25 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tatkala Angin dari Barat Datang Kali Kedua di Bandar

...

  • Jamaluddin
  • 10 July 2018 20:20 WIB

Nelayan tarek pukat di Gampong Pande, Kuta Raja, Banda Aceh, Senin, 9 Juli 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN
Nelayan tarek pukat di Gampong Pande, Kuta Raja, Banda Aceh, Senin, 9 Juli 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN

SUARA angin bertiup riuh gemerincing, suara seperti itu lazim didengar di tepi pantai di kala angin menerpa dedaunan pohon, namun di sini bukanlah pantai, berkilometer pantai itu di utara dan barat membentang. Hembusan yang menghempas itu hadir saat tengah hari, saat azan zuhur telah usai.

Sepanjang jalan, cabikan-cabikan hijau daun yang dicabut angin menepi diam di pinggir jalan. Tubuh-tubuh di atas kereta yang melintasinya tak luput diterpa angin, berguncang umpama sedang berada di kapal kecil tatkala menyeberang samudera.

Di tepi jalan Lapangan Blang Padang, sebatang tiang besi penyangga neon box yang bertuliskan ‘Banyak Anak Banyak Resiko’ rubuh menahan beban dahan kayu yang tertindih, pesannya jadi miring, sejajar dengan patahan tiang yang melekat padanya. Di lapangan itu suara musik-musik dari sound menggema, di sana terdengar suara seorang pemuda Aceh sedang bersyair diiringi suara musik bercerita tentang rasa.

Terus melintasi jalan-jalan kota dari jalan depan Museum Tsunami Aceh hingga sampai ke jalanan berbatu tanpa beraspal di sisi dekat pagar pelabuhan Ulee Lheue. Kemudian tibalah di jembatan yang tinggi, di bukit jembatan itu beberapa pemancing sedang menatap air yang bergerak ditiup angin. Angin telah reda tiada tanda ia telah hadir.

Di ujung pantai, delapan nelayan yang dibagi dua jadi kelompok sedang menarik tali, tubuh-tubuh mereka menghadap ke laut, kaki-kaki terbenam dalam lunak pasir, langkah pun diatur mundur teratur. Tali yang terbalut karet ban dalam bekas sepeda motor melingkar di pinggang untuk mengait tali yang mereka tarik bersama. Cu aye. Mereka sedang “tarek pukat’.

Camar-camar putih terbang berpencar beberapa merendah ke laut, sesekali kepakan sayap itu menyentuh air, ingin menggapai seekor ikan yang terjebak dalam jaring pukat yang tengah ditarik ke pantai.

Sayap-sayap putih itu terus mengepak ingin meminta beberapa ikan kecil namun tak ada bahasa yang dapat dirasa. Ikan-ikan mendarat. Berbagai jenis ikan terpental dalam jaring, mereka sadar itulah hari terkhir bagi mereka dirampas dari laut, menjadi berharga di menu-menu sajian. Sementara camar-camar pun kembali ke laut mencari sendiri ikan-ikan.

Sampah-sampah dedaunan kering mengganti pasir membalut ikan-ikan itu yang tersudut di ujung jaring. Apakah laut telah penuh dengan sampah? Tangan-tangan para nelayan yang dibasahi air asin kolam dunia alam raya itu terus memisahkan antara sampah dengan ikan- ikan. Keranjang-keranjang rotan itu pun mulai terisi dengan ikan. Puluhan pembeli telah menyaksi dalam terpaan angin laut, bahwa nelayan-nelayan telah kembali dengan ikan-ikan.

Segelas air cokelat hangat dibawakan pelayan warung kopi di atas meja, asapnya mengepul, cokelat dan gula pasir menjadi tegukan yang tak asing sambil menatap hamparan laut yang membentang. Tinta-tinta terus tertoreh di kertas kecil yang kuambil di saku mencatat menghitung camar-camar yang mengerumuni ikan nelayan.

Sementara di beberpa puluh langkah, di bebatuan itu seorang wanita muda berpakaian hitam berburqa sendirian duduk menatap laut. Tak lama kemudian ia pergi.

Usai maghrib di Masjid Raya, di antara lampu-lampu remang halaman, ratusan orang sedang berjalan, duduk, atau memotret sisi masjid yang terkesan indah. Lampu-lampu redup, kabarnya satu payung yang dibanggakan itu tadi siang ada yang dicabik angin, meronta dari keagungan sanjungan-sanjungan dan malam mini ia sendiri tanpa kegagahan, esoknya ia akan ditinggalkan, ia telah dikalahkan angin dan tercabik.

Potongan kecil yang tercabik dari payung itu walaupun tertutup namun menjulur melambai ketika angin kencang menerpa dari barat. Malam telah tiba isya, di langit mendung dari barat datang tak terbendung.

Gumpalan hitam keabuan semakin pekat dan berat, sementara angin terus bertiup kencang menjungkir beberapa tong sampah di halaman, semua merebah ke utara. Langkah-langkah kaki sulit untuk dilangkah terpaan angin serasa ingin menerbang.

Salat isya telah usai, percikan kecil dari langit pun mulai menyiram. Angin beserta hujan mencipta kabut air bewarna putih yang melaju cepat menyambar tiang-tiang payung dan bangunan masjid.

Gumpalan air dari langit itu sedang dituntun angin ke timur. Sambil merapat di dinding sebelah timur, di sana menjadi tepat bersembunyi yang baik dari hempasan.

Imam salat taubah di dalam sedang membacakan ayat-ayat suci Alquran. Suara angin dan hujan kalah gemuruh dengan suara imam yang menggema dari cerobong-cerobong speaker di atas masjid. Suara angin terus mendesir dan gema lantunan ayat-ayat suci menambah menjadi indah.

Di antara hembusan itu seorang wanita berpakaian hitam berburqa keluar dari masjid melintasi halaman, melalui terjangan hempasan angin kencang dan tak peduli hujan. ‘Hujan hanyalah iklim bukan sebagai penghalang’.

Angin yang datang kali kedua mencabik payung di halaman masjid, sedang hembusan pertamanya, telah meremuk keperkasaan berpuluh tiang beton listrik, patah terjungkal, hilang rapuh, musnah, hilang menghempaskan kabel-kabelnya menutup jalan bagai jaring sarang laba-laba.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.