21 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Temuan Anggota Dewan, Penganan Berbuka Puasa Dijual Pukul 14.40 WIB

...

  • PORTALSATU
  • 29 May 2017 17:00 WIB

Foto: Ilustrasi. @Istimewa
Foto: Ilustrasi. @Istimewa

LHOKSEUMAWE – Anggota DPRK Lhokseumawe H. Jailani Usman, S.H., M.H., menemukan sejumlah pedagang menjual penganan berbuka puasa sebelum waktu salat Asar. Jailani menilai hal itu terjadi lantaran lemahnya kinerja Wilayatul Hisbah (WH) dalam melakukan pengawasan.

“Setelah salat Zuhur di Masjid Islamic Center tadi, saya sebagai wakil rakyat keliling ke sejumlah lokasi. Saya lihat, jam tiga kurang 20 (pukul 14.40 WIB) sudah banyak yang jual makanan untuk berbuka, seperti di Jalan Sukaramai dan Jalan Merdeka depan Bank BTN,” ujar Jailani kepada portalsatu.com melalui telepon seluler, sekitar pukul 16.20 WIB.

Jailani menjelaskan, sesuai seruan bersama Muspida termasuk Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, para pedagang dibolehkan menjual penganan berbuka puasa usai waktu salat Asar. “Artinya, jam empat lewat (pukul 16.00 WIB lewat) baru boleh, tapi yang saya lihat tadi jam tiga kurang 20 sudah banyak yang beli karena ada yang menjual,” katanya.

“(Yang dijual) makanan biasa seperti boh rom-rom, timphan dan makanan basah lainnya. Kalau makanan itu dibeli untuk dibawa pulang ke Krueng Geukueh (Kecamatan Dewantara, Aceh Utara), tentu tidak mungkin, karena di sana juga ada dijual makanan seperti itu pada sore hari,” ujar anggota DPRK dari Partai Golkar tersebut.

Jailani menyayangkan hal itu terjadi di Kota Lhokseumawe. “Ini menunjukkan maklumat Muspida plus tidak dikontrol oleh pemerintah terutama pihak WH, sehingga masyarakat melihat seperti ada ‘pembiaran’ terhadap pedagang makanan berbuka puasa yang berjualan sebelum waktunya. Kesucian bulan puasa tidak dijaga oleh Pemko Lhokseumawe. Ini berbeda dengan (Pemko) Banda Aceh yang secara tegas menyatakan jika ada pelanggaran seperti itu maka akan dicambuk,” katanya.[](idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.