21 July 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rencong, dari Senjata jadi Cenderamata

...

  • ANADOLU AGENCY
  • 11 January 2018 11:00 WIB

Pengrajin membuat Rencong di Desa Baet Lampuot, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada 06 Januari 2018. Rencong merupakan salah satu senjata tradisional Aceh dan saat ini menjadi souvenir. @Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency
Pengrajin membuat Rencong di Desa Baet Lampuot, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada 06 Januari 2018. Rencong merupakan salah satu senjata tradisional Aceh dan saat ini menjadi souvenir. @Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency

Model senjata mematikan khas Aceh yang ditakuti Belanda itu kental mengandung unsur keislaman

BANDA ACEH - Matahari telah mulai rebah ke arah barat bersamaan dengan aktivitas warga yang mulai kembali usai satu setengah jam beristirahat siang. 

Bangunan dengan dinding setinggi orang dewasa di Gampong (Desa) Baet Lampuot, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, mulai didatangi oleh beberapa pria dan anak-anak.

Masing-masing mengambil peralatan yang berbeda. Sebuah pekerjaan panjang menunggu untuk diselesaikan hari itu.

Di antara mereka ada yang mengambil legenda listrik dan menghaluskan besi yang panjangnya sekitar 25 sentimeter, memegang sisa tanduk kerbau untuk kemudian memotong menjadi beberapa bagian, memotong kayu berwarna kuning, dan ada juga yang menghidupkan tungku arang.

“Kali ini pesanan Rencong agak sepi, makanya tidak banyak masyarakat yang datang ke sini. Kami juga bekerja sambilan setelah selesai ke sawah karena saat ini sedang musim tanam padi,” sebut Sulaiman, salah seorang warga sambil merapikan rencong yang hampir selesai dibuatnya.

Rencong merupakan senjata tajam sejenis pisau. Senjata yang biasa disematkan di pinggang, khas orang Aceh.  

Senjata kedua setelah pedang itu ukurannya tidak lebih dari 30 sentimeter.

Dulu, rencong bukan hanya senjata yang dipakai saat berperang atau untuk mengalahkan musuh. Namun, sehari-harinya masyarakat Aceh juga menyelipkan rencong di pinggang mereka.

Saat pelaksanaan kegiatan adat, seperti perkawinan, pengantin laki-laki pun menyematkan rencong di pinggang depannya.

Seiring perubahan zaman, rencong yang dulunya menjadi senjata untuk membela diri, perlahan tak terlihat di pinggang masyarakat Aceh.

Kini, rencong hanya tersisa untuk perlengkapan saat acara adat. Selebihnya, hanya menjadi tanda mata wisatawan yang berkunjung ke Aceh, atau untuk hiasan plakat.

Tiga desa pembuat rencong

Di Aceh, secara turun temurun, rencong dibuat di tiga desa di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar.

Desa Baet Lampuot, Desa Baet Masjid Mesjid dan Desa Baet Meusagoe. Sebagian besar masyarakat di tiga desa ini paham benar cara membuat rencong.

Sulaiman mengaku membuat rencong tidak harus belajar khusus. Dia bahkan bisa membuat senjata tradisional itu, hanya dengan melihat ayahnya bekerja.

“Dulu ayah dan kakek saya pembuat rencong juga. Cerita kakek, kakek buyut saya juga pembuat rencong. Sekarang anak saya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) juga sudah mulai belajar membuat rencong. Saya tidak tahu, apakah cucu saya nanti akan juga menjadi pembuat rencong,” sebut Sulaiman sambil tertawa.

Hidup dalam keturunan pembuat rencong, Sulaiman mengaku, rencong kini sudah berbeda dengan masa rencong saat masih menjadi senjata untuk mengalahkan lawan atau musuh.

Awalnya, rencong dibuat dengan besi khusus dan sangat kuat. Untuk membuat satu rencong pun membutuhkan waktu yang cukup lama, karena butuh keahlian mengolah besi agar benar-benar menjadi senjata.

“Kalau sekarang, rencong sudah tidak lagi berguna untuk senjata, hanya dibuat dari besi biasa atau kuningan karena fungsinya hanya untuk suvenir dan perlengkapan pakaian adat,” ujar Sulaiman.

