26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sebagian ADG 2017 Belum Cair, Ini Kata Para Keuchik di Aceh Utara

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 03 November 2018 20:30 WIB

ilustrasi. @istimewa/net
ilustrasi. @istimewa/net

LHOKSUKON – Pemkab Aceh Utara hingga saat ini belum mencairkan sisa/kurang bayar Alokasi Dana Gampong (ADG) tahun 2017 meliputi dana kepemudaan, majelis taklim dan operasional perkantoran (OP) keuchik. Sementara untuk jerih keuchik dan perangkat gampong belum dibayarkan terhitung Juli 2018 hingga September 2018.

“Benar, hingga sudah memasuki November 2018, masih ada sisa dana ADG 2017 yang belum dicairkan Pemkab Aceh Utara. Dana kepemudaan Rp5 juta, dana operasional kantor (keuchik) Rp5 juta dan dana majelis taklim sekitar Rp8,5 juta,” ujar Ibnu Azwan, Keuchik Alue Drien, Kecamatan Lhoksukon, dihubungi portalsatu.com, Sabtu, 3 November 2018.

Menurut Ibnu Azwan alias Keuchik Wan, walaupun dana tersebut belum dicairkan, tapi selama ini kegiatan majelis taklim di Gampong Alue Drien tetap lancar. Selama ini anggota majelis taklim berpatungan dana secara sukarela untuk memberikan sedekah kepada guru (ustaz) yang dihadirkan.

“Dana yang dari ADG itu kami serahkan kepada guru majelis taklim pada waktu hari-hari besar, seperti lebaran sebagai dana tambahan buat lebaran. Kami memiliki tiga guru pengajian, untuk majelis kaum bapak, kaum ibu dan pengajian pemuda-pemudi,” kata Keuchik Wan.

Selain itu, kata Keuchik Wan, kegiatan kepemudaan di Alue Drien selama ini juga tetap berjalan lancar, baik pengajian dan kerajinan tangan hingga olahraga.

Meskipun sebagian dana operasional kantor (OP) keuchik tahun 2017 belum cair, Keuchik Wan mengaku dirinya secara pribadi belum pernah berutang kepada pihak lain untuk menjalankan kegiatan.

“Secara pribadi, saya masih bisa mengatasinya, walau agak ngos-ngosan sedikit. Maklum saja, jerih keuchik di Aceh Utara kan tergolong sangat besar untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dengan kisaran Rp1,2 juta per bulan. Bagi saya, kalau memang pihak pemkab merasakan agak berat, boleh dikurangi lagi karena nilai segitu sepertinya sudah lebih bagi geuchik. Jika perlu, gaji dan insentif para pekerja di pemkab yang perlu ditambah lagi, karena mereka kerjanya kan sekitar 10 jam perhari, sementara keuchik tidak ada batasan waktu. Jadi, Rp1,2 juta per bulan itu sudah lebih kayaknya,” ujar Keuchik Wan dengan nada bercanda.

Keuchik Wan berharap Pemkab Aceh Utara bisa lebih memerhatikan para keuchik dan aparatur gampong. “Bila mungkin jangan dibayar per 3 bulan sekali, karena kami juga manusia sama seperti para pekerja yang di pemkab juga. Selain itu, saya harap para petinggi Pemkab Aceh Utara bisa bersikap adil dalam menjalankan peraturan desa, jangan ada desa yang 'dianakkandung' atau 'dianaktirikan' seperti sekarang ini,” tegas Keuchik Wan.

Sementara itu, Keuchik Gampong Blang, Lhoksukon, Iskandar, mengatakan, “Memang sebagian ADG 2017 belum dicairkan enam bulan, dana operasional kantor Rp5 juta, majelis taklim sekitar Rp5 juta dan dana kepemudaan Rp5 juta. Namun demikian, hingga saat ini kegiatan majelis taklim masih berjalan, itu tidak boleh berhenti. Kita jalankan kegiatan dengan dana sumbangan sukarela. Untuk kegiatan kepemudaan juga berjalan”.

Keuchik Is mengaku, untuk biaya operasional kantor keuchik, ia terpaksa berutang dari dana gampong. “Mau bagaimana lagi. Kita pakai dulu dana gampong, nanti setelah dibayarkan pemkab ya kita bayar kembali, lainnya mau bagaimana lagi? Karena untuk 2018 juga belum cair. Bahkan untuk dana majelis taklim 2018 baru dicairkan Rp600 ribu, untuk yang lainnya baru dicairkan enam bulan awal terhitung Januari hingga Juni 2018,” ujarnya.

