19 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rafli: Isu Referendum Aceh Semestinya Jadi Momentum Evaluasi dan Penyegaran

...

  • PORTALSATU
  • 12 June 2019 14:00 WIB

Rafli. Foto dokumen/istimewa
Rafli. Foto dokumen/istimewa

BANDA ACEH - Politikus Aceh, Rafli, mengatakan semestinya isu referendum Aceh menjadi momentum evaluasi dan penyegaran semesta Indonesia yang menegaskan "kasih sayang kita dalam berbangsa". Rafli mengatakan itu merespons pro kontra terkait pernyataan Mualem yang terkesan "menggugurkan nilai referendum" yang dilontarkannya saat Haul Hasan Tiro beberapa waktu lalu.

"Semangat saya adalah upaya menyatukan semua pihak, duduk bersama menyepakati bagaimana konsep memajukan Aceh menghindari prasangka kedengkian," ujar Rafli dalam keterangannya diterima portalsatu.com, Rabu, 12 Juni 2019. 

"Mari membuka hati dan pikiran semua pihak. Bahwa lontaran isu dari sudut disintegrasi. Lebih kita dan pemerintah pusat menggunakan momentum ini untuk dialog," kata Rafli.

Menurut Rafli, barangkali ada kealpaan pemerintah pusat yang perlu diingatkan. Rakyat Aceh juga bisa lebih memahami hal-hal positif terjadi selama perdamaian. "Ini harus jadi proses tabayyun, jangan malah melahirkan keretakan baru," ucapnya.

"Isu referendum Aceh harus dilihat sisi positifnya. Bukan untuk melawan negara, bahkan untuk mempertegas kewibawaan pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh pasca-penandatanganan MOU Helsinki 2005 dan UUPA (UU No. 11/2006). Bahwa terhadap target pencapaian Aceh selama 14 tahun damai Aceh," kata Rafli yang juga sempat dinobatkan sebagai duta perdamaian masa Cessation of Hostilities Agreement (COHA).

Rafli menegaskan, "Ketulusan cinta rakyat Aceh untuk memperpanjang saf jamaah dalam Indonesia, memang sudah menjadi ikrar yang membatin oleh para indatu, dan ini adalah pahala terbesar di sisi Allah".

"Kita sebagai saksi konflik Aceh, paham betul bahwa pertikaian itu sangat menyakitkan. 'Nikmat aman adalah nikmat kedua setelah nikmat iman', dan mari bersepakat menggenggam kuat perdamaian ini. Semua lagu saya berisi ajakan tentang membangun kebersamaan, saling hormat menghargai antarsesama, menjaga alam dan lingkungan, menghidupkan kearifan lokal, serta semangat kreativitas dan produktivitas. Semua itu bisa terwujud dalam situasi aman dan damai," kata penyanyi Aceh ini.

"Ubat hate Allah Allah, ubat susah rame syedara" ungkapan syair Rafli yang manggugah rasa persaudaraan dan antipertikaian. 

"Saya minta pemerintah di pusat melihat pernyataan Mualem sebagai rasa 'ngambek sebagai anak'. Bahwa mungkin saja yang beliau sampaikan sebuah aspirasi koreksi. Kalau penyampaiannya terkesan mengejutkan. Lebih karena segera dapat perhatian dari orang tua. UUPA masih banyak yang belum terimplementasi. Ini juga perlu kita dorong bersama," ujar Rafli. 

Rafli menambahkan, khalayak juga jangan cuma melihat perdamaian dengan anggaran melimpah. Isu ini juga harus dijawab oleh Pemerintah Aceh bahwa selama ini anggaran berlimpah juga banyak mubazir. Sebabnya, kata dia, eksekutif dan legislatif Aceh kurang profesional. "Jadi bila dengan isu ini kemudian membangun kesadaran banyak pihak untuk bersegera menuntaskan hal-hal pokok dari damai ini. Artinya isu ini seperti 'ta riyeue tulò lam blang' supaya bek abeh padee jipajoh'," ujar Rafli menamsilkan.

"Sebagai pejabat publik yang didelegasi rakyat Aceh, saya mau ikut dalam perbincangan berkualitas demi meningkatkan harkat martabat kemanusiaan kita di Aceh, Indonesia. Saya tidak mau isu referendum berujung konyol ataupun menjadi pertumpahan darah. Semua pihak tidak menggunakan isu ini untuk saling menjatuhkan. Kapan kita akan berbenah bila kita saling sikut," ucap Rafli, Anggota DPD RI asal Aceh periode 2014 - 2019, dan terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2019 - 2024.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.