09 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Syiar Subuh, Istanbul, dan Panteraja

...

  • portalsatu.com
  • 27 July 2020 20:30 WIB

Panteraja Pidiejaya @steemitcom/acehindiephoto
Panteraja Pidiejaya @steemitcom/acehindiephoto

 

Oleh: Muhajir Ibnu Marzuki Umar*

Subuh itu, Muhammad Faris Mughayyat Syah dibangunkan ayahnya. Balita yang lahir malam nisfu sya'ban tiga tahun lalu itu rencananya akan dibawakan ayahnya untuk ikut serta dalam safari subuh keliling mingguan.

Jam menunjukkan pukul 04.30 dini hari kala pengurus mesjid Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya, memanggil para jamaah untuk segera bangun dan berkumpul di halaman mesjid yang tak jauh dari sana, 800 meter sebelah selatan terdapat komplek makam Sultan Munawar Syah bin Sultan Muhammad Lamuri, di mana masyarakat sering menyebutnya makam Teungku Meureuhom.

Dari halaman mesjid kecamatan Panteraja, selanjutnya para jamaah akan berangkat ke meunasah gampong Lhok Puuk yang juga berada dalam Kecamatan Pante Raja, Pidie Jaya.

Mughayyat Syah bangun dengan penuh semangat. Kemudian ibunya memakaikan baju yang rapi dan celana panjang. Tak lupa pula juga dipakaikan peci.

Bersama ayahnya Mughayyat Syah menuju ke mesjid untuk berkumpul dengan jamaah lainnya.

Sekira sepuluh menit menunggu di halaman mesjid. Para jamaah pun mulai berangkat menuju meunasah Lhok Pu'uk yang letaknya sekitar 6 kilometer dari pusat kecamatan. Umumnya para jamaah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.

Butuh waktu sekitar 8 menit untuk sampai tempat tujuan setelah melewati persawahan, hutan, dan beberapa gampong.

Syiar subuh diawali dengan shalat sunat qabliah subuh. kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh secara berjamaah.

Setelah shalat subuh kemudian dilanjutkan dengan pembacaan zikir dan wirid Yadara yang disusun oleh Tgk Muhammad Yusuf A Wahab, yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb.

Yadara itu sendiri merupakan singkatan dari Yayasan Dayah Bersaudara. Yadara dibentuk sekira tahun 2003 yang mempunyai berbagai kegiatan dan usaha mulai dari kegiatan Majelis Zikir Yadara, usaha air kemasan dan bisnis multimedia radio Yadara FM.

Dalam pembacaan wirid yang memakan waktu sekitar satu jam tersebut. Mughayyat Syah mulai bosan. Ia mulai merengek dan mengajak ayahnya untuk pulang.

Dengan tenang dan santai ayahnya membujuk Mughayyat Syah agar ia tetap betah dalam majelis yang mulia tersebut.

"Siat teuk ta woe, lheuh geupeugah haba waled eunteuk tajeb ie meh," rayu ayahnya.

Setelah zikir dan wirid selanjutnya tausiah subuh yang disampaikan oleh Tgk Mukhlis Al Asyi, pimpinan Dayah Babussalam Tgk Chik di Tu yang juga seorang pakar pengobatan alternatif "thibun nabawi" yaitu pengobatan nabi Muhammad S.A.W yang meliputi ru'yah syar'iyah, bekam dan terapi lainnya.

Dalam kesempatan itu Tgk Mukhlis yang biasa disapa Waled Mukhlis menyampaikan tentang upaya penjagaan diri dari dahsyatnya siksaan api neraka.

Waled Mukhlis juga menyinggung tentang bagaimana meraih kesuksesan dalam hidup.

"Orang tidak akan berhasil jika menetap pada satu tempat. Sebagaimana Rasulullah meraih kesuksesan berdakwah setelah berhijrah ke kota Madinah Munawarah. Dalam mendidik anak juga begitu harus berkorban. Pisahkan anak dari gampong. Antar dia ke tempat lain. Karena air harus mengalir untuk menjaga kejernihan," ujar Waled Mukhlis dalam taushiahnya.

