13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Seminar Khasanah Seni Budaya di Bireuen, Ini Kata Apa Kaoy

...

  • Jamaluddin
  • 06 November 2018 20:50 WIB

Seminar Khasanah Seni Budaya di Aula Pendopo Bupati Bireuen, 5 November 2018 @Istimewa
Seminar Khasanah Seni Budaya di Aula Pendopo Bupati Bireuen, 5 November 2018 @Istimewa

BIREUEN - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen mengadakan seminar khasanah seni budaya pada serangkaian Festival Parade Seni Budaya se-Kabupaten Bireuen, 5-6 November 2018.

Seminar itu dibuka oleh Wakil Bupati Bireuen, Dr. H. Muzakkar A. Gani, S.H., M. Si., di Aula Pendopo Bupati Bireuen, 5 November 2018. Panitia menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya Kabid Seni Bahasa Disbudpar Aceh, Suburhan, S.H., seniman tradisi dan budayawan Aceh, Muhammad Yusuf atau Yusuf Bombang alias Apa Kaoy, serta penyair nasional asal Aceh, Fikar W. Eda.

Suburhan mengajak seniman dan sanggar-sanggar seni di Kabupaten Bireuen terus berkarya dan mengejar prestasi mulai dari kampung, kecamatan dan kabupaten hingga tingkat provinsi. Disbudpar akan selalu membuka ruang bagi yang berprestasi dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

"Kabupaten Bireuen sudah mulai bergairah dalam bidang berkesenian, dan ini dibuktikan dengan telah diselenggarakan beberapa event termasuk kegiatan seminar khasanah budaya kali ini. Pemerintah Aceh dalam hal ini pasti akan mendukung segala kegiatan dan akan kita buktikan tahun 2019 akan kita arahkan kegiatan festival rapa'i internasional di Bireuen," kata Suburhan kepada portalsatu.com, Selasa, 6 November 2018.

Muhammad Yusuf alias Apa Kaoy menyampaikan kepada peserta seminar yang terdiri dari guru, murid dan para tokoh dan seniman tradisi se-Kabupaten Bireuen bahwa sangat perlu menjaga, mempertahankan, dan memperkuat kebudayaan daerah dan kebudayaan bangsanya sendiri.

"Kebudayaan adalah identitas suatu bangsa. Bangsa yang kehilangan kebudayaan ibarat seseorang di perantauan yang kehilangan kartu identitas diri. Begitu pula halnya suatu bangsa yang kehilangan kebudayaannya, dan suatu saat tidak diakui lagi sebagai sebuah bangsa," kata Apa Kaoy.

Apa Kaoy menjelaskan, selama ini kebanyakan masyarakat Aceh menganggap sektor kebudayaan bukan suatu hal penting untuk mendapat perhatian. Barangkali hal ini disebabkan pemahaman kebanyakan masyarakat yang menganggap kebudayaan hanya kesenian, seperti seni Rapai, Seudati, Hikayat dan lain-lain. Padahal kesenian tersebut hanyalah sebagian kecil dari kebudayaan.

"Tidak hanya segala potensi seni tradisi, tapi sebagai masyarakat Aceh, kita perlu menghidupkan kembali adat istiadat, berbagai kearifan lokal dan peradaban yang telah diwariskan oleh nektu kita, orang terdahulu. Kita bisa melihat contoh beberapa bangsa di belahan dunia, bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menjaga kebudayaannya," kata Apa Kaoy.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.