Dia berharap Pemkab Aceh Utara segera mencairkan dana tersebut, mengingat tanggung jawab keuchik di gampong tergolong besar. “Harapan kami keuchik ya cepat dicairkan, tanggung jawab kami besar jerih pun tidak ada karena belum dibayar Juli 2018 hingga September 2018, padahal ini sudah memasuki November. Diperhatikanlah kami para keuchik,” ucap Keuchik Is.

Nasrul Fadhil, Keuchik Gampong Ule Ceubrek, Kecamatan Meurah Mulia, mengatakan, “Perasaan sudah semua (cair ADG 2017), tapi saya tidak ingat lagi karena sudah lama, bahkan katanya beberapa tidak dicairkan lagi, cuma pastinya tidak tahu juga saya. Untuk nilainya saya lupa. Coba tanya ke keuchik lain saja ya. Untuk majelis taklim masih berjalan, kepemudaan bidang olahraga juga berjalan".

Jamaluddin, Keuchik Gampong Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, mengaku tidak ingat rincian sisa dana ADG 2017 jatah gampong ini yang belum dicairkan oleh Pemkab Aceh Utara.

 “Soal majelis taklim, Samakurok tidak pernah vakum dan 100 persen berjalan. Coba saja lihat malam Rabu, malam Minggu dan malam Jumat selalu aktif, dalam sepekan tiga kali. Untuk dana kegiatan majelis taklim itu berjalan dari sedekah anggota, jika tidak cukup nanti saya tambah. Ada partisipasi masyarakat, kita celeng dan kita berikan kepada yang menyampaikan tausiah. Kegiatan kepemudaan juga berjalan. Selama ini saya kerja dengan dana yang ada, seberapa cukupnya. Jika tidak cukup dana, maka saya kerjakan di tahap berikutnya, seperti itu sehingga tidak ada beban. Jika memang dananya belum ada, ya saya tunggu cair dulu, tidak mau berutanglah,” pungkas Jamaluddin.

Diberitakan sebelumnya, tim Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Aceh Utara melakukan audiensi dengan DPRK terkait lambannya pembayaran Alokasi Dana Gampong (ADG) tahun anggaran 2017, di Gedung DPRK setempat, Jumat, 2 November 2018, sore.

Pertemuan tersebut dipimpin Wakil Ketua II DPRK Aceh Utara, Zubir HT., didampingi Wakil Ketua III DPRK, H. Abdul Mutaleb, S.Sos., anggota DPRK, Anzir, S.H., Misbahul Munir, dan T. Bachtiar. Turut hadir Ketua Apdesi Aceh Utara, Abubakar, Asisten I Setda Aceh Utara, Dayan Albar, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Kabupaten (BPKK) Aceh Utara, Muhammad Nasir, dan sejumlah stafnya.

Ketua Apdesi Aceh Utara, Abubakar, mengatakan, pihaknya meminta DPRK turun tangan agar Pemkab Aceh Utara segera mencairkan sisa ADG tahun 2017 yang meliputi tiga kategori, yakni dana kepemudaan, majelis taklim, dan operasional keuchik.

"Kita berharap pembayaran dana itu pada tahun ini bisa segera dituntaskan. Jika persoalan tersebut tidak bisa dituntaskan maka ada sebagian gampong di Aceh Utara tidak bisa melunasi pajak," kata Abubakar akrab disapa Keuchik Abu kepada portalsatu.com, usai audiensi tersebut.

Menurut Abubakar, hasil dari pertemuan tersebut, pihak Pemkab Aceh Utara menyahuti secara bijak dan arif, bahwa akan membayar semua dana itu di akhir 2018. Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah terus memerhatikan gampong baik itu dari segi persoalan kemiskinan, pendidikan maupun lainnya.

Wakil Ketua II DPRK Aceh Utara, Zubir HT., menyebutkan, pihaknya mengharapkan sisa pembayaran atau kurang bayar ADG tahun 2017 untuk segera dituntaskan. Kesimpulan dari audiensi tersebut, kata Zubir, Pemkab Aceh Utara berkomitmen bahwa sisa ADG itu akan dibayar paling telat akhir Desember 2018.

Anggota DPRK Aceh Utara, Anzir, menjelaskan, ADG 2017 kurang bayar itu antara Rp18 juta sampai Rp25 juta pergampong dari 852 gampong di Aceh Utara, sehingga total keseluruhan sekitar Rp17,9 miliar. Dari dana itu mencakup tiga kategori yakni dana majelis taklim, operasional keuchik, dan dana kepemudaan.

"Jumlah dana tersebut memang bervariasi, karena dilihat dari segi kriteria masing-masing gampong. Pemkab Aceh Utara pun sudah berkomitmen untuk menyelesaikan atau membayar dana tersebut," ujar Anzir.[](Baca: Sisa ADG 2017 Belum Cair Apdesi Aceh Utara Audiensi Dengan DPRK)[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.