26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Petani Miskin, Aceh Miskin'

...

  • MUDIN PASE
  • 14 February 2019 11:10 WIB

Ilustrasi - petani padi. Foto: istimewa/net
Ilustrasi - petani padi. Foto: istimewa/net

BANDA ACEH - Pengajar Sosiologi Politik dan HAM UIN Ar-Raniry, Muhammad Mirza Ardi, mengatakan rakyat miskin di Aceh mayoritas adalah petani. Namun, sampai sekarang belum tampak kebijakan anggaran untuk membuat Aceh dari agraria tradisional menjadi agro industri.

"Kebijakan publik bukan hanya soal apa yang dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan masalah (misalnya kemiskinan), tapi lebih dari itu, kebijakan adalah soal 'siapa mendapat apa dalam masyarakat'," ujar Muhammad Mirza Ardi ketika portalsatu.com, 13 Februari 2019, meminta tanggapannya soal masih tingginya angka kemiskinan di Aceh.

Mirza Ardi menilai kebijakan pemerintah di Aceh lebih banyak membangun infrastruktur yang menguntungkan kontraktor ketimbang rakyat bawah. Bukan berarti infrastruktur tak penting, kata dia, tapi infrastruktur jadi tameng. Artinya, pejabat pemerintah diduga menjadikan infrastruktur untuk menarik rente anggaran. "Makanya korupsi di Aceh selalu tinggi," katanya.

Lebij lanjut Mirza Ardi menjelaskan, mayoritas rakyat Aceh adalah petani. Sektor pertanian menyerap 44.09 persen tenaga kerja di Aceh, berdasarkan data BPS 2015. Jadi, tulang punggung ekonomi rakyat adalah pertanian.

"Konsekuensinya, kesejahteraan petani berarti kesejahteraan Aceh. Petani miskin artinya Aceh miskin. Pertanyaannya kemudian kenapa petani di Aceh terus-terusan miskin," ungkap Mirza yang juga mengajar Sosiologi Hukum Unsyiah.

Mirza memaparkan, banyak ahli telah memberikan argumen tentang penyebab kemiskinan di kalangan petani. Jawaban yang paling sering didengar adalah tidak adanya kepedulian pemerintah terhadap nasib petani.

"Pemerintah Aceh bukannya tidak tahu cara menyejahterakan petani. Sudah banyak alumni dalam dan luar negeri yang memberikan saran agar agraria di Aceh maju dan petaninya makmur sentosa. Hanya saja elite pemerintah tak mau tahu dan tak mau berbuat. Kita sebut saja pendapat ini sebagai political will argument," tutur Mirza.

Menurut Mirza, penyebab kemiskinan juga tidak lepas dari kepemilikan luas lahan. Rata-rata petani di Aceh hanya memiliki luas area pertanian kurang dari setengah hektare. Hitung-hitungannya, menurut mantan Menteri Pertanian Suswono, 1 hektare lahan pertanian akan menghasilkan laba bersih 6 juta perbulannya.

Karena petani di Aceh punya lahan kurang dari setengah hektare, bisa dihitung pendapatannya kurang dari 3 juta perbulan. Menurut Mirza, solusi dari persoalan ini adalah inovasi pertanian, yakni membuat lahan yang sempit mampu memproduksi padi berkali-kali lipat. 

"Misalnya sistem vertikultur, pemanfaatan lahan bisa sampai empat kali lipat. Kembali lagi, ini persoalan kemauan pemerintah untuk menginovasi pertanian di Aceh," tandas peneliti di Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah ini.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.