopause
  • seseorang yang sengaja mandul
  • perempuan cabul dan 'Ju-liar' (Julia sang pembohong)

Fiksasi terkait penampilannya saat itu bahkan tanpa tedeng aling-aling cabul. Dalam sebuah jamuan makan malam pada penggalangan dana Partai Liberal, terdapat menu 'Julia Gillard' yang secara spesifik merujuk pada bagian tubuhnya.

Serangan itu bahkan menjalar ke potret yang kasar. seorang pengamat di televisi menyebut warga Australia "semestinya menendangi Gillard sampai mati".

Seorang penyiar radio kenamaan Australia juga pernah menyebut, Gillard "sebaiknya dimasukkan ke karung jerami lalu dilempar ke laut lepas".

Sejumlah akademisi menyebut beragam perkataan keras itu muncul karena Gillard menentang stereoptip Australia tentang pemimpin yang baik.

"Bahkan perempuan yang mencapai puncak tangga perpolitikan tetap berhadapan dengan insitusi yang melanggengkan maskulinitas," kata Collier dan Raney.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Tahun 2012, Gillard berkonfrontasi dengan pihak-pihak yang seksis dan misoginis dalam pidatonya di parlemen. Pidato itu bergema ke seluruh dunia. Kini anggota perempuan di sayap partai Buruh Muda bahkan menjadikannya sebagai nyanyian.

Namun dalam pidato terakhirnya sebagai perdana menteri, setelah dicopot partainya sendiri, Gillard terlihat tabah pada efek gender yang dihadapinya selama menjadi orang nomor satu Australia.

"Hal itu tidak menerangkan segalanya. Itu tidak menjelaskan apapun, tapi beberapa hal. Ini semestinya mendorong bangsa ini berpikir dalam sudut pandang rumit tentang hal yang tidak jelas itu."

Kepemimpinan ideal

Jadi apakah persoalan ini hanya menyangkut yang terjadi di parlemen atau sebenarnya isu besar dalam budaya Australia?

Disebutkan bahwa politikus perempuan paling senior selama beberapa dekade di Australia, Gillard dari Partai Buruh dan Bishop dari Partai Liberal, tidak memiliki anak.

Untuk negara sebesar Australia, kehidapan parlemen bagi anggota DPR perempuan yang tidak berasal dari Canberra, terutama terkait keluarga, merupakan tantangan berat yang dihadapi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah anggota parlemen, termasuk O'Dwyer dan segelintir anggota laki-laki, mundur karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan kehidupan berumah tangga.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Namun Sonia Palmieri, peneliti politik gender di Yayasan 2030 menyebut bias yang tidak diakui ini terus menjadi persoalan mendasar.

"Sistem kami selalu menganggap aktor politik bebas nilai gender. Padahal faktanya, mereka hidup dalam standar maskulin dan tentu saja mengabaikan perempuan," kata Palmeiri.

Menurut Palmeiri, situasi ini terjadi karena dua gagasan tentang kepemimpinan politik yang ideal. Pertama, politikus yang keras dan banyak bicara. Orang semacam ini disebutnya mudah disayangi publik.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Palmeiri berkata, masih terdapat pesona kultural dari eks perdana menteri Bob Hawke yang terkenal gemar minum bir dan bercanda bahwa para pekerja berhak libur sehari setelah kemenangan besar Australia di bidang olahraga.

Tipe pemimpin yang diterima di Australia, kata Palmeiri adalah mereka yang agresif. Politikus yang ketus dan tajam dihormati atas keahlian mereka menghentikan cecaran oposisi.

Paul Keating dan Tony Abbott adalah perdana menteri yang dikenal karena kerap menyerang lawan politik secara retoris.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Menurut Blair Williams, pengamat politik dari Australian National University, agresivitas dan gaya bicara tajam sesuai dengan stereotip identitas Australia.

"Kami memiliki sosok seperti ini dalam diri pemain sepakbola dan penjaga pantai, maskulinitas yang identik dengan laki-laki, ciri yang ditampilkan orang seperti Tony Abbott. Tapi ciri ini tidak memberi ruang bagi perempuan," ujarnya.

Adapun menurut Pamieri, agresivitas dan bahkan ambisi sering dianggap bukan bagian dari seorang perempuan.

Palmieri pun merujuk Gillard. Ia tidak hanya diserang karena memegang kekuasaan, tapi juga tak diberikan kesempatan menunjukkan gaya kepemimpinan lain kepada masyarakat.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Sejumlah akademisi juga menggarisbawahi standar ganda yang diterima Emma Husar, anggota parlemen dari Partai Buruh. Husar dipaksa mundur tahun lalu setelah muncul berita tentang dugaan kekerasan seksual.

Berita tersebut memang berisi serangan seksual, tapi juga fokus pada kehidupan seks Husar.

Husar, seorang orang tua tunggal, belakangan menyebut fitnah bernuansa seksual itu mengakhiri kariernya. Ia berkata, Partai Buruh memintanya mundur dua hari setelah berita itu beredar ke publik.

