20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tanaman Padi di Abdya Terserang Penyakit Patah Leher

...

  • PORTALSATU
  • 07 October 2018 17:35 WIB

Petani menunjukkan tanaman padi yang terserang penyakit patah leher di areal persawahan Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten, Aceh Barat Daya, Minggu 7 Oktober 2018. @portalsatu.com/Suprian
Petani menunjukkan tanaman padi yang terserang penyakit patah leher di areal persawahan Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten, Aceh Barat Daya, Minggu 7 Oktober 2018. @portalsatu.com/Suprian

BLANGPIDIE - Sekitar lima hektare tanaman padi milik petani Desa Ie Lhob, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terserang penyakit blas atau patah leher (pyricularia oryzae), sehingga hasil produksi terancam turun hingga 50 persen.

Ketua kelompok tani Blang Pasie Jaya, Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Mahmuddan, Minggu, 7 Oktober 2018, mengatakan, tanaman padi yang terserang penyakit tersebut luasnya sekitar 5 hektare berlokasi di perbatasan Desa Mon Mameh dengan Desa Ie Lhob.

Sudah berbagai upaya dilakukan petani dalam membasmi penyakit patah leher tersebut. Mulai dari penyemprotan pestisida hingga fungisida yang dibeli pada toko pertanian. Namun, hama tersebut tetap menyerang tanaman padi.

“Tanaman padi saya yang terserang penyakit ini luasnya satu naleh (3.333 meter). Hama ini menyerang saat tanaman padi sedang mengeluarkan malai. Sehingga ketika umur padi tiga bulan, banyak gabah yang kosong, karena proses pengisian bulir terganggu," tutur Mahmuddan.

Mahmuddan mengaku tidak kecewa jika hasil produksi padi yang diperoleh saat panen nanti berkurang, karena sebelumnya berbagai upaya telah dilakukannya untuk membasmi hama tersebut, mulai dari cara tradisonal hingga penyemprotan dengan bahan kimia.

“Obat harga Rp70 ribu sudah tiga botol habis. Obat harga Rp50 ribu dua botol. Belum lagi obat lain yang saya semprotkan pada tanaman padi ini. Sudah habis ikhtiar kami lakukan, makanya saya tidak kecewa lagi. Mungkin rezeki saya cuma segini diberikan oleh Allah, SWT,” ungkapnya

Mahmud mengaku pasrah dan tidak melaporkan lagi kasus serangan hama tersebut ke pihak terkait. Sebab hasil laporan sebelumnya yang pernah disampaikan oleh petani lain tidak direspons dengan alasan penyakit tersebut tidak bisa diobati dengan dalih hama itu tertular dari benih yang disemaikan.

“Belum kami lapor, sebab sudah duluan dibawa contoh ke penyuluh oleh petani lain, tapi tidak ada tanggapan. Mereka bilang tidak ada obat untuk membasmi hama ini. Penyakit ini tertular dari benih. Benih padi yang kami gunakan ini tidak sesuai dengan kondisi lahan,” jelas dia.

Mahmud mengaku bahwa benih padi yang ditanam pada musim tanam serentak 2018 tersebut bukan berasal dari bantuan pemerintah daerah, tetapi dibeli secara swadaya di salah satu toko penyedia alat pertanian di kota Blangpidie (Ibukota Abdya).

“Tidak ada bantuan benih dari pemerintah daerah tahun ini. Benih padi yang kami tanam ini dulu kami beli di Blangpidie,” ungkapnya seraya menunjukkan luas sawah yang padinya terserang penyakit patah leher tersebut.

Pernyataan tersebut dibenarkan Edi Suherman. Petani asal desa yang sama tersebut mengatakan bahwa tanaman padi milik dirinya yang lokasinya berdampingan dengan sawah Mahmuddan juga terserang penyakit patah leher.

“Tanaman padi saya diserang penyakit patah leher juga. Sekarang hanya tinggal sekitar 50 persen lagi yang bagus,” ungkap dia yang saat itu kebetulan sedang berada di gubuk sawah milik Mahmuddan.[](Suprian)

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.