29 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Seminar Kajian Tipologi Batu Nisan Samudra Pasai, Ini Pemaparan Peneliti CISAH

...

  • portalsatu.com
  • 21 July 2020 12:55 WIB

LHOKSEUMAWE – Museum Islam Samudra Pasai di Aceh Utara menggelar webinar atau seminar web dengan tema “Kajian Tipologi Batu Nisan Samudra Pasai”, Kamis, 9 Juli 2020. Webinar dalam rangka memperingati Hari Jadi Museum Islam Samudra Pasai itu menampilkan dua narasumber, Peneliti Sejarah Islam (Epigraf), Taqiyuddin Muhammad, dan Peneliti CISAH, Mizuar Mahdi. Webinar diikuti berbagai kalangan termasuk dari luar Aceh itu dipandu Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Nurliana NA., sebagai moderator.

Untuk diketahui, Tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) menemukan cukup banyak batu nisan tinggalan sejarah Samudra Pasai dengan sebaran amat luas di Aceh. Inskripsi terpahat pada sebagian artefak batu nisan itu menjadi sumber penulisan sejarah Samudra Pasai.

Lantas, bagaimana tipologi batu nisan Samudra Pasai tersebut?

Mizuar Mahdi mengawali pemaparannya dengan pertanyaan, kenapa CISAH dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) sangat identik dengan batu nisan?

“Sebenarnya ini adalah penelusuran jejak sejarah Islam yang ada di Aceh. Jadi, teks-teks ataupun sumber-sumber yang autentik, yang dalam pencarian kita selama belasan tahun ini masih sangat minim, kecuali batu nisan. Karena pada batu nisan itu meninggalkan jejak, tulisan kaligrafi atau inskripsi yang terpahat padanya. Dan hanya itu yang ditemukan dalam jumlah besar, sebarannya pun cukup luas di Asia Tenggara ini. Kita memfokuskan pada batu nisan ini,” tutur Mizuar.

“Dalam perjalanan CISAH kemudian juga diikuti oleh MAPESA di Banda Aceh, kita telah menemukan jutaan batu nisan yang tersebar di seluruh Aceh. Kemudian kita mengidentifikasinya,” tambah Mizuar.

(Mizuar Mahdi)

Mizuar menjelaskan, batu nisan Samudra Pasai adalah batu nisan pada kubur-kubur peninggalan sejarah yang ditemukan di kawasan situs Samudra Pasai, terutama di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, hari ini.

“Samudra Pasai, sekarang kita menyebutnya Sumatra Pasai, berdasarkan banyak literatur yang kita temukan, baik yang dikatakan oleh Ibnu Batutah dan berbagai sumber pada masa kolonial Belanda,” ujar Mizuar.

Menurut Mizuar, Sumatra Pasai adalah dua toponimi yang digabungkan (majemuk) untuk menunjukkan keidentikan keduanya sebagai sebuah wilayah di bawah pemerintahan kesultanan Islam yang diketahui mulai berdiri sejak abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi) sampai dekade-dekade permulaan abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi).

“Batu nisan Sumatra Pasai dalam pengertian seperti dikemukakan di atas dapat dibagi dalam dua kelompok umum: satunya, batu nisan asli dari Sumatra Pasai, dan lainnya adalah batu nisan tidak asli Sumatra Pasai,” tutur Mizuar.

Mizuar melanjutkan, batu nisan asli Sumatra Pasai ditemukan dalam jumlah sangat banyak dengan berbagai bentuk, ukuran dan polanya yang khas. “Dan dia lazim menggunakan batu sungai,” ucapnya.   

“Batu nisan asli Sumatra Pasai adalah yang diyakini diproduksi di wilayah-wilayah Sumatra Pasai dengan menampilkan nilai-nilai kesenian dan budaya yang berkembang di dalam masyarakat Sumatra Pasai,” tambah Mizuar.

Sedangkan batu nisan yang bukan asli dari Sumatra Pasai, menurut Mizuar, adalah batu nisan tipe Cambay atau tipe Gujarat. “Itu nisan-nisannya berbahan dari marmer. Batu nisan dari marmer ini dipahat di Cambay dikirim kemari sebagai hadiah atau penghargaan kepada pemuka Sumatra Pasai ataupun sultannya dalam hubungan dua kesultanan ini,” ujarnya.

“Kemudian ada juga tipe Cambay dari bahan batu pualam ini yang dipahat di Sumatra Pasai. Ini bisa kita lihat di kompleks pemakaman periode kedua kesultanan Sumatra Pasai,” jelas Mizuar.

