15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Putin: Lebih mudah berurusan dengan Turki daripada Uni Eropa

...

  • ANADOLU AGENCY
  • 16 May 2019 18:30 WIB

Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (tidak terlihat) setelah pertemuan mereka di Moskow, Rusia pada 8 April 2019. (Sefa Karacan - Anadolu Agency)
Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (tidak terlihat) setelah pertemuan mereka di Moskow, Rusia pada 8 April 2019. (Sefa Karacan - Anadolu Agency)

MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu mengatakan bahwa berurusan dengan Turki lebih mudah daripada dengan Uni Eropa.

Putin membandingkan pembangunan pipa Nord Stream II dan TurkStream pada saat konferensi pers dengan Presiden Austria Alexander Van der Bellen di kota Sochi. Putin menyimpulkan bahwa bekerja sama dengan orang Turki jauh lebih mudah.

"[Presiden Turki Recep Tayyip] Erdogan telah memutuskan dan telah melakukan. Dan di sini [Uni Eropa] kita perlu 27 negara untuk menyetujui, itu berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak ada yang terjadi," ujar dia.

Namun demikian, Putin menambahkan bahwa proyek Nord Stream II akan selesai meskipun menghadapi sejumlah hambatan, termasuk tindakan balasan dari AS.

Beralih ke agenda internasional, Putin menyesalkan perombakan perjanjian nuklir Iran.

"Kami menyesalkan perusakan perjanjian tersebut ... Kami mendukung pelestarian perjanjian ini. Setelah menandatangani perjanjian, Iran menjadi negara yang paling dapat diverifikasi dan paling transparan di dunia dalam hal ini," tegas dia.

Sepakat dengan Putin, Van der Bellen mengatakan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah mengkonfirmasi kepatuhan Iran terhadap kesepakatan sebanyak 13 kali.

Dia menyuarakan keprihatinan bahwa konfrontasi AS-Iran dapat berubah menjadi situasi seperti Irak, merujuk pada invasi Washington pada 2003.

Presiden Austria itu juga menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang menginginkan skenario seperti itu.

Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan kelompok negara P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman).

Tak lama kemudian, Washington memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran yang menargetkan sektor energi dan perbankan negara itu.[]Sumber:anadolu agency

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.