Setelah taushiah para jamaah subuh mulai mencicipi hidangan pagi berupa air teh dan kue secara bersama. Namun sebelumnya panitia telah mengabarkan lokasi safari subuh Minggu depan yaitu di meunasah Gampong Peurade.

Saat mencicipi hidangan pagi, Mughayyat Syah diajak ayahnya untuk menyalami Waled Mukhlis, Tgk Muhammad Nasir dan beberapa tokoh lain yang merupakan garda utama dalam menggerakkan syiar subuh di Kecamatan Panteraja.

Dalam kesempatan itu diberikan segelas teh manis sehingga apa yang dijanjikan oleh ayahnya benar-benar ditunaikan.

Ayah Mughayyat Syah sendiri duduk di samping Waled Mukhlis dan persis di depan Tgk Muhammad Nasir sambil berbincang dan menanyakan tentang awal pergerakan syiar subuh di Panteraja, negeri di mana Sultan Munawar Syah berpusara.

Dalam kesempatan itu Tgk Nasir yang juga pimpinan pesantren Nurussalam Panteraja mengatakan bahwa syiar subuh ini telah dilaksanakan selama dua tahun.

"Sebelum melakukan safari keliling, kita duluan memperkuat majelis subuh di tempat sendiri yaitu di Mesjid kecamatan, Mesjid Nurul Huda," ujar Tgk Nasir yang juga imam besar di Mesjid Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya.

Dalam kegiatan syiar subuh tersebut, ternyata banyak pihak yang mendukung. Bahkan sebelum pandemi virus corona, majelis tersebut mempunyai jamaah hingga ribuan orang.

"Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 17/Komposit Rencong Cakti, Asmil Raipur Budhi, Paru, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan dari Armed menyediakan sebuah mobil khusus untuk menjemput dan mengantar jamaah syiar subuh," ujar Tgk Nasir dengan ramah.

Tgk Nasir mengatakan kegiatan syiar subuh yang ia gagas bersama para teungku dayah lainnya bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk shalat subuh dan berzikir berjamaah.

"Karena shalat subuh adalah senjata kita muslim dalam menyambut kebangkitan. Karena Yahudi sangat takut apabila jumlah jamaah shalat subuh lebih banyak daripada shalat jum'at itu sendiri," ujar Tgk Nasir dengan penuh semangat.

Sebagaimana diketahui bahwa saat ini dunia sedang dihebohkan dengan pemanfaatan kembali Ayasofya (Hagia Sofia) sebagai mesjid di Itanbul.

Tahun 1453, Kekaisaran Bizantium berakhir setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed Al Fatih dari Kekaisaran Ottoman. Di bawah kepemimpinan Mehmet, Hagia Sophia dialihfungsikan dari gereja menjadi masjid. 

Seperti yang dicatat oleh Marc David Baer dalam buku berjudul Honored by the Glory of Islam: Conversion and Conquest in Ottoman Europe, beberapa gereja diubah menjadi masjid di bawah Sultan Mehmet II, termasuk Saints Paul dan Mesa Dominico.

Namun saat kekhalifan Ottoman runtuh dan Turki diubah menjadi negara Republik, Hagia Sofia diubah menjadi museum pada tahun 1935. Kini setelah 85 tahun, azan kembali berkumandang di Ayasofya.

Tak heran bila peralihan fungsi kembali Ayasofya sebagai mesjid dianggap sebagai momentum kebangkitan. Dan ini disambut gagap gempita di seluruh wilayah muslim di dunia tak terkecuali di Panteraja itu sendiri.

Betapa tidak dalam sejarah Islam Asia Tenggara, Panteraja merupakan saksi bisu tentang jihad dan perlawanan ummat Islam di Aceh abad ke 15 saat Portugis menguasai berbagai wilayah muslim di kawasan bilad Al Jawi (Asia Tenggara).

Panteraja adalah tempat di mana Sultan Munawarah Syah berpusara. Ia adalah anak daripada Sultan Muhammad Syah Lamuri yang makamnya berada dalam benteng Kuta Leubok, Krueng Raya, Aceh Besar. Ia ayah daripada sultan-sultan Aceh yaitu yaitu Sultan 'Adilullah bin Munawar Syah, 'Ali Ri'ayat syah bin Munawar Syah dan Samsul Syah bin Munawar Syah. Sultan Munawar Syah juga merupakan kakek daripada Sultan Ali Mughayyat Syah.

