22 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Penembak 6 Jemaah Masjid di Kanada Divonis Penjara Seumur Hidup

...

  • LIPUTAN6
  • 10 February 2019 11:45 WIB

Foto via liputan6.com
Foto via liputan6.com

Quebec - Alexandre Bissonneete (29), pelaku pembunuhan terhadap enam orang muslim yang tengah salat berjemaah di masjid Kota Quebec, Kanada  pada 2017, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, 8 Februari 2019.

Sebelumnya, jaksa telah meminta Bissonnette untuk menjalani enam hukuman berurutan atau 150 tahun penjara tanpa memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat, hukuman terberat sejak Kanada menghapuskan hukuman mati pada tahun 1976.

Hakim Francois Huot memilih sebaliknya, yakni memungkinkan pembebasan bersyarat setelah 40 tahun. Hakim juga mengatakan masalah kesehatan Bissonnette, juga dapat memengaruhi hukumannya, dikutip dari BBC News, 9 Februari 2019.

Keputusan hakim jauh berbeda pada persidangan sebelumnya. Saat itu ia menolak permintaan untuk pembebasan bersyarat, dan mengatakannya sebagai hal yang "tidak masuk akal". Perlu diketahui, penembakan massal seperti yang dilakukan Bisonnette adalah kejadian yang sangat langka di Kanada.

"Hukuman seharusnya tidak menjadi ajang pembalasan," kata hakim.

Bisonnette telah mengaku bersalah pada Maret 2018 atas enam tuduhan pembunuhan dan enam tuduhan percobaan pembunuhan di masjid Quebec.

Kronologi penembakan

Pemuda 29 tahun menembaki jemaah di masjid Quebec Islamic Cultural Centre pada Minggu, 29 Januari 2017 malam, bertepatan dengan salat Isya. Insiden itu menewaskan 6 jemaah

Tak lama kemudian, polisi menangkap dua pria, salah satunya adalah Bissonnette.

Ada lebih dari 50 orang berada di masjid kala penembakan terjadi. Sebanyak 19 orang dilaporkan terluka. Lima jemaah masih di rumah sakit, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Seorang pria keturunan Maroko yang juga ditahan, Mohamed Khadir dibebaskan dan berstatus sebagai saksi mata.

Polisi di Provinsi Quebec merilis nama 6 korban yang tewas terbunuh. Mereka adalah: Azzeddine Soufiane, ayah tiga anak berusia 57 tahun yang memiliki toko daging. Khaled Belkacemi, profesor food science department di Laval University. Ia berusia 60 tahun.

Korban lainnya adalah Abdelkrim Hassen, Aboubaker Thabti, dan dua warga Guini lainnya.

Ia ditangkap di mobilnya di jembatan yang menghubungi Kota Quebec dan Ile d'Orleans. Saat itu ia mengontak pihak keamanan dan mengatakan akan bersikap kooperatif.

Menurut media lokal, Bissonnette adalah mahasiswa politik dan antropologi di Laval University. Kampusnya hanya berjarak 3 km dari masjid yang ia berondong dengan peluru.

Montreal Gazzette melaporkan sebelum menembak di masjid ia memposting fotonya di Facebook menggunakan kostum Grim Reaper. Akunnya itu kini tak lagi aktif.

Dalam media sosial itu ia dilaporkan me-like laman Presiden Donald Trump dan pemimpin sayap kanan Prancis, French National Front, Marine Le Pen. Beberapa kali mem-posting kekagumannya terhadap Trump dan Le Pen.

Francois Deschamps, pejabat di grup advokasi Welcome to Refugee mengatakan pemuda itu memiliki pandangan sayap kanan yang ekstrem.

"Dengan perih dan kemarahan kami mempelajari identitas teroris Alexandre Bissonnette. Banyak para aktivis mengenalnya sebagai pengikut sayap kanan, pro Le Pen, anti-feminis di Laval University dan media sosial," kata Deschamps.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Premier Quebec Philippe Couillard menyebut serangan ini merupakan aksi terorisme. Kepada 1 juta muslim yang tinggal di Kanada, Trudeau mengatakan, "kami akan bersama dengan Anda semua."

Penembakan terjadi kala tensi di AS meningkat setelah Perintah Eksekutif Donald Trump dikeluarkan. Melarang warga dari 7 negara muslim masuk AS. Gedung Putih mengecam seragan itu namun juga menekankan kenapa AS butuh kebijakan seperti yang digagas Trump.

Penulis: Siti Khotijah.[]Sumber: liputan6.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.