26 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Soal Debu, Surat Dikirim DPRK Aceh Barat ke ESDM Provinsi Belum Dibalas

...

  • Rino
  • 13 September 2018 17:00 WIB

Warga menemui Ketua DPRK Aceh Barat, Kamis, 13 September 2018. @portalsatu.com/Rino Abonita
Warga menemui Ketua DPRK Aceh Barat, Kamis, 13 September 2018. @portalsatu.com/Rino Abonita

ACEH BARAT - Warga Peunaga Cut Ujong, Aceh Barat, dan Suak Puntong, Nagan Raya, mendatangi Kantor DPRK Aceh Barat, Kamis, 13 September 2018, siang.

Kedatangan warga didampingi Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syah Putra, untuk menanyakan hasil Pansus DPRK mengenai dugaan pencemaran lingkungan di desa mereka.

Tim Pansus DPRK Aceh Barat turun ke Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Kamis, 31 Mei 2018, untuk meninjau hasil laporan GeRAK terkait dugaan pencemaran lingkungan oleh PT Mifa Bersaudara di gampong tersebut.

Dalam pertemuan itu, Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli, S.E., yang menemui warga, mengatakan, pihaknya akan kembali menyurati manajemen PT Mifa Bersaudara. 

"Upaya yang sudah dilakukan saat ini, DPRK juga sudah menyurati (Dinas) ESDM provinsi atas persoalan tersebut, namun hingga kini tidak ada balasan atas surat yang dikirimkan DPRK Aceh Barat sejak 1 Agustus 2018," kata Ramli, di ruangannya saat menemui warga, Kamis siang. 

Menurut Ramli, pihaknya, tetap mendorong agar persoalan ini segera ditangani. Namun, Ramli menegaskan, pihaknya bukan lembaga eksekutor yang dapat mengambil keputusan mengenai masalah ini. Kelak, kata dia, akan dijadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara warga dan perusahaan. 

Perwakilan warga, Baharuddin (48), kepada Ramli menyebutkan, saat ini perusahaan dikabarkan telah melakukan pendataan mengenai tanah dan bangunan warga di Gampong Peunaga Cut Ujong. 

Namun, menurut Baharuddin, terdapat kejanggalan, dimana perusahaan hanya mendata sebagian. "Ini tidak menyeluruh dan kita juga bingung dengan kondisi tersebut. Kita juga bingung apakah Pemerintah Aceh Barat tahu persoalan ini atau tidak?" kata Baharuddin. 

Baharuddin menambahkan, selama ini beredar info bahwa dugaan pencemaran lingkungan di desa mereka bukanlah masalah besar, sementara stockpile (lokasi penumpukan batubara) PT Mifa Bersaudara, hanya berjarak puluhan meter dari pemukiman warga. "Kami perlu kejelasan soal ini," sebutnya. 

Sementara itu, Corporate Social Responsibility & Media Relations PT Mifa Bersaudara, Azizon Nurza, mengatakan, pihaknya berpedoman dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku, selama beroperasi. 

"Menjaga kelestarian lingkungan dan peduli dengan masyarakat khususnya di sekitar wilayah operasional dengan melaksanakan berbagai program CSR dan memberdayakan tenaga kerja lokal," kata Azizon dikonfirmasi portalsatu.com, Kamis siang. 

Mengenai dugaan pencemaran lingkungan yang dikeluhkan masyarakat, Azizon mengatakan, Dinas ESDM dan BLHK sudah melakukan kunjungan ke desa dimaksud. Kedua lembaga pemerintah itu telah memberi rekomendasi dan sudah dilakukan oleh perusahaan.

"Kami berharap jika ada hal-hal seperti ini, masyarakat jangan mau terprovokasi oleh personal ataupun kelompok, tapi kembalilah berkonsultasi dengan lembaga resmi dan berkompeten sehingga dapat solusi terbaik," ujarnya.[]

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.