26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rahasia Nuklir Korea Utara dan Rencananya Rayakan HUT ke-70 dengan Rudal Terbesar

...

  • TEMPO
  • 03 January 2018 22:50 WIB

Rudal Hwasong-15 Korea Utara yang diklaim menjangkau daratan Amerika. @Daily Mail
Rudal Hwasong-15 Korea Utara yang diklaim menjangkau daratan Amerika. @Daily Mail

PYONGYANG - Korea Utara mampu mengembangkan rudal balistik dengan teknologi canggih yang diperoleh dari Rusia, menurut dokumen baru yang telah terungkap, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, Jumat 29 Desember 2017.

Korea Utara mengumumkan pada 29 November bahwa mereka telah menguji sebuah Rudal Balistik Inter-Continental (ICBM) yang mampu menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat. Hal itu memicu sanksi baru terhadap rezim Kim Jong-un.

Dan kini terungkap bahwa setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia menjual teknologi yang digunakannya untuk mengembangkan kekuatan ICBM-nya ke Pyongyang.

The Washington Post melaporkan bahwa setelah runtuhnya usaha bersama AS-Rusia untuk meluncurkan satelit menggunakan rudal era Soviet, Rusia mulai mencari pasar baru untuk teknologinya.

Lebih dari 60 ilmuwan rudal Rusia dan anggota keluarga dari Biro Desain Roket Makeyev ditangkap di sebuah bandara di Moskow pada akhir 1992 karena mereka akan melakukan perjalanan ke Pyongyang untuk bekerja sebagai konsultan.

Pejabat intelijen dari AS, Korea Selatan dan Rusia kemudian menyimpulkan beberapa ilmuwan akhirnya berhasil mencapai Korea Utara untuk menawarkan cetak biru rudal dan saran teknis, Washington Post melaporkan.

Brosur dari Biro Desain Roket Makeyev, yang digali oleh laporan ini, mencakup serangkaian rudal Soviet yang mampu mengantarkan hulu ledak nuklir ke kota AS.

Beberapa model yang ditawarkan untuk dijual dapat diluncurkan dari kapal besar, kapal tongkang terendam, atau kapsul yang dijatuhkan ke laut, dan pada awalnya dirancang untuk Angkatan Laut Rusia.

Hwasong-10, atau Musudan, sebuah rudal yang berhasil diuji coba oleh Korea Utara pada tahun 2016, tampaknya menggunakan mesin yang sama dan memiliki banyak fitur rancangan Soviet yang menggunakan rudal balistik yang dirancang oleh ilmuwan Makeyev dan diiklankan di salah satu brosur.

David Wright, seorang pakar rudal di Union of Concerned Scientists mengatakan kepada Washington Post: “Pertanyaan yang telah lama diajukan adalah: Apakah Korea Utara mendapatkan teknologi ini dari penjualan senjata [Rusia]?”

“Apakah mereka telah merencanakan bertahun-tahun yang lalu dan sekarang pada titik di mana mereka bisa membangun barang-barang ini? Korea Utara baru-baru saja bisa membuat peralatan mesin yang canggih pada 1990-an, yang berarti alat-alat mesin itu masih sangat bagus. Begitu Anda memiliki rencananya, dan bisa mendapatkan materi dan alat yang tepat, Anda memiliki pijakan kaki yang nyata," ujarnya.

Korea Utara Akan Rayakan HUT ke-70 dengan Rudal Terbesar

Korea Utara sedang membangun rudal terbesarnya dan akan meluncurkan roket tersebut pada peringatan 70 tahun berdirinya republik komunis tersebut pada bulan September, menurut sebuah surat kabar Jepang, sebagaimana dikutip Daily Mail, Selasa, 2 Januari 2018.

Menurut seorang pembelot Korea Utara, Kim Jong-un telah memerintahkan ilmuwan negara tersebut membangun rudal Unha-4 pada bulan lalu.

Rudal ini akan menjadi versi upgrade dari Unha-3, sebuah roket tiga tahap yang terakhir diluncurkan Korea Utara pada Februari 2016. Unha-3 diklaim rezim tersebut sebagai pembawa satelit.

Namun sebagian besar masyarakat internasional melihat peluncuran Unha-3, yang membawa satelit Kwangmyongsong-4, sebagai samaran uji coba rudal balistik.

Para ilmuwan telah mulai membangun Unha-4, tapi diperlukan waktu enam bulan lagi untuk memastikan bahwa rudal tersebut siap untuk perayaan ulang tahun pada 9 September, kata pembelot yang tidak disebutkan namanya tersebut kepada The Mainichi Shimbun, seperti dikutip Telegraph.

Laporan ini muncul setelah media Korea Selatan melaporkan bahwa Kim Jong-un sedang membangun satelit lain, Kwangmyongsong-5, yang bakal dapat diluncurkan ke ruang angkasa dengan Unha-4.

Korea Utara saat ini menerima sejumlah sanksi PBB atas uji coba nuklir dan rudalnya. Negara tersebut juga dilarang melakukan peluncuran menggunakan teknologi rudal balistik, termasuk satelit.

Namun Pyongyang telah membela haknya untuk meluncurkan satelit dan mengembangkan teknologi ruang angkasa, dengan mengatakan peluncuran satelit sesuai dengan undang-undang internasional mengenai pengembangan ruang angkasa.

Da;a, pertemuan komite Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan Oktober, wakil utusan PBB dari Korea Utara, Kim In-ryong, mengatakan negaranya memiliki rencana pada 2016-2020 untuk mengembangkan satelit praktis yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan peningkatan kehidupan masyarakat.

Dia menekankan hak Korea Utara memproduksi dan meluncurkan satelit tidak akan berubah hanya karena Amerika Serikat menyangkal hal itu.

Korea Utara diyakini telah berhasil menempatkan satelit ke orbit pada Desember 2012 setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan sejak 1998 ketika meluncurkan satelit percontohan dan menamainya Kwangmyongsong-1.[]Sumber:DAILY MAIL/tempo

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.