26 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Tersangka Pelecehan Seksual Terhadap Santri di Bawah Umur Bukan Guru Ngaji'

...

  • Fazil
  • 20 January 2020 19:45 WIB

M, tersangka pelecehan seksual terhadap santri di bawah umur. Foto: Fazil/portalsatu.com
M, tersangka pelecehan seksual terhadap santri di bawah umur. Foto: Fazil/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Pimpinan salah satu pesantren di Aceh Utara meluruskan informasi tentang tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri di bawah umur di dayah tersebut. Kasus itu sedang ditangani pihak Polres Lhokseumawe dan tersangka berinisial M (26) ditahan di mapolres setempat.

Pimpinan pesantren itu, Tgk. Yunus Adami, dikonfirmasi portalsatu.com via WhatsApp, Senin, 20 Januari 2020, sore, menjelaskan M bukan santri, seperti informasi beredar. M, kata dia, adalah mantan santri, tapi masih tinggal di pesantren tersebut dan ditugaskan pada bidang pemeliharaan listrik.

"Tersangka juga bukan guru ngaji. M tidak mengajar di dayah kami, tapi sebagai tenaga kerja bidang listrik. Kami juga mengharapkan agar bapak/ibu menyamarkan nama pesantren kami demi menjaga moral murid dan wali murid. Kami mohon maaf dan merasa sangat terpukul dengan insiden ini," ujar Tgk. Yunus Adami.

Tgk. Yunus menyebutkan, M sudah tiga tahun bekerja di bidang pemeliharaan listrik di pesantren tersebut. "Yang bersangkutan selama tiga tahun bekerja, tidak mengajarkan anak-anak di dayah kami. Artinya, hanya tenaga kerja bidang listrik saja," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, personel Polres Lhokseumawe menahan pria berinisial M (26), tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri di bawah umur di sebuah pesantren di Aceh Utara. M ditahan sejak 17 Januari 2020, setelah polisi menerima laporan dari dua korban yang mendatangi Polres Lhokseumawe bersama sejumlah santri lainnya. Polisi menyebut M merupakan oknum guru ngaji di pesantren tersebut. 

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Wakapolres Kompol Ahzan saat konferensi pers di mapolres itu, 20 Januari 2020, menjelaskan mulanya pihaknya menerima kedatangan sembilan santri dari salah satu pesantren di wilayah barat Aceh Utara (wilayah hukum Polres Lhokseumawe), 16 Januari 2020. Para santri itu mengaku melarikan diri dari pesantren tersebut dan berjalan kaki sampai ke Polres Lhokseumawe. Tujuan mereka untuk melaporkan ke polres bahwa dua santri mengalami pelecehan seksual yang dilakukan M di pesantren itu.

Menurut Ahzan, M dilaporkan melakukan pelecehan seksual terhadap salah seorang korban sudah lima kali lebih. Sedangkan seorang korban lainnya mengaku lima kali mengalami pelecehan seksual. “Kejadian itu pada November dan Desember 2019 sampai Januari 2020. Korban merupakan anak laki-laki yang masih di bawah umur," katanya.

Ahzan menyebutkan, pengakuan korban, pelecehan seksual itu berulang sampai lima kali dilakukan M sehingga para santri tidak tahan dan melarikan diri dari pesantren. Teman-teman dari korban yang mendatangi polres juga dimintai keterangan sebagai saksi.

"Kita sudah memeriksa kedua korban (santri di bawah umur) bahwa benar kejadian itu. Keduanya menceritakan sangat detail mengenai pelecehan seksual yang dilakukan M. Tersangka melakukan aksinya itu sekitar pukul 02.00 WIB dan 03.00 WIB dini hari, saat korban sedang tidur di dalam bilik pesantren itu. Tersangka memang menetap di pesantren itu," ungkap Ahzan.

Ahzan mengatakan, pihaknya akan mengembangkan kasus itu untuk mengetahui apakah ada korban lainnya. "Cuma sampai saat ini orang tua dari korban tidak terbuka, mungkin tidak mau memperpanjang (masalah) atau tidak ingin diketahui anaknya selaku korban dan tidak melaporkan kepada kita (polisi). Akan tetapi (kasus ini) tetap kita kembangkan karena sangat berbahaya, jangan sampai ada korban lain yang mengalami hal yang sama," ujarnya.

Menurut Ahzan, salah satu korban menuliskan dalam buku diary-nya terkait perbuatan yang dilakukan M. “Korban itu menuliskan ‘Ya Allah, cabutlah nyawa saya kalau ini dosa’, dan sejumlah kalimat lainnya. Jadi, karena kejadian itu sudah berulang sehingga korban menjadi takut dengan meminta kepada Allah untuk dicabut nyawanya karena (merasa) sudah berbuat dosa”.

"Jadi, ini sangat memprihatinkan. Untuk itu, kami juga mengimbau kepada orang tua yang menitipkan anaknya baik di pesantren maupun (lembaga) pendidikan lainnya, setidaknya setiap hari menanyakan perkembangan anak. Karena ini bukan kasus pertama yang ditangani oleh Polres Lhokseumawe, ini fenomena dan kita tetap mengembangkan kasus ini," tegas Ahzan.

Ahzan menyebutkan, hasil pemeriksaan sementara diketahui tidak ada unsur pemaksaan dari tersangka saat melakukan pelecehan seksual terhadap kedua korban. “Itu murni karena ketakutan korban, tetapi saat kejadian bahwa korban juga sempat menepis tangan tersangka ketika melakukan aksinya tersebut. Cenderung karena korban takut dikarenakan itu guru ngaji-nya sehingga korban menuruti”.

"Kalau dipaksa secara fisik atau lainnya, kita tidak melihat tanda-tanda. Tetapi korban ada penolakan dengan menepis tangan tersangka. Walau demikian, tersangka kembali melanjutkan aksinya tersebut," kata Ahzan.

Menurut Ahzan, M saat ini ditahan di Mapolres Lhokseumawe. “Tersangka M menyerahkan diri dengan diantarkan oleh pimpinan pesantren itu ke polsek, dan membuat pernyataan meminta maaf atas perbuatannya. Tersangka itu belum berkeluarga,” ujarnya.

Akibat perbuatannya, lanjut Ahzan, tersangka M dikenakan pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.