19 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sedekah Nasi Ala Pidie

...

  • MUDIN PASE
  • 20 January 2019 07:00 WIB

Ada gerakan sosial baru di Pidie. Gerakan membantu duafa. Kegiatannya tidak umum. Para pekerja sosial terdiri dari anak muda dan mahasiswa. Mereka setiap Jumat mengunjungi rumah-rumah warga miskin. Dengan membawa nasi bungkus. 

Gerakan ini mereka namakan Sedekah Nabung (nasi bungkus). Menariknya semua relawan tanpa dibayar. Mereka mengeluarkan sendiri semua biaya antar Nabung. "Kawan-kawan relawan seperti ketagihan untuk kegiatan ini," jelas Ismail Von Sabi, salah satu penggagas kegiatan ini. Ada kepuasaan tersendiri relawan saat berinteraksi langsung dengan para fakir itu. 

Sumbangan nasi bungkus ini datangnya dari mana? Para relawan menggunakan media sosialnya. Umumnya menggunakan Facebook menggalang sedekah. "Kami mematok Rp 18.000 perbungkus," tambah Ismail. 

Menurut koordinator Sahabat Duafa Pidie ini, umumnya sedekah itu dikirim oleh dermawan luar Aceh. Bahkan dari luar negeri. "Kami antar langsung Nabung, foto dan mengirim ke penyumbang," imbuh Ismail.

Mereka juga meng-upload semua foto serah terima Nabung di FB masing-masing. "Ini bagian pertanggungjawaban publik kami," jelas Ismail.

Ismail mengaku sejak diluncurkan beberapa bulan lalu, program ini cukup baik disambut para dermawan. Rata-rata mereka membagi 100 Nabung setiap Jumat. "Kegiatan ini sepenuhnya tanpa biaya apapun untuk kami relawan. Seluruh sedekah kami sampaikan ke kaum miskin," ungkapnya.

Buat para relawan, ini sebagai pemicu. "Yang kami inginkan kepedulian terhadap kaum miskin tidak sporadis dan parsial, tapi menggugah para pengambil kebijakan untuk peduli," ucap tokoh penggerak di balik Pidie Mengajar, Pidie Membaca, dan Sahabat Duafa Pidie ini.

Ia mengaku terpanggil menjadi gerakan sosial tanpa operasional. Menurutnya, relawan terutama kaum muda dan mahasiswa sangat tertarik. Ini menjadi proses membentuk jiwa sosial saat mereka berkiprah di masyarakat nanti.

"Kalau suatu saat mereka jadi pemimpin di masyarakat nanti, mereka menjadi lebih empati pada kaum papa. Sehingga tidak seperti saat ini, kaum miskin malah dimanfaatkan untuk menghabiskan anggaran. Hasilnya, orang miskin tidak juga beranjak sejahtera," kritik Ismail yang sehari-hari berjualan kebab di kota Sigli.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.