08 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tim BKSDA Nekropsi Gajah Sumatera yang Mati di Aceh Timur, Ini Tujuannya

...

  • PORTALSATU
  • 21 November 2019 20:30 WIB

Foto: dok. BKSDA Aceh
Foto: dok. BKSDA Aceh

IDI RAYEK - Seekor gajah ditemukan mati di area perkebunan Afdeling 1 Keramat PT Atakana di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Rabu, 20 November 2019. Bangkai gajah liar ini ditemukan pekerja kebun PT Atakana yang kemudian melapor kepada tim petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang sedang melakukan penggiringan gajah liar dengan menggunakan gajah jinak di sekitar area desa tersebut, sekitar pukul 12.30 WIB. 

Tim BKSDA Aceh dari Resor KSDA Langsa dan CRU Serbajadi serta aparat TNI dan pihak perusahaan langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan pengecekan ke lokasi kejadian. Sehingga dipastikan bangkai gajah sumatera dengan jenis kelamin betina dan berat badan ± 3 ton.

Kepala Balai KSDA Aceh, Agus Arianto, S.Hut., memberikan arahan kepada tim petugas untuk melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setempat agar dilakukan pengamanan Tempat Kejadian Perkara (TKP). Meminta tim untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat sekitar dan mengirim tim medis BKSDA Aceh ke TKP untuk melakukan tindakan bedah bangkai (nekropsi). 

Tim medis BKSDA Aceh telah melakukan tindakan nekropsi dan mengambil beberapa sampel dari bangkai gajah sumatera tersebut untuk dikirim ke Puslabfor Polri, Kamis, 21 November 2019. "Tim medis memperkirakan umur kematian gajah sumatera ini ± 8-10 hari yang lalu dengan estimasi umur ± 25 tahun. Hingga kini Balai KSDA Aceh masih menunggu hasil pengujian sampel dari Puslabfor Polri untuk mengetahui penyebab kematian gajah tersebut," ujar Agus Arianto. 

(Foto: dok. BKSDA Aceh)

Agus menyebutkan, secara taksonomi, Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) termasuk kelompok Mammalia dengan Famili Elephantidae yang tergolong jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 

Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Permen LHK Nomor: P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

 "Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) di Provinsi Aceh sendiri, hampir 85% berada di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan sehingga potensi terjadinya konflik gajah dengan manusia sangat tinggi. Sempitnya habitat gajah di Provinsi Aceh juga menjadi penyebab utama pemicu konflik gajah dengan manusia. Upaya penanganan konservasi dan kelestarian keanekaragaman hayati terhadap satwa liar gajah sumatera diperlukan berbagai peranan dari elemen stakeholder lainnya. Mulai dari elemen instansi pemerintah baik di pusat ataupun di daerah, LSM/NGO, sektor swasta, pihak aparat/kepolisian, hingga elemen masyarakat," katanya. 

BKSDA Aceh mengimbau dan mengharapkan dukungan serta peran dari berbagai pihak stakeholder tersebut dalam penanggulangan permasalahan konflik Gajah Sumatera dengan Manusia di Provinsi Aceh sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar serta Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 522.51/1097/2015 tentang Pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar Provinsi Aceh. 

"BKSDA Aceh memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keterlibatan pihak Kepolisian Resor Aceh Timur, Kepolisian Sektor Rantau Peureulak, FKL, dan pihak lainnya yang ikut membantu dalam melakukan pengamanan dan olah TKP hingga proses bedah bangkai atau nekropsi dapat terlaksana dengan lancar," ujarnya.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.