23 May 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Perkara Senpi Oknum PNS Lhokseumawe, Ini yang Terungkap Dalam Sidang

...

  • SIRAJUL MUNIR
  • 07 February 2018 19:55 WIB

@Sirajul Munir/portalsatu.com
@Sirajul Munir/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe menggelar sidang perdana perkara dugaan kepemilikan senjata api ilegal yang menjerat terdakwa Miharza alias Mimi, 38 tahun, oknum PNS Pemko Lhokseumawe, Rabu, 7 Februari 2018. Sejumlah fakta baru terungkap dalam sidang ini.

Sidang itu dipimpin Ketua Majelis Hakim, Estiono, S.H., didampingi Hakim Anggota Sulaiman, S.H., dan Azhari S.H. Terdakwa Miharza menghadiri sidang itu tanpa didampingi penasihat hukum. Namun, orang tuanya turut hadir.

Isnawati, S.H., Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe dalam berkas dakwaannya menyebutkan, Miharza memakai senjata api pistol Baretta VT kaliber 7,65 nomor seri D88899W buatan Italia yang dititipkan tersangka Adnan (DPO), warga  Banda Aceh pada tahun 2016.

Menurut JPU, setelah menitipkan senjata api itu, tersangka Adnan pergi dan tidak kembali untuk mengambilnya. Terdakwa Miharza juga tidak bisa menghubungi rekannya itu karena nomor seluler tidak aktif lagi. Selanjutnya, terdakwa Miharza menyembunyikan pistol dengan cara menimbunnya di sebuah lahan kosong milik keluarganya.

JPU melanjutkan, pada suatu waktu, terdakwa mengambil kembali senjata itu dan menyimpannya di laci di warung kopi milik terdakwa di Cunda, Lhokseumawe. Selanjutnya, Kamis, 7 Desember 2017, sekitar pukul 20.00 WIB, Miharza membawa senjata itu dengan cara diselipkan di pinggang saat pergi ke Waduk Lhokseumawe. Saat itu terdakwa menyergap korban, RA, yang sedang berjalan dengan pacarnya.

JPU menyebutkan, terdakwa memaksa RA agar ikut dengan cara menodongkan senjata api ke leher korban. "Kemudian terdakwa membawa korban ke warung kopi miliknya di Cunda, dan senjata itu disimpan kembali ke dalam laci. Setelah itu pada Kamis 21 Desember 2017, sekitar pukul 16.00 WIB, terdakwa dijemput pihak Polres Lhokseumawe di warung kopi miliknya. Setelah diperiksa polisi, terdakwa memberitahukan keberadaan senjata itu," jelas JPU.

JPU menyatakan terdakwa Miharza tidak punya izin menerima dan menyimpan senjata api itu. Perbuatan terdakwa diancam pidana pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Terdakwa mengaku galau

Menanggapi dakwaan JPU, terdakwa Miharza yang mengenakan pakaian kaos berkerah putih mengakui senpi itu bukan miliknya melainkan milik Adnan, kontraktor yang ia kenal saat masih berada di Banda Aceh sebelum bencana Tsunami.

"Pada Desember 2016, dia (Adnan) datang menjumpai saya di Lhokseumawe, waktu itu dia titip senjata api sebentar alasannya mau ke terminal, namun tidak kembali lagi. Nomor HP-nya juga tidak aktif lagi, saya takut makanya senjata api itu saya sembunyikan di lahan kosong milik keluarga," sebut terdakwa di depan majelis hakim.

Miharza mengaku terpaksa menggali kembali senjata itu dan mengambilnya karena lokasi lahan akan dibuat bangunan.

Terdakwa juga mengaku, dengan memakai masker antidebu, ia mengendarai sepeda motor keliling waduk. Saat ditanya oleh majelis hakim soal tujuan ke waduk, terdakwa mengaku mau memancing dan tidak sengaja ikut membawa senjata api itu. Ketika mengitari waduk, terdakwa mengaku niat jahat tiba-tiba muncul saat melihat korban, RA. sedang bersama pacarnya.

Dengan alasan sedang mencari tersangka narkoba, terdakwa memaksa RA ikut dengan dirinya, sedangkan pacar korban disuruh menunggu di waduk. Sebelum dibawa ke ruko milik keluarganya di Cunda, terdakwa sempat membawa korban mengelilingi waduk tiga kali putaran.

"Saya bawa dia putar-putar waduk tiga kali, saat itu saya galau dan mulai kepikiran saya akan bawa RA kemana. Saya benar-benar tidak sadar akan timbul niat jahat seperti itu. Tapi saat saya paksa RA ikut, saya tidak todongkan senjata ke leher, hanya menampakkan saja," kata oknum PNS yang bekerja di Bagian Organisasi Setda Lhokseumawe ini. tersebut.

Diperkosa di rumah

Majelis Hakim PN Lhokseumawe juga memeriksa korban, RA, yang juga saksi pelapor, dan seorang saksi lainnya yaitu personel Resmob Polres Lhokseumawe dalam sidang tersebut.

RA menangis tersedu saat menceritakan perbuatan terdakwa yang menodongkan senjata di waduk sampai akhirnya ia diperkosa tiga kali di rumah terdakwa.

"Saya tidak dibawa ke ruko, tapi ke rumah terdakwa. Saat itu saya pasrah diperkosa sebanyak tiga kali karena diancam tembak dengan pistol yang ditodongkan ke leher saya sebanyak dua kali. Malam itu Mimi (nama panggilan terdakwa) juga mengambil HP saya, dan uang saya dalam kantong sebanyak Rp500 ribu juga hilang," kata RA sambil sesunggukan.

RA mengaku terpaksa ikut saat dibawa terdakwa karena ia merasa takut. Sebab terdakwa menodongkan senjata ke leher RA, dan terdakwa mengaku sebagai anggota polisi yang sedang mencari tersangka kasus narkoba. "Saya bilang, saya tidak ada narkoba, tapi tetap dipaksa ikut, dia (terdakwa) pakai sebo (masker antidebu), jadi saya takut ditembak, saya menurut saja," ujarnya.

Keesekon pagi, Jumat, 8 Desember 2017, RA mengaku dilepaskan oleh terdakwa. Terdakwa meminta seorang tukang becak mengantarkan RA ke rumah kakaknya. "Dia (Mimi) menyuruh tukang becak itu minta uang ke kakak saya sebanyak Rp250 ribu. Sampai di rumah, saya minta uang itu ke kakak dan saya serahkan ke tukang becak yang mengantar saya," kata RA.

Usai mendengarkan pengakuan saksi pelapor itu, Ketua Majelis Hakim, Estiono, menyarankan agar terkdakwa dan keluarga "berdamai" dengan korban, walau upaya itu tidak memengaruhi proses peradilan yang sedang berjalan.

Sebelum menutup persidangan, majelis hakim memutuskan sidang akan dilanjutkan pada Rabu pekan depan (14 Februari 2018) dengan agenda mendengarkan tuntutan dari JPU.

Informasi diperoleh portalsatu.com, terkait pemerkosaan yang menjerat terdakwa Miharza, disidangkan di Mahkamah Syariah Lhokseumawe.[]

Baca juga:

Diduga Perkosa Mahasiswi, Oknum PNS di Lhokseumawe Ditangkap

Oknum PNS Tersangka Pemerkosaan Mahasiswi Diserahkan ke Jaksa

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.