21 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Penyelenggara Pemilu di Gampong Asan Meninggal, Ini Kata Sekretaris KIP Aceh Utara

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 25 April 2019 08:00 WIB

Sekretaris KIP Aceh Utara Hamdani. Foto dok. Buanaindonesia
Sekretaris KIP Aceh Utara Hamdani. Foto dok. Buanaindonesia

LHOKSUKON - T. Zainal, 45 tahun, Sekretaris Panitia Pemungutan Suara (PPS) Gampong Asan, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, dilaporkan meninggal dunia. Informasi diterima Sekretaris Komisi Independen Pemilihan (KIP) setempat, T. Zainal dibawa ke rumah sakit setelah tumbang di meunasah (musala).

“Saya terima kabar pukul 16.00 WIB tadi (Rabu), tapi saya cek dulu ya. Ada informasi lain, katanya meninggalnya malam kemarin, namun baru disampaikan tadi. (Penyebab meninggal diduga) karena kelelahan, begadang terus-menerus. Memang kemarin itu sudah tidak tugas lagi (T. Zainal), tapi kan bawaan capek beberapa hari sebelumnya,” ujar Sekretaris KIP Aceh Utara, Hamdani saat dihubungi portalsatu.com, Kamis, 25 April 2019, dini hari.

Hamdani melanjutkan, “Saya dapat informasi meninggalnya T. Zainal dari Sekretaris PPK Lhoksukon, katanya malam kemarin meninggalnya. Pengakuan Sekretaris PPK Lhoksukon, itu (T. Zainal) pakciknya. Katanya sudah dua malam meninggal, setelah tumbang di meunasah dan dibawa ke RS, sempat dirawat memang. Tapi hari ini baru muncul infonya".

Hamdani turut menyampaikan bahwa Ketua PPK Samudera, Tasrizal juga baru pulang ke rumahnya, setelah lima hari dirawat di RS Kasih Ibu Lhokseumawe. 

“Ini satu lagi juga sedang dijemput ke Pante Bidari, Aceh Timur. Ada anggota KPPS TPS 77 Gampong Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur (Aceh Utara) atas nama Munta Wali, 22 tahun, sakit sejak beberapa hari lalu, sehingga dibawa pulang ke Pante Bidari. Informasi terakhir, kondisinya sudah parah, (Kamis) sekitar pukul 02.25 WIB tadi dibawa ke RSUD Cut Meutia, Lhokseumawe, mengingat yang bersangkutan berasal dari keluarga tidak mampu. Jadi dijemput ke Pante Bidari. Dia sakit usai melaksanakan tugas mengantar kotak suara ke Kantor PPK Kuta Makmur,” kata Hamdani.

Terkait banyaknya anggota penyelenggara pemilu yang sakit atau meninggal dunia, menurut Hamdani ada beberapa faktor yang membuat mereka kelelahan. “Pertama begini, kita kan tidak punya gudang di sini, jadi seluruh barang sejak tanggal 8 April itu digeser ke masing-masing kantor camat dengan kondisi barang belum jadi, kotak suara belum dirakit. Jadi mereka kerja sejak H-3 mulai merakit kotak suara, termasuk peralatan-peralatan semuanya. Kita kasih berkardus-kardus, dibongkar dihitung dan diset satu per satu.”

“Pada malam sebelum hari H, barulah dikirim ke masing-masing TPS. Jadi tiga hari sebelum hari H, mereka sudah full kerja, sementara pada hari H sudah tidak tidur dan berlanjut ke beberapa hari seterusnya menyiapkan salinan-salinan. Bisa dikatakan, di tingkat PPS begadang sekitar enam hari enam malam. Sementara untuk PPK mencapai 10 malam full begadang, karena di PPK tambah pleno lagi. Itu mungkin yang agak berbeda dengan Pemilu sebelumnya. Untuk batas akhir pleno 4 Mei 2019 mendatang,” pungkas Hamdani. []

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.