Sultan Ali Mughayyat Syah itu sendiri adalah pemersatu dan pendiri kerajaan Aceh Darussalam setelah mengusir Portugis dari daratan Sumatera.

Sebuah catatan terpercaya bernilai emas tentang Sultan Ali Mughayyat Syah telah ditulis oleh seorang ulama besar Dunia Islam dalam abad ke-10 Hijriah (ke-16 Masehi). Ulama tersebut ialah Syaikh Ahmad Zainuddin Asy-Syafi'iy Al-Malibariy (Al-Makhdum Ash-Shaghir) dari Kerala (wilayah di selatan India), murid Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, dan pengarang Fathul Mu'in yang terkenal. Dalam karya sejarah bertajuk Tuhfatul Mujahidin fi Ba'dhi Akhbar Al-Burtukaliyyin (Koleksi Tandon bagi Para Mujahidin tentang Berita Orang-orang Portugis), Syaikh Zainuddin Al-Malibariy yang wafat menulis:
"... Dan mereka (orang-orang Potugis)-semoga Allah mengalahkan mereka-mendatangkan berbagai barang dari negeri-negeri yang jauh. Mereka menjadi ramai dan bertambah banyak di berbagai kawasan. Para penguasa berbagai pelabuhan menuruti kehendak mereka sehingga mereka sepenuhnya memegang tali kendali atas pelabuhan-pelabuhan tersebut. Pelayaran hanya dapat dilakukan dengan jaminan keamanan dari mereka. Perdagangan dan kapal-kapal mereka bertambah banyak, dan sebaliknya, perdagangan Muslimin di luar kapal-kapal dan benteng-benteng yang mereka bangun semakin merosot. Tidak ada seorang pun yang dapat merebut kota-kota pelabuhan itu selain Sultan yang mujahid, 'Ali Al-Asyi (dari Aceh), semoga Allah menerangi kuburnya. Dialah yang telah menaklukkan Sumatra dan menjadikannya sebagai negeri Islam, semoga Allah membalas kebaikannya kepada Muslimin dengan sebaik-baik balasan..."

Tidaklah berlebihan bila dikatakan Istanbul dan Panteraja ada hubungan sejarah.
Jika dulu Sultan Al Fatih membebaskan kota Konstatinopel dan diubah menjadi kota Islambul yang kemudian dikenal Istanbul. Maka Sultan Munawar Syah di Panteraja, di sebuah bukit yang bisa melihat dan memantau Selat Malaka Sultan menyusun strategi dan berperang mengusir Portugis hingga ajal menjemputnya. Ia pun dimakamkan di atas bukit di Gampong Hagu, Panteraja, Aceh, Sumatra.

Kini Istanbul sedang meraih kembali kebangkitan. Panteraja pun tak ketinggalan menyambut kebangkitan walau dengan syiar subuh keliling. Bukanlah besarnya pengorbanan yang akan dilihat. Namun ada atau tidaknya kontribusi yang harus diperhatikan.

Sejatinya pengorbanan dan perjuangan butuh tekad dan kesabaran. Menyambut kebangkitan adalah perjuangan lintas generasi seperti yang dilakukan oleh Ertugul dalam mendidik anaknya. sehingga keturunan Erthugul, Muhammad Al Fatih berhasil menjadi seorang pemimpin yang tercatat dalam hadits Nabi S.A.W yaitu sebaik-baik pemimpin yang menguasai sebaik-baiknya pasukan. Begitu pula dengan Sultan Munawar Syah berhasil menjadikan keturunannya Ali Mughayyat Syah sebagai pemersatu Aceh dan penguasa Sumatra setelah mengusir Portugis dari daratan.

Semoga Allah mengokohkan kaki-kaki mereka yang berjuang di atasNya. Aamiin..[]

*Alumnus Sekolah Menulis Hamzah Fansuri;
Penggagas Sumatra Institute; dan
Ayah dari Muhammad Faris Mughayyat Syah.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.