Mizuar menyebutkan, batu nisan asli Sumatra Pasai dan lainnya telah digenerikkan dengan nomenklatur “Batu Nisan Aceh”. Ini didasari pertimbangan-pertimbangan yang antara lain: pertama, Aceh merupakan wilayah di mana ditemukan batu-batu nisan tersebut dalam jumlah besar dan padat; kedua, batu-batu nisan tersebut dikenal di wilayah-wilayah lain di luar Aceh, seperti di semenanjung Melayu, dengan batu Aceh atau nisan Aceh; ketiga, sejumlah penanggalan Islam tertua yang ditemukan terdapat pada batu-batu nisan dalam wilayah Aceh hal mana dapat menunjukkan bahwa Aceh merupakan wilayah di mana tradisi pembuatan batu-batu nisan itu berawal, kemudian menyebar, dan terus mengalami berbagai perkembangan sampai dengan abad ke-13 Hijriah (ke-19 Masehi). Namun, beberapa monumen kubur (cenotaph) tetap mesti dikecualikan dari nomenklatur ini karena tidak dapat diyakini memiliki kaitan (relasi) lain di luar keberadaanya secara geografis; baik itu relasi dari sisi produksi maupun kesenian.

“Batu nisan asli Sumatra Pasai inilah yang dimaksud dengan batu nisan Sumatra Pasai di sini, dan selanjutnya akan disebutkan demikian,” ujar Mizuar.

Mizuar mengungkapkan, tipologi batu nisan Sumatra Pasai adalah pengelompokan sistematik untuk tipe (model) batu nisan Sumatra Pasai menurut karakteristik yang dimiliki masing-masing tipe. Batu nisan Sumatra Pasai sebagaimana umumnya Batu Nisan Aceh memiliki aspek-aspek internal seperti material, bentuk, dekorasi, kaligrafi, verbal (epigrafi) dan juga aspek eksternal: keruangan (konteks geografis).

“Selanjutnya, di sini, hanya dipaparkan mengenai aspek bentuk batu nisan Sumatra Pasai untuk mengetahui tipologi atau klasifikasi bentuk batu nisan Sumatra-Pasai,” tutur Mizuar.

Mizuar menjelaskan, bentuk batu nisan Sumatra Pasai semenjak permulaan tradisi pembuatannya didorong oleh hasrat untuk menampilkan identitas etnik dan budaya. Penggayaan (stilisasi) dilakukan untuk melahirkan abstrak wajah yang menyamarkan wajah alami. Alasan pengambilan figur wajah serta pengabstrakannya (antropomorfikabstrak) dalam rangka menampilkan identitas etnik dan budaya adalah karena objek identifikasi yang paling umum adalah wajah.

Bentuk batu nisan Sumatra Pasai yang dapat dikatakan merupakan prototipe, lebih umum dan dibuat secara berkelanjutan sepanjang zaman Sumatra Pasai adalah bentuk Batu Nisan Wajah Pasai. Bentuk batu ini memperlihatkan roman wajah berpenampilan sederhana dengan rambut disanggul pendek atau tinggi di tengah kepala.

Bentuk batu nisan Sumatra Pasai kemudian mengalami perkembangan oleh karena dorongan hasrat untuk menampilkan identitas sekaligus status sosial orang yang dikuburkan. Puncak batu nisan (kepala) dalam perkembangan ini dibuat dalam bentuk menyerupai tudung kepala. Pengabstrakan (stilisasi) tudung kepala ini dibuat dengan memunculkan tonjolan di kiri-kanan bagian bawah puncak batu nisan yang menguncup dan dipangkas datar di bagian atasnya. Bentuk seperti ini dapat diistilahkan dengan batu nisan Kulahkama Pasai. Kulahkama berarti mahkota (Arab: taj), dan surban juga termasuk di antaranya. Batu nisan Kulahkama Sumatra-Pasai mengalami perkembangan kuat dan popular dalam abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi).

Menurut Mizuar, batu nisan Kulahkama Sumatra Pasai ini ditemukan di pedalaman Aceh Utara, tepatnya di Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia. Ada dua batu nisan berinskripsi, yang pemilik makamnya bergelar “Mahbub qulub al-khala'iq”. Sesuai inskripsi, dua tokoh pemilik makam ini wafat pada tahun 622 H atau 1225 M. Salah seorang tokoh itu bernama Ibnu Mahmud. Bunyi terjemahan inskripsi pada makam tersebut:  "Inilah kubur orang yang berbahagia lagi syahid, dicintai oleh hati banyak orang, Ibnu Mahmud. Diwafatkan pada tanggal hari Ahad penghabisan bulan Zulhijjah 622 tahun sejak hijrah Nabi [saw.]".

Mizuar menambahkan, dalam abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi) muncul bentuk yang dapat dikatakan sebagai tahap akhir dari perkembangan bentuk batu nisan Sumatra Pasai. Sekalipun bentuk terakhir ini merupakan evolusi dari bentuk batu nisan Wajah Pasai, namun dalam tahap ini, batu nisan Sumatra Pasai, dapat dikatakan, sudah benarbenar meninggalkan gagasan antropomorfik, dan hanya mempertahankan bentuk abstraknya. Disebabkan perubahan substansial pada gagasan pembuatan batu nisan, bentuk ini tidak lagi dapat disebut dengan bentuk batu nisan Wajah Pasai, tapi cukup dengan batu nisan Pasai Akhir. Seiring popularnya bentuk ini dalam pertengahan kedua abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi) sampai penghujung zaman Sumatra Pasai, teramati pula surutnya kehadiran batu nisan Kulahkama Pasai.

