25 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tak Dibangun Pesantren, Tanah Waqaf Ini Malah Dibangun Kakus Umum

...

  • RISKI BINTANG
  • 13 September 2017 08:20 WIB

Tanah wakaf. Ilustrasi.
Tanah wakaf. Ilustrasi.

SUKA MAKMUE - Ide Siapa? Mungkin itulah pertanyaan yang ingin dicari jawaban oleh sebagian masyarakat Gampong Babah Dua Kecamatan Tadu Raya Kabupaten Nagan Raya, terkait rencana membuat kakus (WC) umum di atas tanah wakaf untuk pembangunan pesantren.

Tgk. Nurdin Yatim, seorang tokoh agama sekaligus penerima wakaf mengaku tidak mengetahui ide atau program siapa kalau di atas tanah wakaf ingin dibangun kakus, karena tidak pernah dimusyawarahkan. Ia cuma mengetahui rencana rencana tersebut melalui Iman Masjid, Tgk. Jamaluddin, sebagai penyuplai papan cor.

"Ketika saya tanya sama Tgk. Jamaluddin untuk apa papan dibawa kelokasi tanah wakaf, beliau menjawab untuk papan cor membuat WC," jelas Tgk. Nurdin. Sabtu, 08 September 2017

Kini, rencana pembangunan WC itu mendapat protes dan penolakan bukan hanya dari warga atau panitia pembangunan pesantren, juga datang dari pemberi wakaf. Pewakaf mengaku kecewa dan menyatakan protes bila di atas tanah yang ia dan almarhum suaminya wakafkan untuk pembangunan pesantren ingin dibangun WC atau bangunan lain.

Protes pewakaf dilakukan secara tertulis, melalui surat bertanggal 2 Agustus 2017, yang ditujukan kepada Tgk. Nurdin Yatim selaku Nadzir atau penerima wakaf, Siti Hajar (Pewakaf) meminta agar tanah seluas 7.410 M itu, digunakan sesuai yang tertera dalam Surat Akta Wakaf No. Kk.17.01.17/02/Pw.01/746/2014. Tgl. 16 Safar 1436 atau 8 Desember 2014.

Dalam Surat Pernyataan yang turut ditanda-tangani anak-anak pewakaf yaitu, Dra Samsuni AH. MA, Dra Nurlaila Saftadevi AH, Surya Gusniati AH. S.Ag, Rozita Hasni AH. S.Pd, Yulia Hastuti AH. A.Md, dan Raidayani M.Si, Siti Hajar secara tegas menyatakan tidak membenarkan membangun apapun di atas tanah tersebut selain pesantren.

Sementara di atas tanah tersebut kini telah dibangun Kantor Keuchik, TK, Balai Musyawarah, dan kini ingin dibangun WC, tanpa melalui musyawarah dengan pewakaf, penerima wakaf dan panitia pembangunan pesantren.

Tgk. Nurdin Yatim (penerima wakaf) mengaku kalau ia telah mengingatkan saat Balai Musyawarah ingin dibangun tahun lalu, tapi tidak digubris oleh aparat gampong. Kini ingin dibangun WC lagi.

"Seharusnya pemerintah gampong menyisihkan sedikit dana gampong untuk pembangunan pesantren dan bukan membuat bangunan lain di atas tanah pesantren," kata Tgk Nurdin Yatim.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.