26 November 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


TNI Kodim Aceh Utara Gagalkan Aksi Penyelundupan Rohingya

...

  • Fazil
  • 20 November 2020 21:10 WIB

Ilustrasi - Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe. Foto: dokumen ANTARA
Ilustrasi - Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe. Foto: dokumen ANTARA

LHOKSEUMAWE - Prajurit TNI Kodim 0103 Aceh Utara menangkap terduga pelaku jaringan sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) warga Rohingya di lokasi penampungan Balai Latihan Kerja (BLK), Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Jumat, 20 November 2020, dini hari.

Terduga pelaku jaringan sindikat TPPO itu berinisial DA (20), Z (imigran Rohigya yang telah lama di Medan), dan JR (23), sopir mobil rental jenis minibus Toyota Avanza warna hitam metalic. Selain itu, ikut diamankan AM (60), S (30), SR (43), SD (45) dan TU (36) lantaran diduga ikut terlibat dalam upaya membawa kabur pengungsi Rohingya dari BLK itu.

Komandan Kodim 0103 Aceh Utara, Letkol Arm Oke Kistiyanto, kepada wartawan, Jumat, 20 November 2020, mengatakan anggota TNI sudah tiga kali berhasil menggagalkan upaya sejumlah terduga pelaku yang hendak membawa lari pengungsi Rohingya dari BLK di Lhokseumawe. Kali ini, para terduga pelaku berencana membawa kabur 14 wanita muda Rohingya itu ke Medan, Sumatera Utara dan Malaysia.

"Kita menangkap ada tiga gelombang saat Jumat dini hari itu, yang terdiri baik perempuan maupun laki-laki. Jadi, ini merupakan upaya penyelundupan terbesar selama tiga bulan terakhir ini. Penyelundupan terhadap 14 wanita muda etnis Rohingya itu dilakukan sangat intensif," kata Oke Kistiyanto.

Oke menyebutkan, dalam tiga hari terakhir ini juga sudah hilang sekitar 11 wanita Rohingya dari tempat penampungan sementara di BLK Lhokseumawe. "Namun, berkat kerja keras kita berhasil menggagalkan aksi itu. Saat ini yang diduga delapan pelaku penyelundupan manusia atau etnis Rohingya itu sudah kita serahkan kepada pihak Polres Lhokseumawe untuk penyelidikan lebih lanjut".

"Jumlah semuanya (terduga pelaku) ada delapan, tetapi yang diduga kuat ada tiga orang. Terduga pelaku utama berinisial Z yang juga imigran Rohigya telah lama tinggal di Medan. Dia mengaku tiba saat pengungsi Rohingya (terdampar di perairan Aceh) pada tahun 2015. Z mempunyai teman di sini (Lhokseumawe), ada orang Aceh juga," ujar Oke.

Bedasarkan pengakuan Z, kata Oke, dia akan dibayar Rp2 juta apabila berhasil mengeluarkan warga Rohingya dari kamp untuk dibawa ke Medan. Aksi itu dilakukan Z juga bekerja sama dengan orang lain yang ada di Malaysia, inisialnya HM.

Namun, kata Oke, Z dan HM juga dikendalikan terduga berinisial EM (perempuan, keberadaannya masih dalam penyelidikan). "Dia memberikan imbalan kepada JR dengan DA untuk mengambil wanita Rohingya yang ada di kamp dan mereka berangkat dari Medan. Selanjutnya, mereka menghubungi seseorang yang ada di tempat pengungsian, tapi sejauh ini orang dimaksud itu belum diketahui identitasnya, masih dalam proses penyelidikan".

"Mereka (JR dan DA) menghubungi agar sejumlah wanita Rohingya itu untuk keluar dari belakang BLK yang kemudian dijemput oleh kedua terduga tersebut. Ini jaringannya ada dari Malaysia, Medan maupun orang di dalam kamp itu sendiri untuk menerima kontak dari pihak luar," ungkap Oke.

Oke menjelaskan, pada dasarnya ketika pengungsi Rohingya terapung di laut dalam kondisi membutuhkan pertolongan, secara kemanusiaan wajib dibantu. Tapi setelah itu selesai seperti saat ini maka seharusnya diambil alih oleh UNHCR. 

"Kalau kita tim Satgas Penganganan Rohingya bersifat membantu dari segi pengamanan. Kita mempunyai kewajiban moril untuk menjaga (mereka) ini supaya tidak jatuh kepada pihak sindikat," ujar Oke Kistiyanto.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.