17 February 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pengamat: Capres Miskin Narasi, Politik Makin Bising

...

  • PORTALSATU
  • 03 January 2019 18:00 WIB

Ilustrasi kampanye. Foto: istimewa/net
Ilustrasi kampanye. Foto: istimewa/net

JAKARTA - Lebih dari tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019 berlalu, ruang publik masih cederung diisi oleh kebisingan yang penuh dengan sensasi minus substansi.

Narasi dari kedua capres dan timnya masih berkutat pada isu yang jauh dari substansi. Baik pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf, maupun Prabowo-Sandi sama-sama belum menyentuh isu utama kebutuhan dan problem riil yang dihadapi rakyat.

“Isu-isu murahan ini secara tidak langsung menunjukkan kuliatas dan kapasitas pasangan capres-cawapres yang sekarang sedang bertarung,” ujar pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, Kamis, 3 Januari 2019.

Menurut analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut, kedua pasangan capres-cawapres seperti gamang untuk menyampaikan visi, misi dan program nyata yang akan ditawarkan kepada pemilih.

“Situasi ini pada akhirnya membuat kita curiga, jangan-jangan kedua capres-cawapres ini memang tidak punya kapasitas yang memadai untuk berdebat dalam hal-hal yang lebih substansial,” ujarnya.

Pangi menyayangkan kedua kandidat lebih suka melakukan hal yang remeh temeh dan tetek bengek sebagaimana munculnya isu Genderuwo dan Tampang Boyolali, Tes Baca Alquran. Belum lagi isu terakhir yang membuat bising, isu kontainer berisi kertas suara yang sudah dicoblos.

Lebih parahnya lagi situasi ini menular pada tim sukses dan juru bicara dari kedua tim. Kedua tim sepertinya lebih suka melakukan pembelaan secara mati-matian ketimbang memberikan saran dan masukan yang lebih produktif dan berbobot pada jagoannya.

Kedua tim melakukan pembelaan membabi buta, bahkan terkadang melakukan perdebatan yang tidak pantas dipertontonkan di hadapan publik. Mulai dari pemilihan kata, menyerang karakter dan pribadi seseorang sampai pada caci maki.

Setali tiga uang, penyakit politikus ini juga menular pada masyarakat secara luas akibat terpapar tontonan tidak mendidik. Apalagi mereka yang muncul di depan publik dari politikus dan para juru bicara ‘kemarin sore’ yang miskin dialektika dan retorika berpikir.

"Kalau kenyataan itu tak terhindarkan maka tidak heran jika terjadi pembelahan sosial yang semakin tajam di masyarakat. Tentunya hal itu sangat tidak produktif jika dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut," ujar Pangi.

Pangi menilai pangkal perkara dari situasi tersebut adalah dangkalnya narasi, literasi dan imaginasi dari kedua kubu capres-cawapres dalam menghadapi arena kontestasi politik yang bernama Pilpres 2019.

Reporter: John Andhi Oktaveri.[]Sumber: bisnis.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.