16 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rapai Pase Dominasi Pertunjukan Teater Garapan Sutradara Jepang

...

  • Jamaluddin
  • 07 October 2018 08:00 WIB

Ketua grup Rapai Pase Raja Buwah, Muhammad Yusuf @Istimewa
Ketua grup Rapai Pase Raja Buwah, Muhammad Yusuf @Istimewa

BANDA ACEH - Suara tabuhan Rapai Pase dari grup Rapai Pase Raja Buwah binaan Muhammad Yusuf, atau yang sering dikenal Yusuf Bombang/Apa Kaoy, mendominasi pertunjukan teater Dionysus garapan sutradara terkenal Jepang, Suzuki Tadashi, yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu di Panggung Teater Terbuka Candi Prambanan Jogjakarta, 30 September 2018.

"Dalam Dionysus, diantara musik lain, suara Rapai Pase di dalamnya hampir mencapai sembilan puluh persen, maka dengan itu mayarakat Aceh harus bangga dengan Rapai Pase, melalui teater Dionysus itu Rapai Pase akan dikenal dunia," kata Yusuf.

Tiga tahun lalu sebenarnya mereka telah mempersiapkan musik untuk Dionysus, namun akhirnya mereka menggantinya dengan suara tabuhan dari Rapai Pase, karena iramanya bersifat heroik dan dapat memberikan semangat.

"Mereka sangat kagum dengan musik Rapai Pase karena mengandung unsur heroik yang bisa menambah semangat pemain, juga suara Rapai Pase lebih menyatu dengan cerita yang disajikan Dionysus," kata Yusuf.

Pada pertunjukan selanjutnya pihak pembuat Dionysus akan membagikan buku yang berisi informasi pertunjukan kepada penonton, di sana tercatat juga tentang Rapai Pase, dan musik lain. 

Dari pengalamannya menyaksikan teater itu, Yusuf berencana akan menerapkan cara penggarapan, cara melatih aktor dan sebagainya untuk diterapkan pada persiapan Teater Hikayat Prang Sabi garapannya.

Dionysus adalah bersifat sejarah yang menceritakan tentang peristiwa sejarah zaman Romawi kuno. Pemain Theater Dionysus berasal dari Jepang, Cina, Thailand, Indonesia, dan beberapa negara lainnya. Dalam dialog Dionysus dielek bahasa menggunakan bahasa kuno dari berbagai negara. 

"Kita menonton tidak mengerti bahasa tetapi dengan bahasa tubuh kita akan mengerti jalan cerita," katanya.

Sekilas awal mula terjalinnya hubungan kerjasama antara Grup Rapai Pase Raja Buwah dengan teater Dionysus berawal Pada tahun 2016 ketika Direktur Event Organizer (EO) Bumi Purnati, datang ke Aceh berjumpa dengan Pimpinan Grup Rapai Pasee Raja Buwah, Aceh Utara, Muhammad Yusuf.  Karena pada waktu itu diantara berbagai jenis seni, Rapai Pasee adalah yang paling unggul.

Setelah kunjungan itu tim dari EO Bumi Purnati terus menjalin komunikasi dengan Yusuf, hingga tim EO itu juga sempat berkunjung ke kediaman Yusuf di Aceh Utara.

Kemudian pada tahun 2017, tim EO Bumi Purnati kembali lagi ke Aceh untuk saksikan festival Rapai International.

Pada pertengahan tahun 2017, Yusuf bersama delapan anggota grupnya dapat undangan dari mereka ke studio Salihara Jakarta untuk rekam audio Rapai Pasee yang akan dipakai untuk keperluan soundtrack theater Dionysus karya sutradara Suzuki Tadashi. Dan proses perekaman dilakukan oleh komposer asal Jepang Takada Midori. Dan saat itulah Yusuf jumpa dengan Takada Midori.

Saat perekaman itu mereka hanya minta tempo dan ketukan Rapai saja yang harus Yusuf disesuaikan dengan kebutuhan Theater Dionysus, selebihnya masih bernuansa Khas Rapai Pase.

Bicara tentang perhatian pemerintah terhadap kehadiran Rapai Pase, sejak pertama pendirian grup Rapai Pase Raja Buwah tahun 1989, baru pada tahun 2017 dimasukkan dan menerima sertifikat sebagai salah satu warisan budaya tak benda dari Aceh dari Kementerian Pendidikan dan Kebuyaan.

"Saya bersama Grup Rapai Pase Raja Buwah diundang ke acara penyerahan sertifikat tersebut saat itu di Gedung Kesenian Jakarta, yang sertifikatnya diterima langsung oleh Wagub Aceh, Nova Iriansyah," kata Yusuf, di Banda Aceh, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Kemudian pada Desember 2017 dalam acara sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Republik Indonesia oleh Kemendikbud di lapangan Bola Kaki Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Aceh Utara, oleh Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, Kemukiman Buwah telah ditetapkan sebagai daerah Pusat Penelitian Rapai Pase.

"Insya Allah, harapan kita tentunya ke depan, harus mendapat pengakuan dari Unesco bahwa Rapai Pase Aceh dapat dimasukkan sebagai salah satu warisan Budaya tak benda dari Indonesia," harapnya. []

Editor: Arman

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.