15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Polisi Amankan 3 Tersangka Penyebar Hoaks Terkait Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Santri

...

  • Fazil
  • 17 July 2019 16:25 WIB

Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T. Herlambang (tengah) saat  konferensi pers di mapolres setempat, 17 Juli 2019. Fotozil/portalsatu.com
Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T. Herlambang (tengah) saat konferensi pers di mapolres setempat, 17 Juli 2019. Fotozil/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Polisi mengamankan tiga tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong (hoaks) melalui media sosial terkait penanganan perkara dugaan pelecehan seksual terhadap santri di sebuah pesantren di Lhokseumawe. Ketiga tersangka berinisial NA (21) mahasiswi, dan IM (19), mahasiswa, keduanya warga Lhokseumawe, dan HS (29), petani asal Bireuen. Mereka ditangkap di wilayah hukum Polres Lhokseumawe, 13 Juli 2019 lalu.

Hal itu disampaikan Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Indra T. Herlambang dalam konferensi pers di Mapolres setempat, Rabu, 17 Juli 2019.

"Berita bohong yang disebarkan itu terkait dengan penanganan perkara kasus pelecehan seksual yang terjadi di salah satu pesantren di Lhokseumawe yang sedang ditangani pihak kepolisian. Dalam berita tersebut menjelaskan bahwa perkara itu merupakan fitnah, dan dijelaskan itu menurut pengakuan dari salah satu anggota kepolisian atau penyidik bahwa perkara itu dipaksakan untuk dinaikkan perkaranya," kata Indra.

Seperti diketahui, personel Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe menangkap dua tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri di sebuah pesantren, 8 Juli 2019. Kedua tersangka berinisial AI (45), oknum pimpinan pesantren, dan MY (26), guru ngaji di pesantren tersebut. (BacaDiduga Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Santri, Pimpinan Pesantren dan Guru Ngaji Ditangkap)

Menurut Indra, kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri itu sedang ditangani pihaknya sesuai prosedur berlaku. Namun, kata dia, akibat perbuatan NA, IM dan HS diduga menyebarkan hoaks terkait penanganan kasus tersebut, “telah menimbulkan kegaduhan atau timbul pendapat masyarakat yang berbeda-beda”. Itulah sebabnya, kata Indra, pihaknya mengamankan tersangka NA, IM dan HS.

Menurut Indra, NA diduga memposting berita bohong itu ke dalam sebuah Grup WhatsApp (WA). Lalu, IM mengambil hoaks itu dan memposting ke grup WA lainnya. Sedangkan HS meng-unggah berita bohong tersebut melalui media sosial Facebook.

“Barang bukti yang diamankan, tiga handphone dan beberapa hasil screenshot aplikasi WhatsApp dan Facebook yang di-print,” ujar Indra.

Indra melanjutkan, hasil pemeriksaan awal, tersangka HS mengaku memposting informasi tersebut di media sosial Facebook karena banyak orang yang bertanya kepada dia tentang kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri di sebuah pesantren di Lhokseumawe.

“Tersangka HS mengaku tidak tahu tentang perkara itu sehingga dia memposting ke Grup Facebook. Sementara tersangka IM mengaku memposting berita bohong ke grup WA untuk meminta tanggapan atau menanyakan apakah berita ini (kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri masih anak di bawah umur) benar atau bohong. Jadi, dia sudah melakukan tindakan yang salah, karena sudah menimbulkan kegaduhan atau timbul pendapat masyarakat yang berbeda-beda,” kata Indra.

Indra mengatakan, ketiga tersangka itu dijerat pasal 15 jo pasal 14 ayat (1) dan (2) KUHP, subsider pasal 45A ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Indra menyebutkan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan penyidikan untuk mengungkap pelaku yang membuat berita bohong tersebut. “Kemungkinan ada tiga tersangka lagi terkait perkara ini yang akan dikejar. Dugaan kami, pembuat berita bohong itu merupakan salah satu antara pengurus, alumni, atau dewan guru dari sebuah pasantren (tempat terjadinya kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri) tersebut,” ujarnya.

“Sedangkan hubungan ketiga tersangka yang sudah diamankan ini (NA, IM dan HS) dengan tersangka (kasus dugaan pelecehan seksual) yang di pasantren itu kemungkinan tidak ada," kata Indra.

Indra menambahkan, proses penyidikan kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri masih di bawah umur di sebuah pasantren di Lhokseumawe itu dijalankan berdasarkan alat-alat bukti. “Jadi, ketika ada orang yang membuat kabar bohong seperti ini, akan membuat masyarakat tergiring opininya, dan sangat mengganggu proses penyidikan. Oleh karena itu, penyebaran berita bohong meski sekecil berita bohong itu disebarkan, maka akan kami tindak sesuai hukum berlaku," tegas Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe itu.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.