15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Terkait Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Santri
Penjelasan Humas Pemkot Lhokseumawe Usai Pencabutan Pembekuan Pesantren Ini

...

  • Fazil
  • 21 July 2019 23:10 WIB

Muslim Yusuf. Foto Fazil
Muslim Yusuf. Foto Fazil

LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kota Lhokseumawe sempat membekukan operasional pesantren AN (singkatan) setelah oknum pimipinan lembaga pendidikan tersebut ditangkap polisi lantaran diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri di bawah umur. Namun, tak lama kemudian pemkot mencabut pembekuan operasional pesantren itu.

Kabag Humas Pemko Lhokseumawe, Muslim Yusuf, mengatakan, pencabutan pembekuan tersebut dilakukan pada 18 Juli 2019. Hal itu demi keberlangsungan pendidikan para santri untuk tahun ajaran baru 2019-2020. "Jadi, sebagian besar santri memang ingin melanjutkan pendidikan di pesantren itu atas persetujuan wali murid, karena mereka sudah menempuh pendidikan di pasantren itu selama dua-tiga tahun terakhir. Akan tetapi, ada juga sebagian kecil santri ingin keluar atau pindah, tidak mau lagi di yayasan (pesantren) tersebut," kata Muslim kepada para wartawan di Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Minggu, 21 Juli 2019, sore.

Muslim menyebutkan, untuk tahun ajaran baru 2019-2020, kegiatan terus berjalan seperti biasanya. Aktivitas belajar di pesantren itu akan dimulai pada Senin, 22 Juli 2019 berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. "Sebagian wali santri sudah mendaftar ulang anaknya. Ada juga sebagian santri atau wali murid tidak ingin mendaftar ulang lagi untuk tahun ajaran baru di yayasan tersebut," ujarnya.

Menurut Muslim, struktur yayasan yang mengelola pesantren tersebut telah berubah. AI, oknum pimpinan pesantren itu yang kini ditahan polisi sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap santri di bawah umur tidak lagi memanggul jabatan tersebut.

"Oknum tersebut tidak lagi menjadi pimpinan di pasantren itu. Berdasarkan arahan atau petunjuk Wali Kota Lhokseumawe demi keberlangsungan pendidikan, agar berjalan dengan baik tentu ada restrukturisasi di dalam kepengurusan yayasan tersebut. Tujuannya adalah pendidikan itu tetap berjalan dan pimpinannya  diganti dengan kepengurusan yang memang sepatutnya dan selayaknya harus di situ," kata Muslim.

Muslim melanjutkan, "Sekarang sudah ada pimpinan yang baru, secara defacto-nya begitu, namun secara dejure ini kan namanya yayasan ada AD/ART-nya yang memang ada legalitasnya, harus ada di notaris dan administrasi secara legal".

Menurut Muslim, pesantren itu sudah berjalan tiga tahun dan menghasilkan para santri berprestasi. Artinya, dari tempat pendidikan tersebut, ada anak-anak yang sebelumnya tidak bisa baca Alquran, sekarang sudah mampu. Bahkan sejumlah santri pesantren tersebut kini bisa menghafal Alquran.

Pindah ke Blang Mangat

Muslim mengatakan, pesantren itu yang sebelumnya berlokasi di Kecamatan Muara Dua, kini dipindahkan ke Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. "Sejak pencabutan pembekuan tersebut sampai hari ini proses pemindahan barang-barang masih terus dilakukan. Artinya tidak lagi menumpang pada pemondokan yang lama, dipindahkan ke tempat lain, di Dayah Al-Muhajirin," ungkapnya.

Dia menambahkan, ke depan pihaknya akan melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan lembaga pendidikan tersebut.

"Harapan kepada semua pihak mari kita sikapi dengan bijak (kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami santri). Jangan kita lihat dari sisi okmun (pimpinan pesantren) tersebut, okmun (tersangka) itu biar pihak Polres Lhokseumawe dan kejaksaan yang menanganinya. Sedangkan keberlangsungan pendidikan agama Islam maupun pendidikan umum lainnya harus tetap berjalan dengan baik," ujar Muslim.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.