“Sebagai kesimpulan, dengan melihat kepada aspek bentuk batu nisan Sumatra Pasai, maka tipologi batu nisan Sumatra-Pasai dapat dibagi kepada tiga klasifikasi: pertama, batu nisan Wajah Pasai; kedua, batu nisan Kulahkama Pasai; dan ketiga, batu nisan Pasai Akhir,” ujar Mizuar.

(Arsip CISAH:  Ikatan Mahasiswa Tapanuli Bagian Selatan di Lhokseumawe berziarah ke Kompleks Pemakaman Kesultanan Sumatra Pasai periode III di Meunasah Meucat, Samudera, Aceh Utara, 31 Maret 2019.)

Setelah menyimak pemaparan itu, salah seorang peserta webinar, Ambo Asse Ajis dari BPCB Aceh, menyampaikan komentar. Menurut dia, ketika membicarakan tipologi selalu harus ada dasar-dasarnya. Misalnya, dasar tipologi “A, B, atau C”. Ambo juga mengatakan, situs batu nisan di Leubok Tuwe, yang inskripsinya berhasil dibaca oleh pihak CISAH dan MAPESA, penyebutan angka tahunnya itu sebelum masa Kerajaan Samudra Pasai. “Tidak tepat disebut tipe Pasai, karena nisan ini lebih awal dari Kerajaan Pasai itu sendiri,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Taqiyuddin Muhammad menyebutkan, “Masalah Leubok Tuwe mugkin itu terjebak kita dalam penamaan kerajaan. Nama itu tidak kita warisi dari masa itu. Jadi, yang kita maksudkan batu nisan Sumatra Pasai itu terkait dengan toponimi yang kita namakan hari ini, Sumatra Pasai”.

“Jadi, apa yang berada di Sumatra Pasai ataupun di dalam pengertian kita bahwa batu nisan Sumatra Pasai itu adalah peninggalan sejarah yang ada di dalam kawasan peninggalan sejarah Sumatra Pasai,” jelas Taqiyuddin Muhammad.

Taqiyuddin Muhammad menegaskan, “Batu nisan Samutra Pasai itu maksudnya batu nisan tinggalan sejarah yang kita temukan dalam kawasan yang kita sebut dengan Sumatra Pasai ataupun Samudra Pasai”.

“Jadi, penamaan batu nisan Samudra Pasai tidak terkait dengan masa-masa pemerintahan kerajaan. Itu istilah yang kita buat dalam penulisan sejarah kita,” tegasnya.

(Nurliana NA)

Berdasarkan penjelasan Taqiyuddin Muhammad itu, moderator webinar yakni Nurliana menyimpulkan, “(Soal pertanyaan) dari mana dasar tipologinya, itu adalah hasil dari penelitian. Kita mengambil dari hasil penelitian dan kita kaji di lapangan, itu menjadi satu dasar bagi kita untuk mengelompokkan batu nisan tersebut”.

“Kenapa (batu nisan) Leubok Tuwe itu dikatakan batu nisan Samudra Pasai. Tadi sudah dijelaskan Ustaz (Taqiyuddin Muhammad), itu tidak berdasarkan kerajaan. Meskipun Kerajaan Samudra Pasai hadirnya di abad ke-12 setelah nisan ini ada, tetapi kita meneliti kawasan bahwa di sana ada tinggalan arkeologis yang dikelompokkan bisa dikatakan sebagai batu Pasai,” tegas Nurliana yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara.

Sementara itu, salah seorang peserta webinar berasal dari Museum Langkat, Sumatera Utara, menanyakan bagaimana membedakan tahun pembuatan batu nisan tersebut.

Mizuar Mahdi mengatakan, untuk membedakan periode atau tahun ke berapa, hanya inskripsi terpahat pada batu nisan itu yang dapat menjelaskan pemilik makam tersebut telah wafat pada tahun berapa. “Hanya inskripsi yang bisa menerangkan periode batu nisan itu dikeluarkan (dibuat),” ujar Mizuar sambil memperlihatkan beberapa gambar batu nisan berinskripsi.

Nurliana kemudian menyimpulkan, “Untuk membedakan tahun pembuatan, sebenarnya yang membedakan tipologi itu adalah inskripsi yang tertulis di batu nisan tersebut. Kalau sudah tidak ada inskripsinya, mungkin kaligrafinya yang bisa menempatkan nisan itu pada abad ke berapa”.

“(Yang dipaparkan) ini yang sudah dikaji tim CISAH bersama kita (Bidang Kebudayaan Aceh Utara) dan MAPESA. Itu belum menjawab semuanya. Harus mendukung (kegiatan pengkajian) ini agar bisa menjawab semuanya. Seperti di Langkat dikatakan ada nisan yang bentuknya segi enam, tapi inskripsinya tidak ada. Kita harus kerja keras untuk mengkajinya, tipe pembuatannya, bahannya, dan lain-lain,” pungkas Nurliana. Selengkapnya simak rekaman webinar di https://www.youtube.com/watch?v=XX04-p6u3uU&app=desktop.[](*)

Lihat pula:

Banyak Pendaftar dari Luar Aceh, Ini Tujuan Seminar Kajian Tipologi Batu Nisan Samudra Pasai

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.