19 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sejarah Aceh dan Kisah yang Luput

...

  • MUDIN PASE
  • 06 February 2019 07:30 WIB

Alkaf. Foto: istimewa
Alkaf. Foto: istimewa

BANDA ACEH - Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Muhammad Alkaf, melihat penulisan sejarah Aceh tak lengkap. "Ada banyak tokoh penting gagal dikonstruksikan oleh sejarah. Padahal peran mereka juga tidak kecil, dan ini tidak boleh terpendam," jelas pria kelahiran Aceh Rayek ini kepada portalsatu.com, 5 Februari 2019.

Dia melihat bahwa sejarah tentang tokoh-tokoh Aceh banyak yang tidak tertulis dengan baik. "Konstruksi penulisan tokoh-tokoh penting di Aceh. Diawali oleh Daud Beureuh, orang yang paling dibicarakan di Aceh, sejak abad ke-20," ungkap pria dengan nama esai Bung Alkaf.

Menurut Alkaf, meskipun Tgk. Muhammad Daud Beureueh terlibat dalam peristiwa politik, seperti memimpin gerakan Darul Islam, namun tetap saja sosoknya dianggap sebagai pahlawan dan inspirasi bagi rakyat Aceh. "Saya melihat bahwa hal tersebut dikarenakan Beureueh beruntung lahir dan berada dalam kelompok intelegensia baru Aceh yang muncul pascaperang Aceh," ungkap penyuka sejarah ini. 

Dia menjelaskan, generasi intelegensia ini pada zamannya telah berhasil melakukan produk sejarah dan kebudayaan yang cukup baik. Dan kepahlawanan Beureueh sangat dipengaruhi oleh catatan-catatan sejarah yang dilakukan oleh kelompok intelegensia tersebut. "Betapapun ada penulis-penulis lain yang berlaku kritis terhadapnya, sehingga Beureueh kemudian mampu mengisi ingatan sejarah di Aceh," tambah Alkaf

Sebagai contoh, kata Alkaf, ada beberapa karya yang secara khusus menempatkan Beureueh sebagai sosok penting dalam peta adalah yang ditulis M. Nur Ibrahimy (1992), lalu belakangan ditulis oleh Hasanuddin Yusuf Adan (2005). "Selain tentunya buku-buku berbeda yang mengkonstruk sketsa Aceh pascaperang Aceh sampai dengan gerakan Darul Islam yang hampir tidak meniadakan keberadaan Daud Beureueh," jelas mantan peneliti di Aceh Institut ini.

Alkaf menyebutkan, generasi pertama intelegensia selalu saja berhasil memosisikan diri mereka dalam alur sejarah Aceh dengan baik. Yaitu menuliskan perspektifnya tentang pergolakan dan perubahan sosial melalui buku riwayat hidupnya (otobiografi), seperti yang ditulis Ali Hasymi (1984), Hasan Saleh (1992), dan Sjamaun Gaharu (1995).

"Selain itu juga kita bisa membaca sejarah Hasby Ash-Siddiqie yang ditulis oleh anaknya, Nuruzzaman Ash-Shdiqie, serta peran Ayahanda Ibrahim yang berjasa dalam membangun pendidikan modern di Aceh dengan mendirikan Jaddam Montasiek yang telah ditulis oleh Dr. Zainal Abidin, dosen IAIN Ar-Raniry. Ditambah lagi dengan perhatian para sarjana yang menjelaskan secara baik periode ini melalui Nazaruddin Sjamsuddin (1990; 1999) dan Isa Sulaiman (1997)," ujar Alkaf.

Namun, Alkaf menyayangkan tokoh intelegensia awal yang lain seperti Tgk. M. Ali Piyeung, Sulaiman Daud, Ayah Gani, Hasan Ali dan Husin Al-Mujahid, tidak menjelaskan posisinya dengan terang melalui buku yang otoritatif mengenai peran-peran mereka tersebut.

"Saya juga sedih melihat pada sosok Prof. Shafwan Idris, individu yang diakui cemerlang ini, setelah lama Aceh kehilangan generasi demikian, namun, kita hampir tidak menemukan dirinya, seperti pikirannya, kecuali buku-bukunya mengenai zakat dan biografi singkatnya pascabeliau wafat," jelas pendiri Padebooks ini.

Padahal, kata Alkaf, Shafwan Idris memiliki banyak kisah dan cerita mengenai kemestian tentang gagasan-gagasan yang progresif, mengenai pendidikan, manusia, agama, masyarakat dan negara.

Lalu bagaimana dengan Hasan Tiro? Sebagai siswa cerdas di Noormal Islam School Bieruen, Tiro tidak hadir dalam sebuah kelompok intelegensia yang mampu memberikan posisinya yang penting dalam pusaran sejarah, kata Alkaf. Dalam beberapa segi, malah sejarah Tiro ditulis sebagai bagian dari kelompok intelegensia awal, seperti mahasiswa UII, sekolah di Normal Islam dan ke Columbia.

"Ini bisa disebut sebagai kegagalan dari generasi yang menyokong Tiro dari klan politiknya. Padahal, bagi GAM, dengan adanya modal politik yang ada, ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan produktivitas kebudayaan dengan melakukan konstruk atas sosok Tiro," ujar Alkaf.

Sebab, menurut Alkaf, bila tidak maka pihak lain yang akan melakukan hal tersebut, yang kemudian hari bisa saja, Tiro dan GAM-nya diposisikan sebagai pahlawan atau pesakitan.

Alkaf memberi contoh, bagaimana seorang tokoh menjadi abadi dan mencerah walau telah tiada. "Saya menjadi teringat beberapa bulan setelah Gus Dur wafat, saya mengunjungi salah satu toko buku penting di Yogyakarta. Saya melihat betapa banyak buku yang menulis mengenai Gus Dur dari berbagai aspek, bahkan sampai ada buku dialog dengan Gus Dur dari alam kubur," ceritanya.

Dia menilai Gus Dur memang berhasil diproduk dengan sedemikian rupa sehingga pada titik tertentu, ia menjadi mitologi tersendiri. "Gus Dur selalu saja hidup, karena dia terus ditulis sejarahnya. Hal yang tentunya baik untuk kita lakukan di Aceh, sebagai usaha utuk menyambung tali temali sejarah yang berkesinambungan. Agar generasi mendatang memahami langkah apa yang harus dilakukan di masa depan, karena telah mengetahui proses yang terjadi sebelumnya," ujar Alkaf.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.