29 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Lhokseumawe
Pemko Tetap Pakai Bekas SMP Arun untuk Ruang PINERE, Mataqu Diminta Pindah

...

  • PORTALSATU
  • 28 September 2020 20:10 WIB

Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya menggelar konferensi pers, Senin, 28 September 2020. Foto: portalsatu
Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya menggelar konferensi pers, Senin, 28 September 2020. Foto: portalsatu

LHOKSEUMAWE – Pemerintah Kota Lhokseumawe memutuskan tetap akan membuat Ruangan Rawat PINERE Pasien Covid-19 di bekas bangunan SMP dalam Kompleks Perumahan PT Perta Arun Gas (PAG). Dayah Mataqu yang selama ini menggunakan eks-SMP itu diberi waktu seminggu lagi untuk pindah ke lokasi lain.    

“Kepada Mataqu kita memberi dua solusi yang lain, yaitu ada tempat yang tidak berjauhan dengan lokasi tersebut. Yaitu Ruang Maintenance, dan Mess Plaju (dalam Kompleks Perumahan PAG). Itu sudah siap sekat-sekatnya,” kata Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, saat konferensi pers di Kantor Wali Kota, Senin, 28 September 2020, sore.

Suaidi menyebut pihaknya sudah berkomunikasi dengan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sebagai pemilik bangunan dalam Kompleks Perumahan PAG/bekas Kompleks Perumahan PT Arun di Batuphat Barat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Menurut Suaidi, LMAN mengizinkan jika Mataqu menempati sementara salah satu bangunan ditawarkan Pemko Lhokseumawe, yakni Ruang Maintenance, dan Mess Plaju. “Kita Pemko Lhokseumawe akan memberi rekomendasi kepada Mataqu untuk menyampaikan ke LMAN, dan LMAN sepakat,” ujar Suaidi didampingi Sekda Lhokseumawe, T. Adnan, Kepala Dinas Kesehatan, Said Alam Zulfikar, Staf Ahli Wali Kota bidang Kemasyarakatan dan SDM, M. Amin, dan Kepala Bappeda, Salahuddin.

Baca juga: Baca: Wali Santri Mataqu Tolak Rencana Pemko Alih Fungsi Eks-SMP Arun untuk Ruang PINERE)

Suaidi mengaku sudah mendengar adanya penolakan terhadap rencana Pemko Lhokseumawe melakukan alih fungsi gedung eks-SMP Arun untuk Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19. “Tetapi karena menyangkut Ruang PINERE kita cukup mendesak untuk saat ini, karena korban (kasus Covid-19) di Lhokseumawe terus bertambah. Kita khawatir tidak tertampung di Rumah Sakit Cut Meutia, karena ruangannya tidak cukup. Maka kami mengambil sikap tegas, kita tetap pakai untuk Ruang PINERE adalah bekas SMP yang sekarang diduduki Mataqu,” tuturnya.

"Maka nanti kita surati Mataqu untuk memberi waktu satu minggu lagi untuk persiapan pindah. Kalau solusi ini pun tidak disikapi, itu terpaksa kami mengambil alih dengan tegas. Kalau tidak pindah, kita akan meminta pihak Satpol, keamanan kita, untuk penertiban,” tegas Suaidi.

Suaidi menyatakan kepentingan kesehatan manusia itu utama. "Ini untuk pelayanan pasien Covid-19. Kita tidak ada tempat yang lain yang bisa kita buat Ruangan PINERE, karena ketentuan Menteri Kesehatan dan ketentuan Dinas Kesehatan Aceh itu harus berdekatan dengan rumah sakit, tidak boleh jauh, karena dokter dan perawat langsung satu lokasi dengan rumah sakit. Juga kita siapkan rumah khusus dokter dan perawat, 16 rumah yang diberikan LMAN di kompleks itu".

"Jadi ini persoalan besar yang kita hadapi di Lhokseumawe dengan bertambahnya kasus Covid-19. Kita perlu mengambil sikap, pemerintah dan unsur muspida sudah sepakat yang pada prinsipnya Ruang PINERE wajib bangun di bekas SMP Arun yang memang satu kesatuan dengan Rumah Sakit Arun," ujar Suaidi.

Suaidi juga menyampaikan bahwa Pemko Lhokseumawe mengalokasikan dana Otsus tahun 2021 senilai Rp500 juta untuk pembangunan Dayah Mataqu di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat.

Ditanya apakah sudah dilakukan komunikasi dengan pihak Mataqu soal solusi yang ditawarkan Pemko Lhokseumawe, Suaidi mengatakan, "Sudah disampaikan Staf Ahli dan Kepala Bappeda ke Mataqu solusi tersebut, walaupun ada penolakan. Ini masalah kemanusian, keselamatan umat itu nomor satu".

Lihat pulaBantuan Keuangan Covid-19 dari Pemerintah Aceh: Lhokseumawe 15 M, Aceh Utara 10 M

Suadi mengakui Pemko Lhokseumawe akan menggunakan dana Rp600 juta untuk menyiapkan 14 Ruang PINERE di bekas SMP Arun, dari total bantuan keuangan Rp15 miliar diberikan Pemerintah Aceh.

"Apabila tidak mencukupi bantuan provinsi Rp600 juta untuk rehab Ruang PINERE tersebut kita akan tambah uang APBK, karena itu harus sempurna. Dan kita tidak bisa menunggu terlalu lama masalah Ruang PINERE, karena kasus wabah ini tidak menunggu waktu. Ini untuk keselamatan umat, untuk merawat orang yang sakit," tegas Suaidi.

Suaidi menambahkan, "Tidak boleh Ruang PINERE itu pindah (dibuat di lokasi lain), karena bekas SMP Arun itu satu kesatuan dengan rumah sakit yang dipinjampakaikan untuk Pemko Lhokseumawe dalam pengelolaan Rumah Sakit Arun (dikelola Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe/PDPL)". 

Kadis Kesehatan Lhokseumawe, Said Alam Zulfikar, mengatakan Ruang PINERE harus menjadi bagian dari rumah sakit. Seperti Ruang ICU, satu kesatuan dengan rumah sakit.

"Kasus Covid-19 terus menanjak, dan hari ini kalau mau masuk ke Rumah Sakit Cut Meutia tidak ada tempat, sehingga benar-benar emergency Ruangan PINERE tersebut. Dan dalam kondisi seperti ini keselamatan manusia tentunya merupakan prioritas kita yang paling utama," ujarnya.

"Begitu Ruang PINERE selesai dibangun, pasien dibawa ke sana, tidak akan kontak dengan orang di luar ruangan, dia akan terkurung di dalam. Jadi, tidak ada alasan takut terhadap penyebaran yang disebabkan oleh ada pasien tersebut sehingga terkontaminasi ke Ruang Maintenance di depannya. Soal takut tentu masalah yang relatif, tidak bisa untuk mengintervensi terlalu jauh. Tapi pada dasarnya secara ketentuan pasien yang datang ke sana dia memang terisolasi dengan fasilitas di dalam ruangan," tutur Said Alam Zulfikar.[](red)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.