23 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pemimpin Korut Keluarkan Peringatan Tegas untuk Trump

...

  • PORTALSATU
  • 02 January 2019 14:00 WIB

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018. Foto: Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018. Foto: Reuters

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memanfaatkan pidato Tahun Baru-nya untuk menyampaikan peringatan tegas kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam pidato Tahun Baru 2019 yang disiarkan secara nasional pada 1 Januari 2019, Kim Jong-un menegaskan Korea Utara akan mengambil “jalan baru” dalam pembicaraan nuklir jika AS tidak melonggarkan sanksi ekonomi.

Kendati pemimpin muda yang disegani ini menggarisbawahi kesediaannya untuk bertemu Trump lagi, ia tidak terdengar menawarkan inisiatif baru untuk mempercepat pembicaraan yang telah mandek sejak tatap muka pertama mereka pada Juni 2018.

Sebaliknya, Kim Jong-un menyatakan kesabarannya atas pemberian sanksi oleh AS yang dibuat sebagai hukuman untuk program persenjataan nuklirnya sudah habis.

“Saya bersedia duduk dengan Presiden AS [Trump] kapan saja di masa mendatang dan akan berusaha untuk membuat hasil yang akan diterima oleh masyarakat internasional," kata Kim yang mengenakan jas dan dasi dalam penyampaian pidatonya, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Namun, jika Amerika Serikat tidak memberikan janjinya dan salah menilai kesabaran rakyat kami, dengan membuat tuntutan sepihak untuk melanjutkan sanksi dan menekan kami, kami tidak memiliki pilihan selain mencari jalan baru untuk melindungi kemerdekaan, kepentingan, dan perdamaian negara [Korut] di Semenanjung Korea,” lanjut Kim.

Kim juga mengisyaratkan kesepakatan yang mungkin diperlukan untuk memperkecil aliansi AS-Korea Selatan, dengan mendesak Korsel untuk tidak melanjutkan latihan militer dengan Amerika.

Dia menjelaskan keyakinannya mengenai perjanjian untuk bekerja sama menuju denuklirisasi lengkap di Semenanjung Korea adalah mencakup aset-aset strategis seperti pesawat dan kapal perang berkemampuan nuklir milik Amerika.

Kendati demikian, kemampuan Kim Jong-un untuk melancarkan ancamannya tampak terbatas jika Trump tetap mempertahankan sikap kerasnya. Pemerintah AS dapat mempertahankan sanksi-sanksinya melalui veto pada Dewan Keamanan PBB dan pengaruhnya terhadap Korea Selatan.

Jika Kim Jong-un meninggalkan pembicaraan nuklir dan melanjutkan uji coba senjatanya, dia akan mengambil risiko meremehkan pernyataan Trump bahwa Korea Utara tidak lagi menjadi ancaman nuklir.

Sementara itu, Amerika Serikat akan lebih mudah mengatur ulang sanksinya, setelah China dan Rusia mendasarkan argumen mereka untuk mengurangi sanksi karena penangguhan uji coba semacam itu.

Pidato itu menegaskan kembali garis perundingan antara Korut dan AS sejak pertemuan Trump dan Kim Jong-un di Singapura, dengan kedua belah pihak berbenturan mengenai langkah dan urutan langkah-langkah pelucutan senjata dan pelonggaran sanksi.

“Korea Utara kembali menegaskan posisinya, yang tetap tidak berubah,” kata Go Myong-hyun, seorang peneliti di Asan Institute for Policy Studies. “Prospek KTT AS-DPRK kedua yang akan segera berlangsung tidak lebih baik dari kemarin.”

Pidato tersebut menunjukkan fokus berkelanjutan Kim Jong-un pada diplomasi langsung dengan Trump, yang telah mengeluhkan tentang biaya mempertahankan dukungan militer AS untuk Korea Selatan.

Perwakilan-perwakilan Kim Jong-un diketahui telah melewatkan serangkaian peluang untuk memulai pembicaraan dengan pihak AS dalam beberapa pekan terakhir, termasuk kunjungan utusan nuklir Stephen Biegun ke Seoul bulan lalu.

Trump sendiri tetap mendesak untuk adanya pertemuan kedua dengan Kim pada awal tahun ini. Dalam akun Twitter-nya pada 24 Desember, Trump bahkan menyampaikan progres yang dibuat dengan Korut.

Penulis: Renat Sofie Andriani.[]Sumber: bisnis.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.