20 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Selain Sosialisasi Syariat Islam, Plt. Gubernur Tantang Thaliban Aceh Soal Narkoba

...

  • PORTALSATU
  • 09 April 2019 19:00 WIB

Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah membuka Muktamar ke-5 RTA, di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Senin, 8 April 2019, malam. Foto: RTA
Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah membuka Muktamar ke-5 RTA, di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Senin, 8 April 2019, malam. Foto: RTA

BANDA ACEH - Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengajak Rabithah Thaliban Aceh (RTA) membuat formulasi pencegahan narkoba bilateral antara Malaysia dan Aceh.

Formulasi itu dengan pendekatan teori pakar alamtologi Malaysia, Dr. Zamri Masa Bayu, yang hadir pada pembukaan Muktamar ke-5 RTA, di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Senin, 8 April 2019, malam. Zamri Masa Bayu bertindak sebagai pembicara.

Menurut Nova, melawan narkoba sama seperti melawan hoaks. “Saya menantang RTA untuk membuat formulasi yang konkret dalam melakukan pencegahan narkoba secara bilateral. Pemerintah Aceh akan membantu secara logistik. Apa yang dibutuhkan. Kalau kita tidak bisa melakukan pencegahan bilateral antarnegara, minimal antarprovinsi di Malaysia,” ujar Plt. Gubernur Aceh saat membuka Muktamar RTA itu.

Sebelumnya, dalam pidatonya pada acara tersebut, Nova  mengajak RTA mensosialisasikan syariat Islam ke mancanegara. Hal ini, menurut Nova, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dunia akan berbagai keberhasilan dari proses penegakan syariat Islam di Aceh yang sudah berlaku sejauh ini.

“Saya minta kepada Dinas Pendidikan Dayah dan Dinas Syariat Islam agar bekerja sama dengan Rabithah Thaliban Aceh untuk membuat formulasi sosialisasi dan pencerahan tentang syariat Islam ke berbagai mancanegara dalam berbagai teknik komunikasi. Saya berani katakan bahwa kalau kita dapat melakukan sosialiasi tentang syariat Islam secara baik, misalnya tentang hukum cambuk, maka pasti orang luar bisa memahami dengan lurus dan positif,” ujar Nova.

Nova menceritakan, di beberapa tempat di luar sana merasa bangga dengan hukum cambuk yang berlaku di Aceh. Ketika orang di luar sana memahami tentang hukum cambuk dengan sosialisasi dan pencerahan yang disampaikan pihak pemerintah Aceh, mereka justru memberi apresiasi.

“Ketika saya berbicara dengan Gubernur Adlit wilayah South Australia, ternyata dia salah paham dengan hukum cambuk di Aceh. Dia kira hukum cambuk ini berdarah-darah. Tapi setelah saya jelaskan, saya jelaskan juga bagaimana non-Muslim lebih memilih dihukum dengan hukum cambuk. Akhirnya dia paham dan mengapresiasi dan meminta kita untuk membuat formulasi untuk sosialisasi syariat Islam ke mancanegara,” ujar Nova.

Nova juga memberi apresiasi kepada RTA yang hingga kini masih menjadi tumpuan masyarakat. Kiprah RTA menurut Nova hingga hari ini masih diukur. RTA adalah generasi muda potensial untuk masa depan Aceh. Maka ketika diminta membuka acara muktamar RTA, dirinya langsung menyatakan kesediannya.

Nova mengatakan, hari ini masih ada generasi muda yang alergi dengan syariat Islam. Masih ada yang memisahkan antara modernisasi dengan syariat. Masih ada pihak-pihak yang menganggap syariat Islam terbelakang. “Kita harus menjadikan syariat Islam itu sebagai kebanggaan anak-anak muda. Jangan pernah malu atau alergi dengan syari’ah,” tegasnya.

Sementara itu, Rais ‘Am RTA, Tgk. Imran Abubakar dalam sambutannya mengajak para santri untuk terus mengawal syariat Islam di Aceh. Tgk. Imran menceritakan kiprah dan perjuangan RTA di masa konflik hingga saat ini. Ia juga meminta semua pihak agar tidak memandang para santri Aceh dengan sebelah mata.

Selain ratusan santri dan Pengurus Cabang RTA se-Aceh, hadir dalam pembukaan Muktamar ke-5 RTA sejumlah tokoh dan pejabat Aceh, seperti Wali Nanggroe Aceh Malek Mahmud Al-Haytar, Wakil Bupati Aceh Besar Waled Husaini, Ketua Partai Daerah Aceh (PDA), anggota DPR RI dari PKS M. Nasir Djamil, S.Ag., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Usamah Elmadny, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua MPU Aceh Tgk. Hasbi Albayuni, unsur dari Polda, Baba Baihaqi Pantonlabu, Tgk. Anwar Kuta Krueng, dan tamu lainnya.

Agenda Muktamar ke-5 RTA diawali dengan seminar internasional menghadirkan pemateri dari Aceh, Jakarta dan Malaysia. Acara seminar berlangsung setelah pembukaan muktamar dan berlanjut hingga Selasa, 9 April 2019. Setelah itu dilanjutkan pembahasan tata tertib muktamar, AD/ART dan pemilihan Rais 'Am yang baru.[](adv)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.