Setelah itu, investigasi yang digelar Partai Buruh tidak menemukan bukti kekerasan seksual terhadap Husar. Meski begitu ketika itu mereka berkata, "komplain tidak masuk akal yang disampaikan anggota kami tetap berguna".

Jill Sheppard menyebut dua partai besar Australia terjebak asumsi tradisional tentang perempuan. Mereka menggenjot karier politikus laki-laki ke pemerintahan, tapi menghambat jalur karier kandidat perempuan.

"Mereka tidak melakukan itu secara sengaja, tapi menjalankan perilaku yang telah mendarah daging dan dianggap wajar," kata Sheppard. Laki-laki, kata dia, dianggap sebagai opsi yang paling aman.

Bagaimanapun, penelitian Sheppard menunjukkan bahwa perempuan sebenarnya memiliki elektabilitas yang tinggi.

Survei yang dilakukannya terhadap dua ribu warga Australia tahun 2018 menyatakan, meski sejumlah faktor menunjukkan keberimbangan dua gender ini, kandidat pejabat perempuan lebih populer ketimbang laki-laki.

Merujuk negara-negara Skandinavia, Sheppard menyebut keterlibatan perempuan di perpolitikan semestinya mencapai angka 30-40%. Hal itu disebutnya terjadi di Partai Buruh, sedangkan Partai Liberal 'baru bisa mewujudkannya 20 tahun ke depan'.

"Kita belum mencapai tahan itu, tapi yang kita saksikan di Australia saat ini adalah pergeseran generasi yang begitu cepat."

"Saya harap 15-20 tahun ke depan, isu ini tidak lagi dianggap sebagai persoalan," ujar Sheppard.

'Anda harus lebih berani'

Pertanyaannya kini, apakah isu gender ini mendorong perempuan muda masuk ke dunia politik?

Sejak duduk di bangku sekolah, Megan Stevans (19 tahun), bercita-cita menjadi anggota parlemen. Kini ia tengah menempuh pendidikan tinggi di bidang politik di University of Melbourne.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Namun Stevans belakangan semakin yakin bahwa ia akan lebih nyaman bekerja di balik layar sebagai staf politik. "Cara mereka memperlakukan Julia Gillard sungguh memukul saya," tuturnya.

Hal yang juga dirasakan Iliana Tai, presiden serikat mahasiswa University of Sydney. Ia juga berstatus juara debat dan menjalani program magang di parlemen selama musim panas lalu.

Tai menyebut mengejar karier politik adalah cita-cita yang berlebihan. Menurutnya, perubahan budaya yang memungkinkan perempuan muda keturunan China sepertinya menjadi anggota parlemen tidak akan tercapai sepanjang usianya.

"Publik mendambakan pemimpin yang familiar dan yang mereka kenal selama itu, dan itu didominasi laki-laki, terutama dari kalangan kulit putih," tuturnya.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Tai yakin bahwa dua partai besar Australia masih akan memilih calon pemimpin yang sesuai dengan stereotip tersebut.

"Saya rasa mereka mengejar elektabilitas, memprioritaskan apa yang publik inginkan dan itu melanggengkan keengganan untuk membuat perubahan."

"Mereka semestinya sedikit lebih berani, melakukan hal yang tidak disenangi orang banyak dan memberi kesempatan bagi wajah-wajah baru," ujarnya.

Tahun 2018, kegagalan salah satu perempuan paling kuat, Julie Bishop, naik ke tampuk kekuasaan membuktikan bahwa kualitas tidak cukup.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Selama 11 tahun terakhir, Bishop adalah wakil dari empat pimpinan laki-laki Partai Liberal. Bishop juga berstatus sebagai anggota parlemen selama dua dekde tarakhir dan menjadi menteri luar negeri perempuan pertama Australia.

Namun Bishop tahun lalu mundur setelah kalah dari Scott Morrison yang kini menjadi perdana menteri. Australian Financial Review lantas menyebutnya sebagai 'perdana menteri perempuan yang tidak pernah menjabat'.

Pada hari pengunduran dirinya, Bishop mengenakan sepatu hak tinggi berwarma merah tua.

<!--EndFragment--><!--StartFragment-->

Apapun ajang politik yang tengah berlangsung, potret sepatu hak tinggi mewah dikelilingi laki-laki bersetelah serba hitam menjadi ikon perempuan menentang kekuasaan.

Museum Demokrasi Australia belakangan memajang sepatu merah milik Bishop tersebut, bersama potret dan keterangan yang bertuliskan, "pernyataan tegas, simbol solidaritas dan pemberdayaan perempuan Australia".

Tai mengaku telah menyingkirkan harapan setelah Bishop mundur dari pertarungan politik.

Tai menyebut pidato terakhir Bishop parlemen, bahwa pemerintahan adalah salah satu panggilan jiwa terbesar.

"Saya sungguh tergerak dengan perkataan itu karena itu juga yang selama ini saya yakini," kata Tai.

"Berada di parlemen masih menjadi cara terbaik mewakili masyarakat dan membuat perubahan berarti," ujarnya.[]Sumber:cnnindonesia.com

<!--EndFragment-->

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.