26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tolak Dana Desa Rp2,5 Miliar, Bagaimana Kehidupan Suku Baduy?

...

  • PORTALSATU
  • 17 February 2019 16:00 WIB

Kehidupan Suku Baduy. Foto: Lucky Pransiska/Kompas.com
Kehidupan Suku Baduy. Foto: Lucky Pransiska/Kompas.com

Suku Baduy menolak dana desa yang dikucurkan pemerintah. Masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ini menolak dana desa senilai Rp2,5 miliar.

Dana desa tersebut dikucurkan untuk pembangunan infrastruktur guna menunjang pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Jumlah dana desa yang dikucurkan untuk masyarakat adat Baduy lebih banyak jumlahnya dibandingkan desa lain. Sebab wilayah adat Baduy tergolong dalam kategori desa yang tertinggal.

Namun, masyarakat Baduy merasa khawatir pembangunan akan merusak kelestarian adat. Mereka khawatir jika menerima dana desa ini maka akan berimbas kepada nilai-nilai budaya dan adat.

"Penolakan itu, karena pembangunan dikhawatirkan merusak kelestarian adat," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Pemkab Lebak, Rusito.

Penolakan dana desa Rp2,5 miliar ini ditolak atas keputusan adat Suku Baduy. Pemda pun menghormati dan menghargai keputusan adat warga Suku Baduy. "Kami sangat menghargai dan menghormati penolakan masyarakat Baduy itu," kata Rusito.

Dana desa tersebut kini masuk ke anggaran kas daerah. Dana desa masyarakat adat Baduy ini kemungkinan akan digunakan untuk pengalokasian tahun 2020 untuk desa lain.

Selama ini pemukiman adat Baduy seperti di Desa Kanekes, sangat tertutup dari kehidupan modern, termasuk pembangunan jalan, penerangan listrik dan alat-alat elektronik.

Masyarakat Baduy juga sangat patuh dan taat terhadap leluhurnya.

Suku Baduy merupakan suku asli dari Provinsi Banten, tepatnya Kabupaten Lebak. Suku Baduy sangat menjaga budaya dan tradisi.

Suku Baduy terdiri dari 2 kelompok, yaitu suku Baduy dalam dan suku Baduy luar.

Kelompok Baduy dalam atau Tangtu ini adalah kelompok yang tinggal di dalam hutan dan juga paling patuh pada aturan yang sudah ditetapkan oleh kepala adat mereka.

Ciri khas dari suku Baduy dalam ini adalah pakaiannya yang tidak berkancing dan berkerah, tidak memakai alas kaki, dan pakaiannya berwarna putih atau biru tua.

Suku Baduy dalam ini juga tidak mengenal teknologi, uang dan sekolah sehingga hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa asli mereka, yaitu bahasa Sunda dan membaca huruf atau aksara Hanacara.

Karena tidak boleh menggunakan peralatan dari luar tempat tinggal mereka, maka suku Baduy dalam ini membuat sendiri jembatan bambu di desa mereka.

Berbahan bambu dan ijuk untuk mengikat bambunya menjadi satu, mereka memiliki jembatan bambu yang kuat.

Berbeda dari suku Baduy dalam, suku Baduy luar ini tinggal di daerah yang letaknya mengelilingi wilayah tinggal suku Baduy dalam.

Suku Baduy luar ini juga sudah mengenal kebudayaan luar seperti sekolah dan uang.

Pakaian yang dipakai oleh suku Baduy luar ini juga berbeda dengan suku Baduy dalam, yaitu berwarna putih.

Jika ingin melihat secara langsung kehidupan suku Baduy, kamu bisa berwisata ke kampung Baduy yang ada di Lebak, Banten.

Penulis: Linda Rahmadanti.[]Sumber: gridhot.id/antaranews

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.