25 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


PM Binali Yildrim: Hubungan Turki-Jerman Tegang

...

  • REPUBLIKA
  • 02 June 2016 20:30 WIB

Pasukan Ottoman dalam peperangan Varna, Bulgaria. @Wikipedia.org
Pasukan Ottoman dalam peperangan Varna, Bulgaria. @Wikipedia.org

BERLIN - Parlemen Jerman, pada Kamis 2 Juni 2016, melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah yang dilakukan Turki pada 1915 merupakan genosida terhadap etnis Armenia. Turki menentang keras hal itu dan mengatakan hubungan kedua negara akan terkena imbas dari resolusi tersebut.

Seperti dilansir laman BBC News, majelis rendah Jerman atau dikenal dengan Bundestag akan menggelar pemungutan suara untuk resolusi tak mengikat yang akan menyatakan Turki Utsmani melakukan genosida terhadap etnis Armenia selama Perang Dunia Pertama.

Resolusi ini didukung oleh Partai Demokrat Kristen (CDU) dan koalisi mereka yakni Partai Demokrat Sosial (SPD) dan Partai Hijau.

Armenia selama ini mengklaim 1,5 juta warganya tewas di tangan kekaisaran Turki Utsmani pada 1915. Turki menyangkal keras telah melakukan kampanye sistematis membantai etnis Armenia selama Perang Dunia I.

Resolusi menggunakan kata "genosida" dalam teks dan judulnya. Resolusi juga menyatakan Jerman yang saat 1915 merupakan sekutu Utsmani merasa menyesal tak melakukan apa-apa untuk menghentikan pembunuhan. Turki menolak istilah genosida. Turki mengatakan banyak warganya juga menjadi korban tewas dalam perang saat itu.

Menanggapi rencana resolusi parlemen Jerman, Perdana Menteri Turki Binali Yildrim mengatakan hubungan kedua negara akan rusak jika parlemen Jerman meloloskan resolusi tersebut. Menurutnya resolusi ini juga membayangi kesepakatan kunci Uni Eropa dan Turki terkait migran.

"Tentu hubungan dengan Jerman akan terkena imbas, tak diragukan lagi," kata Yildrim.


Benarkah Ottoman Bantai Ratusan Ribu Warga Sipil Armenia?

Armenia selama ini mengklaim ratusan ribu orang Armenia meninggal pada 1915 di tangan Turki Ottoman. Banyak dari warga sipil meninggal setelah dideportasi ke daerah gurun tandus di mana mereka akhirnya meninggal karena kelaparan dan kehausan. Ribuan lainnya juga disebut-sebut tewas karena pembantaian.

Penolakan Turki akan tuduhan genosida Armenia, menunjukkan kisah berbeda dari tesis Armenia yang menyatakan pemerintah Ottoman memiliki niat resmi memusnahkan bangsa Armenia.  Asosiasi Mahasiswa Turki di Universitas Stanford di situs web.stanford.edu, mengisahkan ketika Perang Dunia I dimulai, Armenia membentuk milisi untuk membantu pasukan Rusia masuk ke Anatolia.

Pemberontakan besar-besaran di berbagai belahan Anatolia, terutama kota Van, menciptakan kepanikan di barisan tentara Turki. Pada Februari 1915, populasi Muslim dan lokal Armenia di negara itu juga sedang terlibat konflik komunal yang sengit.

Pada April 1915, Ottoman menarik pasukannya dari timur dan Armenia menguasai beberapa provinsi tertentu di wilayah itu. Pada akhir April, Ottoman memerintahkan relokasi warga Armenia. Bulan-bulan selanjutnya warga Armenia mengalami penderitaan kala diangkut ke provinsi kekaisaran Suriah. Mereka banyak diserang oleh kelompok lokal, geng, menderita kelaparan dan terkena epidemi. Kesulitan melalui wilayah pegunungan dan gurun juga membuat mereka menderita.

Relokasi warga Armenia dimulai setelah tentara Rusia dan Armenia bergerak ke Anatolia. Sebagain relokasi terbatas pada wilayah-wilayah di sekitar garis pertempuran. Tapi kekejaman juga terjadi di provinsi-provinsi yang berada di bawah kontrol Armenia. Kekejaman skala yang sama berlangsung dan populasi Muslim banyak yang melarikan diri untuk menyelamatkan kehidupan mereka.

Sejarawan terkemuka Bernard Lewis dan Stanford Shaw menyatakan tak ada kebijakan resmi pemerintah terkait perintah genosida. Klaim ini didasarkan pada arsip Utsmani yang komprehensif menyatakan tak ada dokumen yang menunjukkan adanya rencana untuk hal itu.

Setelah Ottoman kalah perang, British High Commission di Istanbul menangkap 144 petinggi Ottoman. Mereka dideportasi ke Malta untuk diadili atas tuduhan merugikan warga Armenia.[]Sumber:republika

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.