Bahkan, kata dia, kalau rencong yang terbuat dari bahan kuningan, saat ini telah ada  cetakannya.

“Mata rencong sudah berbentuk dengan beragam ukuran, tinggal dihaluskan dan dipasang gagangnya,” imbuh Sulaiman.

Meski perlahan sudah tak banyak digunakan sesuai khitahnya, dia mengaku tetap bangga masih membuat rencong.

Saat ini, tidak semua orang Aceh bisa membuat senjata tradisional ini, meski fungsinya telah berubah.

“Membuat gagang rencong dari tanduk kerbau disambung dengan kayu itu bukan perkara mudah. Butuh waktu dan keahlian membuat tanduk itu bengkok hingga membentuk huruf ‘Ba’ seperti di tulisan Bismillah,” tambah Sulaiman.

Di tempat yang sama, Ibrahim (54) yang juga pengrajin rencong mengungkapkan saat ini bahan baku untuk membuat rencong sudah sangat sulit didapatkan.

Kalaupun ada, harganya sudah sangat mahal. Sementara harga rencong yang diambil dari pengrajin tidak pernah naik.

“Kalau mata rencong dari kuningan, kami di sini meleburkan kuningan bekas. Tapi saat ini kuningan bekas sudah sulit didapat. Harganya juga sudah naik. Dulu saya beli kuningan bekas hanya Rp20 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp50 ribu. Itu pun barangnya tidak ada,” sebut Ibrahim sambil meleburkan kuningan dengan menggunakan tungku dan bahan bakar arang.

Pada tahun 2005 sampai tahun 2007 silam, ada sekitar 60 tempat pengrajin rencong di Desa Baet Lampuot, Desa Baet Masjid Mesjid dan Desa Baet Meusagoe. Sekarang, jumlah mereka terus berkurang karena pesanan rencong yang juga sudah mulai turun.

“Membuat rencong sudah tidak lagi menjadi pekerjaan utama, tapi hanya untuk kegiatan sampingan atau ada juga yang hanya membuat karena hobi,” tambah Ibrahim.

Senjata yang ditakuti Belanda

Ketua Laboratorium Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Husaini Ibrahim mengatakan, secara filosofi, model rencong yang merupakan senjata mematikan khas Aceh itu mengandung unsur keislaman yang kental.

“Rencong itu bentuknya seperti bismillah, kalau diperhatikan terdapat huruf Ba, Sin dan Lam. Senjata ini juga sangat mudah digunakan, bahkan tentara Belanda sangat takut dengan senjata ini,” sebut Husaini.

Menurut Husaini, di kerajaan Aceh ada peraturan yang mengharuskan masyarakat Aceh selalu menyemat rencong di pinggang setiap saat.

Selain karena untuk senjata, rencong juga akan meningkatkan wibawa pemiliknya.

“Bahkan ada rencong yang terbuat dari besi khusus, dari emas, perak dan lain sebagainya,” ujar dia.

Saat Belanda menjajah Aceh, sambung Husaini, pemerintah Belanda di Aceh sangat melarang masyarakat Aceh membawa rencong.

Belanda tak ingin masyarakat Aceh menikam tentaranya.

“Dulu, banyak masyarakat Aceh yang mulanya mendekati tentara Belanda dengan berteman. Setelah akrab, tentara itu akan ditikam dengan rencong. Kemudian senjata yang dibawa tentara Belanda akan diambil. Karenanya, Belanda menyebut Aceh Pungo atau Aceh Gila,” tambah Husaini.

Soal rencong yang kemudian menjadi cenderamata, Husaini berujar, perubahan itu terjadi setelah Indonesia merdeka.

Pejabat-pejabat dari pemerintah pusat atau tamu dari daerah lain yang berkunjung ke Aceh, sering dihadiahkan rencong.

“Setelah itu, mulailah rencong berubah. Bukan hanya menjadi senjata, tapi juga sebagai hadiah untuk tamu, hingga saat ini,” tutur Husaini.[]Sumber:anadolu agency

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.