26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Seminar di Unsyiah, Ini Kata Menkominfo Soal Hoaks dan Implikasinya

...

  • PORTALSATU
  • 02 April 2019 13:00 WIB

Foto istimewa
Foto istimewa

BANDA ACEH - Kementerian Komunikasi dan Informatika RI melaporkan bahwa pertumbuhan hoaks menjelang Pemilu 2019 meningkat signifikan. Agustus 2018, jumlah berita yang terverifikasi hoaks hanya 25. Bulan Januari 2019 meningkat tajam menjadi 175, Februari menjadi 353 dan Maret menjadi 453.

Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, dalam pemaparannya pada Seminar Nasional bertema “Hoaks dan Implikasinya Terhadap Demokrasi dan Pembangunan Berkeadilan” yang dilaksanakan Kantor Staf Presiden dan Unsyiah di Banda Aceh, 2 April 2019, menyatakan sekitar 30% dari jumlah hoaks yang terjaring kementeriannya bertema dan bermuatan politik.

“Ada upaya-upaya mendeligitimasi dan membangun distrust kepada pemerintah melalui hoaks-hoaks ini, yang merugikan kita semua, bahkan bisa memicu perpecahan. Kita perlu mendidik masyarakat untuk membiasakan memverifikasi informasi atau bertabayun,” ujar Rudiantara dalam presentasinya.

Sementara itu, Deputi V KSP, Jaleswari Pramodhawardani mengemukakan dalam sambutannya bahwa hoaks tidak sekadar penyebaran kabar bohong dan fitnah yang membuat masyarakat bingung. Lebih jauh, hoaks sangat merugikan karena mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia, serta menghambat upaya-upaya pembangunan dan menyejahterakan masyarakat yang sedang diupayakan pemerintah.

Jaleswari menyampaikan, “Pemerintah punya banyak sekali program yang baik untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Seperti program PKH, BPJS, kredit mekar, dan lainnya. Namun, sering program-program itu terhambat realisasinya karena masyarakat diracuni berita bohong untuk tidak percaya pada pemerintah. Ini sangat merugikan masyarakat luas.”

Seminar nasional dihadiri sekitar 1.000 mahasiswa Unsyiah itu menghadirkan berbagai narasumber terkemuka. Di antaranya Peneliti Senior Politik LIPI, Prof. Dr. Syamsuddin Haris, Anggota Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, Wakil Direktur Cybercrime Mabes Polri Kombes Asep Syafrudin, dan akademisi Unsyiah Nur Anisa.

"Seminar nasional ini menjadi penting mengingat Aceh merupakan salah satu daerah dengan tingkat paparan hoaks tertinggi di Indonesia". Menurut hasil survei LIPI pada Januari 2019, Aceh bersanding dengan Jawa Barat dan Banten sebagai daerah dengan tingkat penyebaran hoaks terparah. Seminar ini bertujuan memberikan ‘wake up call’ kepada para pemangku kepentingan, akademisi, dan masyarakat Aceh untuk bersama memerangi hoaks, karena akan merugikan masyarakat bahkan memicu konflik.

Sementara itu, Kombes Asep Syafrudin mengingatkan masyarakat untuk tidak bermain-main dengan hoaks dan fitnah di media sosial, apapun motifnya, karena pemerintah melalui Polri sangat serius memerangi hoaks. “Bareskrim punya alat yang sangat canggih untuk mendeteksi penyebar hoaks. Kami bisa dan sudah menangkap mereka dalam waktu yang sangat singkat,” ujarnya.

“Kita harus mendidik masyarakat untuk bisa membedakan berita dan informasi. Apa yang tersebar di media sosial, belum tentu berita. Belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” demikian Yosep Adi Prasetyo, anggota Dewan Pers, menutup presentasinya dalam seminar tersebut.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.